tanggal 25 Februari 2012 kemarin ibuku pergi kerumah temannya yang ada diyogyakarta tapi aku nggak mengerti apa urusan mereka. Yang penting aku ditinggalin
duit dan terutama bisa berduaan dengan pacarku yang bernama Ayu. Saat itulah kejadian yang benar benar nggak akan aku lupakan ini terjadi.
Saat ibuku berangkat ke yogya sekitar jam 16.30 aku segera mengambil sepeda federalku dan pergi kerumah Fitri sahabat pacarku yang jarak rumahnya sekitar satu kiloan. Saat sampai dirumah Fitri aku langsung menyuruh Fitri menjemput Ayu sementara aku menunggu dirumahnya Fitri.
Saat menunggu aku bermain dengan adik Fitri yang masih kelas 5 SD. Adik Fitri bernama Mala. Dia kelas 5 SD tapi sudah seperti anak kelas 3 SMP, bongsor dan sexy. Susunyapun sudah seperti anak remaja, ukurannya 32 A tapi fikiranya masih anak kecil. Tingginyapun sama hampir sama seperti kakaknya malahan tinggi Mala. Saat itu orang tua Fitri pergi keMatahari Klaten dan mereka berdua ditinggal pergi. Aku dan Mala bermain diruang tamu yang agak tertutup dari luar sambil nonton tv. Aku duduk disebelah Mala yang juga duduk disebelahku. Saat itu Mala memakai daster longgar dengan rok mini sepaha sehingga saat dia duduk seperti saat ini akan tersingkap. Paha mulusnya kelihatan hingga celana dalamnya yang berwarna putih kelihatan. Karena pemandangan itu kontolku langsung tegang mendesak celana jinsku.
“Mala main pengantinan yuk” ajakku berusaha untuk mencari cara agar dapat meraba tempik Mala atau susunya.
“Mas In main apa sih?” kata Mala nggak mengerti.
“Sini, saat ini pengantin cowoknya sedang main sayang sayangan dengan pengantin ceweknya” kataku sambil berusaha menariknya kepangkuanku menghadapku, diapun diam menurut. Saat sudah dipangkuanku rok mininya aku singkapkan agar kontolku pas ditempik Mala.
“Lalu cowoknya mencium susu ceweknya seperti ini” kataku sambil menurunkan tali dasternya yang longgar, mala diam saja. Aku melorotkanya sampai melewati tangannya lalu melepaskan daster atasnya. Ternyata Mala tidak memakai kaos dalam sehingga langsung telajang dada ketika dasternya aku pelorotkan.
Bentuk susu kecil Mala sungguh luar biasa indahnya. Kecil mungil masih sebesar jambu biji dengan puting coklat mudanya mencuat sebesar biji kacang tanah. Sekitarnya coklat muda melingkar mengelilingi putting yang mencuat. Aku sungguh terpesona
Aku lalu menunduk dan menjilat puting imut Mala dan kemudian mulai melumat lumatnya gemas.
“Mhh mas In geli, susu Mala kok diisep sih” katanya polos banget.
“Kan yang cowoknya sayang sama ceweknya” kataku lalu melanjutkan melumati susu Mala kanan kiri bergantian. Lama kelamaan Mala mulai menyukainya karena kepalaku dipeluknya erat erat.
Tanpa dia sadari tanganku mulai meraba tempiknya yang masih terlapis celana dalam putih. Aku mulai meraba dari atas lalu mulai kebawah. Disaat sampai di depan lubangnya yang kecil dan juga pas didepan kontolku, aku membuka celanaku dan menarik keluar kontolku dari celana dalamku dan membiarkannya mengenai tempiknya. Aku lalu menyelipkan kontolku kedalam celana dalam Mala lalu menggesek gesekkannya pelan pelan. Mala nggak sadar karena keenakan susunya aku lumat lumat.
“Mhhh mas In apa nih yang ngganjel” katanya lalu tangannya memegang kontolku yang masuk kedalam celana dalamnya menggesekkan dengan tempik Mala.
“Nggak apa apa Mala, saat ini cowoknya mau buat adik sama ceweknya” kataku sambil terus menggesek gesekkan kontolku ditempik Mala. Tangan Mala aku naikkan lagi dan aku kembali melumat susu Mala dan juga mempetting Mala hingga kurasakan lama lama tempik Mala basah juga. Mungkin karena keringat atau cairan apa aku nggak tau.
Kudengar diluar ada becak yang datang didepan rumah Fitri. Kudengar juga suara ibunya Fitri sedang membayar ongkos becak. Aku lalu buru buru menurunkan Mala dan memasukkan kontolku kedalam celana dalamku lalu menutup resletingnya.
“Mala naikkan dastermu nanti dimarahi mama lho tuh mama dateng” kataku lalu menarik tali daster Mala keatas.
“Iya mas, mama dah dateng” kata Mala polos lalu keluar menghampiri mamanya.
“Ahh syukurnya” kataku dalam hati karena hampir saja ketahuan. Tenang deh ntar kamu juga dapet bagian juga kata hatiku sambil membelai kontolku yang masih ngaceng.
“Eh Indra lagi nunggu Fitri yah, mana Fitri?” kata mamanya Fitri ramah karena aku sudah sering main kesana
“Lagi jemput Ayu bu lek” kataku.
“ooh ya sudah” lalu Iapun masuk kekamarnya.
“Mas lain kali main lagi yah kayak tadi” kata Mala.
“Iya sayang tapi jangan bilang siapa siapa yah” kataku lalu meremas susunya yang kelihatan mengintip menggoda.
“Ahhh mas In sakit tau” kata Mala merengut sambil menutupi susunya.
“Jangan bilang bilang yah” kataku lalu Mala mengangguk dan menyusul mamanya kekamar. Aku kembali menunggu Fitri.
Tak lama kemudian Fitri datang sambil membonceng Ayuku yang kusayang.
“Eh say kamu sudah izin kalau mau nginap?” tanyaku setelah Ayu datang dan duduk disampingku.
“Sudah sayang, aku izin kalau akan nginap dirumah Fitri” katanya.
“Ya sudah deh beres kalau gitu” kataku
“Eh sekarang kita kerumahnya Fandi lalu keinternet bareng” kataku.
“Ya sudah kalau gitu aku ambil sepedaku dulu dan pamit kemama” kata Fitri masuk kedalam dan tak lama keluar membawa sepedanya disusul ibunya.
“Bu lek kami main dulu yah” kataku berpamitan kepada mama Fitri lalu kami bertiga langsung pergi bareng kerumah Fandi pacar Fitri.
O iya aku belum memperkenalkan diriku, Ayu dan juga teman temanku. Namaku Krishna. Aku bersekolah sebuah madrasah di Klaten kelas 1. Kata teman temanku aku orangnya mirip bintang film Bollywood tapi yang mana aku sendiri nggak merasa begitu. Tinggiku sekitar 173-175cm. Aku tinggi karena aku sering latihan Tae Kwon Do. Penampilanku juga gaul dan funky jadi nggak kampungan.
Ayu siswi kelas tiga di SMP Negri 4 Klaten. Ayu orangnya tinggi semampai(sekitar 160cm), berambut panjang dan juga berkulit kuning langsat bodynya pun sangat sintal jadi kalau dinilai dia dapat 9, nggak 10 karena aku belum pernah bersetubuh dengannyaJ. Dia kalau diamati persis sekali dengan Nilam Koesworo penyanyi dangdut ibukota, dandanan Ayu juga gaul dan sexy menambah nilai lebih baginya saja. Ayu juga banyak yang mengejar terutama teman sesekolahnya tapi dia lebih memilihku. Ayu juga montok, BH nya berukuran 32b dan pantatnya membulat indah.
Kalau Fitri nggak kalah cantik dari Ayu tapi Fitri agak pendek dan juga hidungnya nggak semancung Ayu. Dia mirip Lyra Virna model dan juga presenter Tv itu. Dia juga sexy tapi sayang susunya masih imut maklumlah masih kelas dua SMP. Sekolahnya di SMP Negri 3 Klaten jadi nggak sama dengan Ayu. Kalau Fandi anak kelas satu diSMU Negri 3 Klaten orangnya tampan dan berkulit putih. Dia mirip sekali dengan kiannya Westlife tentu juga banyak yang menginginkan Fandi menjadi cowoknya.
Setelah sampai dirumah Fandi kami langsung pergi keluar jalan jalan berempat. Aku membonceng Ayu dan Fandi membonceng Fitri dengan sepeda federal kami masing masing. Suasana malam itu benar benar romantis banget. Kami berempat langsung menuju warnet LUV yang dekat dengan jarak rumah Fandi. Kami berempat memang memiliki hobby yang sama yaitu catting diinternet atau membuka situs BF. Setelah puas kami berempat keluar dari warnet dan menuju kerumahku.
Kami berempat menuju kerumahku dengan sepeda. Setelah sampai Fandi dan Fitri menuju kamarku. Aku cuma tersenyum geli.Pasti deh mereka mau peting lagi kataku dalam hati. Aku lalu menutup pintu rumahku dan memadamkan lampu ruang depan agar telihat seperti kosong.
Aku dan Ayu lalu duduk dilantai ruang makan beralaskan tikar sambil nonton tv. Ayu duduk didepanku sambil rebahan didadaku.
Lagi asyiknya memeluk Ayu aku mendengar teriakan kecil Fitri. Aku lalu melihat apa yang terjadi didalam kamarku.Aku langsung menyibakkan tirai kamarku yang menutupi kamar tidurku. Aku cuman bisa terdiam saat menyaksikan Fitri ditindih Fandi dengan telanjang bulat. Fitri dibawah seperti merasakan kesakitan namun juga kenikmatan. Ternyata tadi Fandi menusuk tempik Fitri dengan kontolnya. Kulihat cairan putih kental bercampur merah darah diselakangan Fitri. Ternyata Fitri masih perawan. Aku lalu keluar kamar nggak mau mengganggu kenikmatan mereka. Aku lalu kembali keruang makan dan kembali memeluk Ayuku.
“Ada apaan sih mas In?” tanya Ayu penasaran
“Nggak mereka lagi kawin”kataku. Saat itu terdengar rintihan rintihan antara kesakitan dan kenikmatan lirih.
“Sshhh.. aahkkhh.. aahkkh.. uuhh” desahan itu terdengar menggairahkan.
“Dengar nggak kamu yang?” tanyaku
“Iya mas, asyik yah kayaknya. Dah kebelet kali” kata Ayu
“Cobain yuk, kayaknya enak deh” kataku
“Iya tapi jangan disini. Dikamar aja yah” kata Ayu
“Iya kita kekamar sebelah” kataku lalu bangkit berdiri sambil menuju kamar sebelah diikuti Ayu.Sesampai dikamar aku lalu menyibakkan rok Ayu lalu melorotkan celana
panjangku dan celana dalamku sekalian hingga lepas. Kontolku tegak mengacung acung keras karena tidak ada penghalang. Saat rok Ayu tersibak langsung terlihat tempiknya yang mungil tetapi rimbun dengan rambut halus karena tadi celana dalamnya sudah aku lepas dan kukantongi. Aku lalu melepas rok mini Ayu dengan menarik resleting belakangnya. Lepaslah sudah penghalang kelamin kami tinggal atasan kami. Kami lalu saling melumat dan memainkan lidah kami seperti kesetanan karena kami sudah terangsang. Kontolku aku gesek gesekkan diperut Ayu yang mulus. Ahhh nikmatnya helemku tergesek kulit mulus. Tanganku lalu melepas kaos singlet Ayu dengan mengangkatnya keatas melewati kepala kami. Sekarang Ayu tinggal memakai BH birunya. Aku lalu melepaskan baju atasanku sampai aku bugil. Tanganku meraih kepunggung Ayu dan meraih kaitan BH Ayu lalu melepasnya dan membuang BH Ayu kelantai kamar. Kami lalu naik keranjang berdua. Aku langsung menindih Ayu dan melumat puting kanan Ayu.
“Ugh.. masshh” rintihan Ayu sangat indah didengar. Kulumat puting Ayu kanan kiri bergantian sementara kontolku aku gesekkan nail turun diselakangan dan tempik Ayu lalu aku menurunkan ciumanku keleher putihnya Ayu kemudian membuat cipokan yang memerahkan leher itu dibeberapa tempat. Setelah puas membuat kenangan untuk Ayu dilehernya sebagai tanda bahwa malam ini kami lagi gituan lalu aku menjilat dada atas Ayu hingga jilatanku sampai pada putingnya yang merah kecoklatan. Aku menjilatinya sebentar lalu aku melumatinya bergantian kanan kiri kanan kiri sambil aku remas remasnya. Bila aku melumat yang kiri tanganku meremas yang kanan tapi bila aku melumat yang kanan maka aku meremas yang kiri sehingga susu Ayu semakin keras dan mumbul.
Setelah puas aku nyusu aku lalu menjilat perut Ayu sebentar sampai jilatanku mengenai bulu tempiknya.Terasa geli saat bulunya mengenai hidungku. Aku lalu menjilati lipatan membelah merah ditempik Ayu.
“Mmhhh.. sshh.. aaahhh.. maasshh geli” rintihan Ayu menggemaskan. Saat aku menjilati sambil terkadang menyedot nyedotnya. Basah sekali ditempiknya. Aku lalu menyelusupkan lidahku ditempik sempit Ayu lalu menjilatinya dengan cara mengeluar masukannya.
“Aahhh.. maasshh geeliii” rintihanya saat kujilati. Setelah aku puas menjilati tempik Ayu lalu aku berlutut didepanya.
“Yang emutin dong iniku” kataku sambil memegangi kontolku.
“Emoh ah geli aku” katanya sambil begidik geli.
“Nggak apa apa sayang, ayo dong” aku sedikit memaksa sambil mendorong pinggangku maju dan mendekatkan kepala Ayu keselakanganku. Ayu lalu mulai menjilati helm kontolku. Geli bercampur enak mulai kurasakan. Lama lama Ayu mulai memasukkan kontolku kedalam mulutnya. Mulanya kena giginya. Sakit tapi enak menggelikan.
“Ahh yang jangan kenain gigi” kataku sambil memegang kepala Ayu. Ayu terus saja melumat lumat kontolku sambil sesekali melirik kearahku yang merem melek keenakan.
“Enak yah say” katanya sambil tertawa kecil.
“He eh terusin dong” aku meminta kembali lalu Ayu ngemut kontolku lagi. Kali ini aku memaju mundurkan pinggangku seperti menyetubuhi mulut Ayuku. Sensasinya antara enak dan sakit karena kena giginya tapi malah membuatku merasa nikmat. Setelah puas dikemutin Ayu lalu aku melepaskan kontolku dari mulut Ayu.
“Yang dimulai aja yuk, aku sudah nggak tahan nih yang” kataku lalu mencium bibir merahnya. Dia membalas kecupanku lalu menjawab.
“Iya, Ayu juga kok sayang. Aku sudah penasaran tapi pelan pelan yah yang” katanya manja.
“Iya deh sayang” jawabku lalu aku memposisikan diri diatas tubuhnya lalu mengepaskan kontolku dilubang tempik Ayu. Setelah pas dilubangnya lalu aku coba mendorong pelan pelan.
“Uhkhh…” ternyata susah juga maklum kontolku memang gede(18cm dengan diameter 5 cm). Setelah tiga kali mencoba dorong akhirnya kepala kontolku masuk juga. Walau baru kepala kontolku Ayu kelihatan meringis menahan sakit sepertinya. Aku lalu mencoba mendorong pelan sekali takut menyakiti Ayu.
“Sleeph…” pelan pelan kontolku masuk tapi setelah 1/3 nya kontolku terhalang selaput tipis sekali seperti mencegah kontolku masuk lagi.
“Yang apaan nih kok nggak bisa masuk lagi?” tanyaku penasaran.
“Nggak tau lah mas” jawab Ayu sambil menggigit bibir menahan perih lalu aku menghentakan pinggangku keras keras kedalam tempik Ayu.
“Aaahhhkkkhhhh…” teriaknya kesakitan saat semua kontolku masuk kedalam tempiknya. Saat kontolku masuk semua seperti ada sesuatu yang robek tadi.
“Aduh mas tahan sebentar” kata Ayu sambil memegangi pinggangku erat.
“Tahan yah sayang, kata orang bila pertama kali akan sakit gini” kataku tetap menindihnya. Rasanya sempit, enak, peret dan juga seperti diremas remas pelan pelan oleh dinding hangat dan lunak. Pokoknya enaaakk sekali. Setelah Ayu agak enakan nggak merintih lagi aku mulai mencoba menggoyangkan pinggangku naik turun walau masih pelan sekali karena peretnya tempik Ayu.
“Sleeephh.. bleess.. slleep.. blleess.. sleep” pelan pelan kontolku keluar masuk pelan pelan sedangkan Ayu menggigit bibir bawahnya menahan perih.
“Mmhhh maasshhh sakiithh” katanya pelan sekali sambil merintih rintih.
“Iyahh.. sayanghhh.. tahan yah nanti juga ilang” kataku diselingi desahan nikmat dan linu dikontolku.Rasanya seperti diremes keras keras. Setelah agak lama menaik turunkan kontolku, tempik Ayu sudah agak lancar. Ayupun sudah nggak merintih kesakitan lagi bahkan rintihan sakitnya berubah menjadi desahan keenakan.
“Maasshh.. aahhh.. oohh.. sshhh.. aahhhh.. iaahhh” desahannya sambil
penggangnya dinaikkan saat kontolku keluar tinggal helemnya saja lalu kaki indahnya menjepit pinggangku erat erat.
“Aaahhh… sshh… aaahh… sshhh… aaahkhhh mass In enaakkhh sekarang cepetin dong kocokanya Ayu geli nih.. aahhh.. aaahhh.. aaa” katanya diantara desah sungguh menggoda.
“Iyah sayang akuu jugaaa.. aaahhh.. oohh.. mmhhh” desahanku juga geli geli nikmat dikontolku. Tiba tiba…
“Masshhh In.. Ayyuu aahkk.. ohhhkkhh” desahanya
“Ayu knapa sayanghh…”jawabku.
“Aaahh… oohhh Ayu mau pipis… iaahhhh” lalu sseerrrr.. serrr… serrr. Ada cairan hangat dan kental mengenai helemku. Oh rupanya Ayu keluar.
“Aahhkhh… oohhh tahan masshh bentaaarrr… aaaaaa…” teriaknya saat aku tetap menaik turunkan pinggangku saat Ayu keluar. Rupanya geli banget. Lalu aku berhenti sejenak menunggu Ayu yang kepayahan karena pejuhnya keluar tadi tanpa mencabutnya.
“Enak nggak sayang” tanyaku sambil membelai belai rambut panjangnya.
“Ehmm nggak tau lah” jawabnya malu malu. Kaki Ayu tetap menjepit pinggangku malah semakin erat. Setelah agak lama kami istirahat sambil saling berciuman memainkan lidah,aku mulai menggoyangkan pinggangku naik turun lagi. Kembali Ayu mendesah desah keenakan.
“Oohh… aahhh… maass In teruusshhh iyaahhh gitu maasshhh jangan berenti” desahannya keenakan sementara itu aku mendengar ada dua suara orang seperti habis berlari jauh lalu aku menoleh kesamping kanan. Disamping kananku ada dua orang yang sedang mengawasi kegiatan kami. Ternyata Fandi dan Fitri berdiri berdampingan sambil melihat kami. Fitri menyandarkan kepalanya didada Fandi sedangkan tangan Fandi merangkul bahu Fitri.
“Napa brenti sih mas” kata Ayu nggak sabaran.
“Itu ada Fandi dan Fitri” kataku
“Eh kalian dah enakan belum” tanya Ayu kepada mereka tanpa malu malu lagi disaat sedang aku setubuhi.
“Iyah enak kok” jawab Fandi
“He-eh” sahut Fitri
“Ya sudah tunggu kami yah” sambung Ayu lagi
“Yuk mas lanjuti Ayu belum puas nih” Ajaknya kepadaku lalu aku kembali menaik turunkan pinggangku.
“Aahhh… oohhh… eennaaakkhhh… maasshhh In terusin kenthu Ayu sampai puas” desahan Ayu dibesar besarkan karena ada Fandi dan Fitri. Aku tidak peduli karena aku merasa ada yang mau keluar dikontolku.
“Yaanghhh aku mau keluar nih” kataku lalu aku menggenjot tempik Ayu semakin keras.
“Iya… sama sama masshh… aaahhhh…” jawabnya disertai desahan karena Ayu juga mau sampai.
Slepph… sleephh… sleepp, kontolku semakin cepat keluar masuk ditempik Ayu karena sama sama merasa nggak mau berenti.
Sreett… sreett… ssrreeeettt… pejuhku keluar didalam tempik Ayu sebanyak empat kali. Tak lama kemudian disusul Ayu yang memeluk tubuhku erat erat disusul helemku seperti disiram cairan lengket dan hangat. Setelah agak mereda orgasme kami aku langsung ambruk disamping Ayu sambil terengah engah. Sedang Ayu terbaring lemas sambil tersenyum puas.
“Enak yah tadi mainnya?” tanya Fitri sambil duduk disamping Ayu.
“He-eh… nikmat banget sampai kepayahan” kata Ayu.
Kami berempat lalu keluar dari kamar dan berbaring diruang makan sambil telanjang bulat.Kami sengaja bertelanjang karena kami merasa sudah nggak ada jarak lagi diantara kami berempat.
“Kamu bikin aku kewalahan juga yah dik” kata Ayu sambil membelai belai kontolku.
“Iya nih bikin orang dewasa nggak nahan aja” sahut Fitri sambil meremas punya Fandi dengan gemes.
Aku hanya meringis saja kegelian sambil memeluk kepala Ayu sedangkan Fandi tertawa pelan.Setelah kejadian itu kami sering melakukannya dikamarku,kamar Fandi atau juga bila hanya kami berdua sering melakukan dikamarku karena rumahku kalau malam sepi. Setelah empat bulan Fitri hamil karena Fandi sering mengeluarkannya didalam dan aku sering pakai kondom. Sedangkan Mala lebih sering aku kerjain sampai Mala keluar atau aku suruh ngemut kontolku bila rumah Ayu sepi atau bila Mala sedang sendirian dirumah.
kopi dari tetangga sebelah
Kumpulan cerita seks
Tampilkan postingan dengan label MALAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MALAM. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 Oktober 2013
Ngentot Saat Malam Minggu
cerita seks-Gelapnya Dunia Malam
Cerita ini adalah sebuah kejadian nyata yang terjadi sekitar dua tahun yang lalu saat saya masih asyik berkecimpung di dunia pergaulan malam, dunia yang tak jauh dari keremangan lampu diskotik dan cafe, narkoba dan seks bebas. Dumangdati kalau menurut istilah teman-teman saya, DUnia MAlam NGgak aDA maTInya. Waktu itu ibukota kita baru saja dilanda gelombang reformasi dengan gerakan demonstrasi dan kerusuhan terjadi di mana-mana. Dan kerusuhan itu tidak hanya menghancurkan gedung-gedung saja tetapi juga menghancurkan rencana pesta ulang tahun salah seorang teman saya di sebuah diskotik besar di kawasan Ancol. Padahal rencana pesta itu sudah tersusun rapi, dari transportasi (penjemputan peserta pesta), perizinan (izin pulang pagi untuk beberapa teman kami yang kaum hawa), dan konsumsi (menu utama pesta, narkoba) semuanya sudah tersusun rapi.
Semua berawal saat saya menelepon diskotik yang bersangkutan untuk memesan tempat, karyawan yang berbicara dengan saya memberitahu bahwa diskotik mereka akan tutup selama beberapa hari dengan alasan keamanan yang belum terjamin. Kontan saya memberitahukan kepada teman-teman lainnya untuk melakukan perencanaan tindakan selanjutnya. Hari sudah mulai sore dan belum ada jawaban dari teman-teman yang lain, saya sudah mulai berpikir bahwa pesta ini akan dibatalkan sehingga saya mulai menyusun rencana lain untuk pergi nonton dengan Nelly, seorang gadis yang belakangan ini sedang dekat dengan saya. Tetapi menjelang malam ada berita bahwa pesta tetap akan diadakan, teman saya telah memesan sebuah apartemen di kawasan perumahan yang tidak jauh dari tempat rencana semula. Semua peserta diharapkan dapat berkumpul di sana secepatnya. Saya mulai bimbang karena kami sudah telanjur mau nonton. Akhirnya saya berinisiatif mengajak Nelly untuk bergabung dengan teman-teman yang lain setelah selesai nonton, dan dia setuju.
Hari sudah mulai malam saat kami sampai di tempat tujuan, dari luar pintu saja sudah terdengar alunan musik house yang cukup kencang. Dan keadaan di dalam tidak jauh berbeda, tampak beberapa teman kami pria dan wanita sedang asyik bergoyang mengikuti irama house music tersebut. Sementara beberapa teman lainnya sedang mengelilingi meja makan yang sudah penuh dengan perlengkapan pesta, dari minuman biasa, minuman keras, pil ekstasi, shabu-shabu dan perlengkapannya, beberapa keping CD dan kaset house music dan beberapa pak kondom Durex.
“Ayo nggak usah malu-malu kalian udah telat nih yang laen udah pada terbang tuh,” kata Yoke sang yang punya acara sambil memberikan beberapa butir pil ekstasi ke tanganku. Aku menerimanya dan sambil tersenyum memberikan sebutir kepada Nelly. Kami memang berasal dari dunia yang sama, dunia malam penuh narkoba, jadi hal itu sudah bukan hal yang asing bagi Nelly.
“Happy Birthday Bro.”
“Thanks,” kataku membalas Yoke sambil mengambil gelas minuman untuk meminum pil-pil tersebut.
Aku kemudian menuntun Nelly untuk bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah, aku duduk di sebuah sofa dan Nelly duduk di pangkuanku. Dan tak lama kemudian kami pun sudah ikut terbang bersama kawan-kawan lainnya diiringi alunan house music. Lagu demi lagu dan jam demi jam berlalu, kami pun semakin merapatkan tubuh kami saat ruangan menjadi semakin dingin dengan udara malam menjelang pagi ditambah semburan AC. Semakin rapat sampai akhirnya aku dapat merasakan halusnya pipi Nelly menempel di pipiku. Aku pun tak dapat menahan diri untuk tidak mencium pipi halus tersebut, sesuatu yang sudah ingin kulakukan sejak lama. Nelly tampak terkejut saat bibirku menyentuh pipinya, ia pun menoleh dan memandangiku. “Shit what have I done,” kataku dalam hati takut ia marah. Tetapi sebaliknya, ia malah menjulurkan tangannya ke belakang kepalaku dan mendorongnya maju untuk lebih merapatkan bibirku ke pipinya.
Menit-menit berikutnya ia malah menggeser pipinya dan menggantikannya dengan kedua bibir mungilnya. Kami pun berciuman dengan intens diiringi sedikit permainan lidah. Selang beberapa saat aku sudah mulai berani menjelajahi leher jenjang Nelly dengan lidahku, memberi sedikit kecupan-kecupan di lehernya dan menggelitik daun telinganya. Udara ruangan yang saat itu sudah penuh dengan berbagai macam polusi tetap tidak dapat mengalahkan wangi tubuh Nelly. Akupun menciuminya dengan makin bersemangat saat tangan Nelly mengusap-usap bagian belakang kepalaku. Kedua tanganku mulai merayap naik ke perutnya yang datar, halus dan indah di balik kaos ketatnya. Badan Nelly memang sungguh indah dan menarik, maklum ia adalah seorang guru senam aerobic dan body language. Proporsinya benar-benar pas dan mantap, ditunjang oleh face-nya yang juga manis, jadilah ia seorang dewi di mataku.
Tanganku sudah mulai merayap masuk ke dalam kaosnya dan menyentuh halus kulit perutnya saat tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka dan sepasang teman kami tampak berjalan keluar sambil berpelukan mesra. Nelly seperti tersadar, ia memegang tanganku dan menghentikan kegiatan kami. Apakah aku sudah terlalu jauh bergerak? Apakah ia akan marah? Menit selanjutnya ia menegakkan badannya meninggalkan badanku dan merapikan kaos ketatnya sambil menebar pandangan ke sekeliling ruangan. Tampaknya bukan hanya kami berdua yang sedang asyik masyuk, beberapa teman kami pun sudah duduk berpasang-pasangan dan asyik dengan kegiatan mereka masing-masing.
“Gue pusing nih,” katanya tiba-tiba sambil memegang kepalanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gak tau, obatnya kali ya gue mau istirahat bentar ah,” katanya lagi sambil berdiri meninggalkanku di sofa.
“Eh mau ke mana?”
“Ke kamar tidur sebentar.”
“Oke jangan lama-lama ya tidurnya,” kataku sambil membetulkan posisi dudukku di sofa.
“Eh temenin dong masa gue sendirian,” katanya, kali ini ia meraih tanganku, menarikku bangkit dari sofa dan menuntunku ke kamar yang baru saja ditinggalkan teman kami.
Aku mulai mengerti maksudnya saat kami sudah berada dalam kamar, menguncinya dan mulai berciuman bibir dengan lebih intens lagi, semakin lama pelukan kami pun semakin erat. Aku mulai menggerakkan tanganku ke belakang tubuhnya, merayap masuk ke dalam kaosnya dan mengusapi punggungnya. Ia pun melakukan hal yang sama. Terasa betapa kenyal buah dadanya terhimpit di depan dadaku. Akhirnya saat-saat yang paling kutunggu beberapa waktu terakhir ini. Bermesraan dan bercinta dengan Nelly. Tanganku semakin bebas bergerak merayapi punggungnya saat aku berhasil melepaskan kaos ketatnya, naik turun melewati seutas tali pengikat bra yang masih terkait kencang. Sementara di bagian depannya kedua belah buah dada Nelly yang kencang semakin nampak menggiurkan untuk dinikmati. Aku mulai menurunkan ciuman-ciumanku ke arah leher Nelly, berputar-putar sebentar di sana dan semakin turun ke lembah halus yang memisahkan kedua belah bukit indahnya. Sementara tangan Nelly terus mengusapi daerah belakang kepalaku sambil sesekali mendorong kepalaku ke depan untuk lebih merekatkan bibirku ke daerah dadanya. Tangannya yang satu lagi bergerak menyusuri punggungku dari dalam kemeja yang kugunakan.
Akhirnya Nelly menjatuhkan badannya ke ranjang dan memandangku dengan pandangan yang sangat menggoda, pandangan yang tidak dapat kulupakan sampai sekarang. Aku pun ikut menjatuhkan badanku menyusulnya ke ranjang, kedua tangannya bergerak menyusuri dadaku yang cukup bidang, dan mengeluarkan satu persatu kancing kemejaku dari lubangnya, melepas kemejaku dan membuangnya entah kemana. Aku semakin meningkatkan seranganku ke sekwilda-nya (sekitar wilayah dada), menyusuri lembah dan bukit indahnya yang masih tertutup bra dengan lidahku dan meremas-remas salah satu buah dadanya dengan tanganku. Merasa belum puas, aku pun meraih kaitan bra Nelly di belakang tubuhnya, cukup repot karena ia sedang dalam posisi terlentang di ranjang. Merasa bahwa aku kerepotan, Nelly pun membantu dengan mengangkat badannya sedikit dan menuntun jari-jariku untuk menemukan kaitan branya.
Sebentar saja kedua bukit indahnya sudah terpampang jelas di mataku, berlapiskan kulit putih halus dengan kedua puting susu mungilnya berwarna merah muda. Aku pun menemukan daerah-daerah baru untuk dieksplorasi dengan lidah dan jari-jemariku (minyak kali dieksplorasi). Aku menikmati hampir seluruh bagian dadanya dengan lidahku kecuali kedua buah puting susunya, aku membuatnya penasaran. Itu terasa saat ia bergerak-gerak sedikit setiap kali ujung lidahku hampir mengenai putingnya, mengharapkanku akan segera melumatnya dengan lidahku, tetapi tidak belum waktunya. Lidahku terus bergerak bolak-balik diantara kedua buah dadanya, naik dan turun tapi tetap berusaha menghindari menyentuh kedua putingnya.
Setelah beberapa menit, aku pun menegakkan kepalaku untuk melihat ekspresinya. Ia tetap memandangiku dengan pandangan yang tidak dapat dilukiskan. Nelly tampak sungguh menggoda dengan salah satu jari di dalam mulutnya. Kurasa ia menghisapinya untuk menambah gelombang rangsangan yang melandanya. Aku pun menurunkan kepalaku lagi, kali ini sasaran lidahku adalah langsung menyentuh putingnya yang kiri. Nelly sedikit terlonjak saat ia merasakan ujung lidahku menyapu halus putingnya dengan tiba-tiba, ia pun menekan kepalaku untuk semakin dekat dengan dadanya. Untuk sementara waktu aku memainkan lidahku di sana, berputar-putar mengelilinginya dan sedikit menjentik-jentiknya, sementara tanganku sibuk memainkan buah dadanya yang kanan. Nelly sudah semakin terangsang karena aku dapat mendengarnya mendesah semakin keras.
Untuk kejutan berikutnya, aku tiba-tiba menghisap putingnya lembut di saat ia tidak menyangka sama sekali. Kembali ia terlonjak untuk beberapa saat dan kemudian semakin dalam menekan kepalaku agar aku tidak melepaskan putingnya dari mulutku. Hal yang sama kulakukan pada puting kanannya aku sangat menikmati lonjakan-lonjakannya saat ia terkejut dengan apa yang kulakukan dengan lidah dan tanganku. Akhirnya aku dapat dengan bebas menikmati seluruh bagian dadanya, memainkan jari-jemari dan lidahku, menjilati dan menghisapi seluruh bagian dadanya bergantian kiri dan kanan, tidak lupa lembah indah di antaranya, lembah yang selama ini hanya bisa kunikmati dari luar saat Nelly berpakaian dengan belahan dada rendah.
Puas dengan kedua buah dadanya, aku mulai memindahkan daerah eksplorasiku turun menuju perutnya yang datar. Lidahku dapat merasakan gerakan halus otot-otot perutnya menerima rangsanganku. Benar-benar perut yang indah. Terakhir kali aku melihat perut seindah ini adalah saat aku bercinta dengan seorang model yang mungkin wajahnya kurang terkenal tapi cukup beberapa kali menghiasi sampul sebuah majalah remaja Ibukota. Sebelum lidahku meninggalkan daerah perutnya, aku meluncurkan sebelah tanganku ke daerah pahanya yang masih tertutup celana jeans. Aku menggerakkannya mondar-mandir menelusuri bagian depan dan dalam pahanya, berkelebat sekilas di depan bagian kewanitaannya menuju sisi satunya, dan kembali lagi. Sampai akhirnya aku berhenti dan mengusapi daerah pribadinya dari luar celananya. Nelly seperti mengerti maksudku, ia menegakkan badannya sedikit dan membantuku membuka kaitan dan retsluiting celananya. Sebentar saja celana itu sudah dapat kutarik lepas, meninggalkan sebuah celana dalam super mini berwarna biru muda bermotif garis-garis masih menempel di badan pemiliknya. Dan aku pun kembali menemukan daerah baru untuk diekplorasi.
Aku kembali menggerakkan lidahku menelusuri daerah perutnya dan bergerak turun ke arah daerah kewanitaannya. Tapi aku tidak berhenti di sana, lidahku terus turun menuju paha kanannya, menelusuri hampir seluruh bagiannya dan terus turun ke betisnya. Kemudian lidahku naik lagi untuk kembali menelusuri bagian dalam pahanya dan naik terus sampai ke daerah pangkalnya. Aku mulai dapat melihat mencium bau harum kewanitaannya dari sini, tampaknya daerah tersebut sudah mulai basah dan mulai mengeluarkan baunya yang khas. Aku berniat menggodanya kembali, lidahku berkelebat cepat dari bagian dalam paha kanannya, melewati daerah kewanitaannya dan sampai di bagian dalam paha kirinya, kembali ke paha kanannya, melewati daerah sensitifnya tanpa menyentuhnya sama sekali, hanya dengan dengusan nafasku saja. Tetapi itu sudah cukup untuk membuatnya terlonjak-lonjak terangsang setiap kali mukaku melewati daerahnya.
Lonjakan paling seru adalah saat akhirnya aku menempelkan bibirku dengan bibir kewanitaannya yang masih tertutup celana dalam sambil menjulurkan lidahku menyapu ke kiri dan kanan membasahi kain tipis yang memisahkan bibirku dengan daerah pribadinya yang paling rahasia itu. Keasyikanku terganggu saat terdengar ketukan di pintu kamar, aku pun beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu itu setelah terlebih dahulu membantu Nelly menutupi tubuh seksinya dengan selimut. Kami sama-sama tidak mau ada orang lain yang dapat menikmati keindahan tubuhnya. Rupanya salah seorang temanku bermaksud mengambil handphone-nya yang tertinggal di dalam kamar. Aku pun mengambilkan barang yang dimaksud sambil kakiku menahan pintu untuk tidak terbuka semakin lebar, memberikan kepada pemiliknya dan kembali mengunci pintu kamar. Mau menelpon kemana sih di pagi-pagi buta seperti ini sampai menggangguku, pada saat ayam jago pun masih bermalas-malasan di tempat tidurnya. Ah itu bukan urusanku, saat ini aku masih punya urusan lain yang lebih penting dan jauh lebih nikmat tentunya.
Nelly menggeser duduknya sampai ke tepi ranjang saat aku kembali berjalan mendekatinya, ia memeluk pinggangku sesaat dan kembali memberikan pandangan khasnya. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya melepaskan kaitan celanaku dan mendorongnya ke bawah lalu mengelus-elus kejantananku yang sudah berdiri tegak siap tempur di balik celana dalam. Tidak puas hanya mengelus, ia kemudian menarik turun celana dalamku dan menghadapkan kejantananku ke mukanya. “Its my turn now, Dear,” katanya sambil mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil seluruh bagian kejantananku. Ciuman-ciuman itu kemudian disusul dengan jilatan-jilatan nikmat yang semakin menambah rangsangan di tubuhku. Andaikan aku tidak sedang berada di bawah pengaruh obat, tentu aku sudah dari tadi mencapai titik kepuasan karena rasa nikmat dan sensasi yang dihadirkan Nelly ke tubuhku. Ouah, benar-benar nikmat.
Rangsangan itu terus bertambah dan menjalari setiap senti tubuhku saat Nelly mulai memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya dan mulai menghisapinya. Ia menghisap, menyedot dan menjilatinya seperti sedang menikmati sebuah es krim yang tidak akan pernah habis. Aku benar-benar menikmati permainan Nelly selama beberapa menit ke depan, sampai aku sudah benar-benar tidak tahan untuk tidak membalasnya. Aku kembali merebahkannya di ranjang dan menggerakkan tanganku ke bawah untuk menarik pertahanan terakhir tubuhnya. Kini kami sudah sama-sama telanjang dan siap untuk melanjutkan pertempuran kami di ranjang. Kembali aku membenamkan kepalaku di antara kedua belah pahanya, menciumi dan menjilati bibir kiri dan kanan kemaluannya. Nelly mendesah setiap kali aku menyentuh kewanitaannya dengan lidahku. Harum kewanitaannya benar-benar tercium menambah keindahan pemandangan di depan mataku, bulu-bulu kemaluannya tampak tercukur rapi di atas klitorisnya. Dan ke sanalah aku mengarahkan seranganku selanjutnya, aku mencumbu klitorisnya dengan kombinasi belaian lidah dan jari-jemariku. Tubuh Nelly semakin menggelinjang dan bergerak-gerak seperti cacing kepanasan. Ia kembali merengkuh kepalaku dan membenamkanya semakin dalam di daerah kewanitaannya sehingga aku susah bernafas dengan bebas.
Menit demi menit berlalu dan aku masih bermain di kewanitaannya, aku memberikan semakin banyak rangsangan kepada Nelly untuk membalas sensasi yang telah ia berikan kepadaku sampai akhirnya ia melonjak, mengejang dan melengkungkan tubuhnya sesaat. Ia telah mencapai orgasme pertamanya. Aku membiarkan ia menikmati gelombang orgasme pertamanya selama beberapa saat dengan terus memainkan lidahku dengan lembut di daerah sensitifnya. Untuk beberapa menit ke depan ia terbaring lemas karena gelombang orgasme yang telah melandanya. “Wow, you are wonderfull,” katanya. Kami memang sering memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi satu sama lain, untuk berlatih memperlancar pemakaian bahasa Inggris kami yang agak jarang dipergunakan. Aku sendiri hampir dapat berbahasa Inggris dengan lancar karena aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang memiliki banyak tenaga dari luar negeri.
Aku merebahkan tubuhku di sampingnya sambil mengecup mesra pipinya. Ia kemudian membalas dan kami pun mulai ber-French Kiss kembali. Ia menjulurkan tangannya ke bawah dan mulai mengusapi kejantananku kembali dan kembali memberikan sensasi yang luar biasa ke dalam tubuhku. Nelly lalu menegakkan badannya, bangkit ke posisi duduk dan kembali mengantar mulutnya untuk bermain-main dengan kejantananku. Aku menikmatinya sesaat sebelum akhirnya menarik tubuhnya ke atas tubuhku. Kami pun ber-sixty nine. Kali ini aku mulai memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaannya, menggerakkannya dengan halus di dalam liang tersebut dan perlahan tapi pasti bergerak menuju titik G-Spotnya. Nelly kembali mengejang saat jariku menyentuh G-Spotnya, ia berhenti bermain dengan kejantananku untuk beberapa saat untuk menikmati rangsangan yang sedang melanda tubuhnya dari titik G-Spot tersebut. Aku dapat mendengarnya mendesah-desah pelan setiap kali aku menggerakkan jariku di dalam liangnya. Dan desahan itu semakin keras saat aku mulai menyertakan lidahku untuk membelai-belai klitorisnya dari luar.
Rangsangan yang menjalari tubuh kami rupanya sudah semakin hebat dan kami pun bergerak lebih lanjut untuk menyelesaikan permainan ini. Theres no way of turning back now Nelly bergulir ke sampingku, memutar posisi tubuhnya sehingga kami dapat berciuman kembali dan kembali menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku. Tangannya menjulur ke bawah menggapai kejantananku untuk dibimbing menuju liang kewanitaannya. Ia mendesah kembali saat ujung kejantananku menyentuh permukaan kewanitaannya, ia menggesek-gesekkannya sebentar di bibir kemaluannya dan mulai menurunkan pantatnya menyambut kejantananku saat ia merasa posisinya sudah tepat. Ternyata foreplay yang lama ini belum cukup untuk membuat kejantananku dapat memasuki kewanitaannya dengan lancar tanpa halangan. Dinding-dinding kewanitaannya terasa begitu kencang menjepit batangku yang berusaha mencari jalan masuk. Rupanya Nelly pun merasakan hal yang sama, ia bergerak-gerak sedikit untuk mempermudah kejantananku mencari jalan. Dan akhirnya setelah beberapa menit bekerja keras seluruh batangku dapat tertanam dengan mantap di liang kewanitaannya.
Kami mendesah nikmat bersamaan dan terdiam sesaat saat ujung kejantananku terasa menyentuh ujung rahimnya. Kurasakan betapa dinding-dinding dalam kewanitaannya begitu erat menjepit dan memijat kejantananku, rupanya inilah gunanya mempelajari senam seks. Nelly pernah menceritakan kepadaku bahwa senam yang satu ini dapat melatih wanita mengatur otot-otot kewanitaannya untuk menghadirkan sensasi yang luar biasa bagi lawan mainnya. Sensasi tersebut berganti sensasi lainnya saat Nelly mulai menggerakkan pantatnya naik turun, membuat kejantananku bergerak keluar dan masuk liang kenikmatannya. Aku pun tak mau diam saja, aku mengangkat pantatku naik dan mendorong kejantananku melesak makin dalam saat Nelly menurunkan pantatnya. Aku mencoba menggesek G-Spotnya dengan kejantananku, dan rupanya berhasil. Tidak hanya itu saja, aku juga menggerakkan kedua tanganku untuk meremas-remas kedua bukit indah dengan putingnya yang tampak di depan mataku sesekali juga aku menghisap kedua puting itu bergantian untuk menambah rangsangan bagi kami berdua.
Nelly mendesah dan bergerak semakin seru setiap kali kejantananku menghantam ujung rahimnya. Semakin lama gerakan kami berdua semakin cepat dan semakin menguras tenaga, sampai akhirnya Nelly mengejang dan melengkungkan badannya kembali. Gelombang orgasme kedua telah melandanya. Ia tampak masih berusaha meneruskan gerakan-gerakan naik turunnya untuk menikmati orgasmenya yang kedua sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tubuhku dan terdiam untuk beberapa saat. Tubuhnya bermandikan keringat, padahal udara ruangan cukup dingin karena hari sudah mulai pagi dan AC yang menyembur kencang. Aku mengambil selimut yang berada di sampingku dan menebarkannya untuk menutupi tubuh kami berdua supaya tidak masuk angin.
“Kamu hebat, aku sudah dua kali sedangkan kamu belum juga,” katanya memecah keheningan diantara kami.
“Mungkin ini karena pengaruh obat,” jawabku.
“Ya, aku yakin narkoba lah yang telah menambah daya tahanku. Lets do our favorite style,” katanya lagi.
Kebetulan kami memang punya gaya favorit yang sama yaitu gaya ******, kami pernah membicarakan hal ini meskipun kami belum pernah melakukannya bersama. Kami hanya bercerita bahwa pernah melakukannya dengan partner kami sendiri-sendiri. Dari situlah aku tahu bahwa seks bukanlah hal yang asing baginya. Kami pun mengambil posisi untuk melanjutkan permainan kami (seperti mau lomba lari saja). Nelly mengambil posisi merangkak di atas ranjang dengan kedua tangan berpegangan pada sandaran ranjang sementara aku mengambil posisi di belakangnya dan mulai mengarahkan kejantananku untuk kembali memasuki liang kewanitaannya. Kali ini aku dapat menanamkan kejantananku di tempat tujuannya tanpa banyak perjuangan, tapi tetap saja terasa betapa otot liangnya meremas dengan kuat setiap senti batangku saat bergerak masuk.
Aku kembali menggerakkannya keluar masuk saat kurasa posisiku sudah mantap. Nelly pun ikut berpartisipasi aktif menggerakkan pantatnya ke kiri, kanan dan berputar-putar dengan erotis menyambut gerakanku Setiap gerakan menghadirkan rangsangan dan sensasi yang berbeda bagi kami berdua. Kami tidak bertahan lama dalam posisi ini karena dalam beberapa menit saja aku sudah merasakan gelombang orgasme yang kutunggu-tunggu akan segera melanda. Aku semakin mempercepat gerakanku dan membuat Nelly juga semakin mempercepat gerakannya. Akhirnya gelombang orgasme terakhir kami datang bersamaan dan kami masih terus bergoyang untuk menikmatinya sambil aku merasakan kejantananku berdenyut-denyut mengeluarkan lahar panas di dalam kewanitaan Nelly membasahinya sampai ke bibir bagian luar. Kami berdua terkulai lemas sesaat setelah gelombang orgasme itu melanda.
Aku membenarkan posisi tidurku agar tidak menindihnya, mengambil selimut dan kembali menyelimuti badan kami yang basah oleh keringat. Kami pun tertidur berpelukan untuk beberapa saat. Selang beberapa saat kemudian kami pun kembali berpakaian dan keluar dari kamar untuk kembali bergabung dengan teman-teman yang lain. Beberapa teman tampak memandang sesaat saat kami melangkah keluar dari kamar dan kemudian kembali dengan kesibukannya masing-masing. Aku menuju dapur untuk mencari minuman bagi kami berdua, pengaruh obat sudah tidak kurasakan lagi di kepalaku, hanya ada memori indah tentang apa yang baru saja terjadi di antara aku dan Nelly.
Aku bersandar di dinding dapur sambil merengkuh Nelly ke dalam pelukanku. Nelly pun merapatkan tubuhnya ke dadaku sambil sesekali mereguk minuman kaleng yang kuberikan. Kami memandangi sinar matahari yang mulai tampak menghiasi kaki langit. Pemandangan yang begitu indah tapi jauh lebih indah memori yang telah kami ukir semalam. Memori indah tersebut sampai kini masih ada di kepalaku walaupun aku sudah tidak tahu dimana Nelly kini berada. Kami putus hubungan dan aku kehilangan jejaknya beberapa bulan setelah malam di apartemen itu. Kabar terakhir yang kudengar bahwa ia akan segera menikah di akhir tahun ini, itu berarti tidak ada lagi kesempatan bagi kami untuk mengukir lebih banyak kenangan indah bersama. Well, tidak untuk bersama Nelly tetapi aku sendiri masih dapat mengukir banyak kenangan indah lain bersama wanita-wanita lainnya. Hanya saja apakah kenangan itu akan seindah kenanganku bersama dia? Thats another story guys and I promise to tell you if I have the chance So Well see about that See you later, thanks.
Teman Onani,cerita dewasa,cerita seks tante,cerita seks 2013, kumpulan cerita sex,cerita sex dewasa, cerita seks dewasa,tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex,cerita kenikmatan,cerita bokep,cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi,cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita bokep
gimana sudah hot ? ingin yang lebih hot ...? klik disini
Kumpulan cerita seks
Semua berawal saat saya menelepon diskotik yang bersangkutan untuk memesan tempat, karyawan yang berbicara dengan saya memberitahu bahwa diskotik mereka akan tutup selama beberapa hari dengan alasan keamanan yang belum terjamin. Kontan saya memberitahukan kepada teman-teman lainnya untuk melakukan perencanaan tindakan selanjutnya. Hari sudah mulai sore dan belum ada jawaban dari teman-teman yang lain, saya sudah mulai berpikir bahwa pesta ini akan dibatalkan sehingga saya mulai menyusun rencana lain untuk pergi nonton dengan Nelly, seorang gadis yang belakangan ini sedang dekat dengan saya. Tetapi menjelang malam ada berita bahwa pesta tetap akan diadakan, teman saya telah memesan sebuah apartemen di kawasan perumahan yang tidak jauh dari tempat rencana semula. Semua peserta diharapkan dapat berkumpul di sana secepatnya. Saya mulai bimbang karena kami sudah telanjur mau nonton. Akhirnya saya berinisiatif mengajak Nelly untuk bergabung dengan teman-teman yang lain setelah selesai nonton, dan dia setuju.
Hari sudah mulai malam saat kami sampai di tempat tujuan, dari luar pintu saja sudah terdengar alunan musik house yang cukup kencang. Dan keadaan di dalam tidak jauh berbeda, tampak beberapa teman kami pria dan wanita sedang asyik bergoyang mengikuti irama house music tersebut. Sementara beberapa teman lainnya sedang mengelilingi meja makan yang sudah penuh dengan perlengkapan pesta, dari minuman biasa, minuman keras, pil ekstasi, shabu-shabu dan perlengkapannya, beberapa keping CD dan kaset house music dan beberapa pak kondom Durex.
“Ayo nggak usah malu-malu kalian udah telat nih yang laen udah pada terbang tuh,” kata Yoke sang yang punya acara sambil memberikan beberapa butir pil ekstasi ke tanganku. Aku menerimanya dan sambil tersenyum memberikan sebutir kepada Nelly. Kami memang berasal dari dunia yang sama, dunia malam penuh narkoba, jadi hal itu sudah bukan hal yang asing bagi Nelly.
“Happy Birthday Bro.”
“Thanks,” kataku membalas Yoke sambil mengambil gelas minuman untuk meminum pil-pil tersebut.
Aku kemudian menuntun Nelly untuk bergabung dengan yang lainnya di ruang tengah, aku duduk di sebuah sofa dan Nelly duduk di pangkuanku. Dan tak lama kemudian kami pun sudah ikut terbang bersama kawan-kawan lainnya diiringi alunan house music. Lagu demi lagu dan jam demi jam berlalu, kami pun semakin merapatkan tubuh kami saat ruangan menjadi semakin dingin dengan udara malam menjelang pagi ditambah semburan AC. Semakin rapat sampai akhirnya aku dapat merasakan halusnya pipi Nelly menempel di pipiku. Aku pun tak dapat menahan diri untuk tidak mencium pipi halus tersebut, sesuatu yang sudah ingin kulakukan sejak lama. Nelly tampak terkejut saat bibirku menyentuh pipinya, ia pun menoleh dan memandangiku. “Shit what have I done,” kataku dalam hati takut ia marah. Tetapi sebaliknya, ia malah menjulurkan tangannya ke belakang kepalaku dan mendorongnya maju untuk lebih merapatkan bibirku ke pipinya.
Menit-menit berikutnya ia malah menggeser pipinya dan menggantikannya dengan kedua bibir mungilnya. Kami pun berciuman dengan intens diiringi sedikit permainan lidah. Selang beberapa saat aku sudah mulai berani menjelajahi leher jenjang Nelly dengan lidahku, memberi sedikit kecupan-kecupan di lehernya dan menggelitik daun telinganya. Udara ruangan yang saat itu sudah penuh dengan berbagai macam polusi tetap tidak dapat mengalahkan wangi tubuh Nelly. Akupun menciuminya dengan makin bersemangat saat tangan Nelly mengusap-usap bagian belakang kepalaku. Kedua tanganku mulai merayap naik ke perutnya yang datar, halus dan indah di balik kaos ketatnya. Badan Nelly memang sungguh indah dan menarik, maklum ia adalah seorang guru senam aerobic dan body language. Proporsinya benar-benar pas dan mantap, ditunjang oleh face-nya yang juga manis, jadilah ia seorang dewi di mataku.
Tanganku sudah mulai merayap masuk ke dalam kaosnya dan menyentuh halus kulit perutnya saat tiba-tiba terdengar pintu kamar terbuka dan sepasang teman kami tampak berjalan keluar sambil berpelukan mesra. Nelly seperti tersadar, ia memegang tanganku dan menghentikan kegiatan kami. Apakah aku sudah terlalu jauh bergerak? Apakah ia akan marah? Menit selanjutnya ia menegakkan badannya meninggalkan badanku dan merapikan kaos ketatnya sambil menebar pandangan ke sekeliling ruangan. Tampaknya bukan hanya kami berdua yang sedang asyik masyuk, beberapa teman kami pun sudah duduk berpasang-pasangan dan asyik dengan kegiatan mereka masing-masing.
“Gue pusing nih,” katanya tiba-tiba sambil memegang kepalanya.
“Kenapa?” tanyaku.
“Gak tau, obatnya kali ya gue mau istirahat bentar ah,” katanya lagi sambil berdiri meninggalkanku di sofa.
“Eh mau ke mana?”
“Ke kamar tidur sebentar.”
“Oke jangan lama-lama ya tidurnya,” kataku sambil membetulkan posisi dudukku di sofa.
“Eh temenin dong masa gue sendirian,” katanya, kali ini ia meraih tanganku, menarikku bangkit dari sofa dan menuntunku ke kamar yang baru saja ditinggalkan teman kami.
Aku mulai mengerti maksudnya saat kami sudah berada dalam kamar, menguncinya dan mulai berciuman bibir dengan lebih intens lagi, semakin lama pelukan kami pun semakin erat. Aku mulai menggerakkan tanganku ke belakang tubuhnya, merayap masuk ke dalam kaosnya dan mengusapi punggungnya. Ia pun melakukan hal yang sama. Terasa betapa kenyal buah dadanya terhimpit di depan dadaku. Akhirnya saat-saat yang paling kutunggu beberapa waktu terakhir ini. Bermesraan dan bercinta dengan Nelly. Tanganku semakin bebas bergerak merayapi punggungnya saat aku berhasil melepaskan kaos ketatnya, naik turun melewati seutas tali pengikat bra yang masih terkait kencang. Sementara di bagian depannya kedua belah buah dada Nelly yang kencang semakin nampak menggiurkan untuk dinikmati. Aku mulai menurunkan ciuman-ciumanku ke arah leher Nelly, berputar-putar sebentar di sana dan semakin turun ke lembah halus yang memisahkan kedua belah bukit indahnya. Sementara tangan Nelly terus mengusapi daerah belakang kepalaku sambil sesekali mendorong kepalaku ke depan untuk lebih merekatkan bibirku ke daerah dadanya. Tangannya yang satu lagi bergerak menyusuri punggungku dari dalam kemeja yang kugunakan.
Akhirnya Nelly menjatuhkan badannya ke ranjang dan memandangku dengan pandangan yang sangat menggoda, pandangan yang tidak dapat kulupakan sampai sekarang. Aku pun ikut menjatuhkan badanku menyusulnya ke ranjang, kedua tangannya bergerak menyusuri dadaku yang cukup bidang, dan mengeluarkan satu persatu kancing kemejaku dari lubangnya, melepas kemejaku dan membuangnya entah kemana. Aku semakin meningkatkan seranganku ke sekwilda-nya (sekitar wilayah dada), menyusuri lembah dan bukit indahnya yang masih tertutup bra dengan lidahku dan meremas-remas salah satu buah dadanya dengan tanganku. Merasa belum puas, aku pun meraih kaitan bra Nelly di belakang tubuhnya, cukup repot karena ia sedang dalam posisi terlentang di ranjang. Merasa bahwa aku kerepotan, Nelly pun membantu dengan mengangkat badannya sedikit dan menuntun jari-jariku untuk menemukan kaitan branya.
Sebentar saja kedua bukit indahnya sudah terpampang jelas di mataku, berlapiskan kulit putih halus dengan kedua puting susu mungilnya berwarna merah muda. Aku pun menemukan daerah-daerah baru untuk dieksplorasi dengan lidah dan jari-jemariku (minyak kali dieksplorasi). Aku menikmati hampir seluruh bagian dadanya dengan lidahku kecuali kedua buah puting susunya, aku membuatnya penasaran. Itu terasa saat ia bergerak-gerak sedikit setiap kali ujung lidahku hampir mengenai putingnya, mengharapkanku akan segera melumatnya dengan lidahku, tetapi tidak belum waktunya. Lidahku terus bergerak bolak-balik diantara kedua buah dadanya, naik dan turun tapi tetap berusaha menghindari menyentuh kedua putingnya.
Setelah beberapa menit, aku pun menegakkan kepalaku untuk melihat ekspresinya. Ia tetap memandangiku dengan pandangan yang tidak dapat dilukiskan. Nelly tampak sungguh menggoda dengan salah satu jari di dalam mulutnya. Kurasa ia menghisapinya untuk menambah gelombang rangsangan yang melandanya. Aku pun menurunkan kepalaku lagi, kali ini sasaran lidahku adalah langsung menyentuh putingnya yang kiri. Nelly sedikit terlonjak saat ia merasakan ujung lidahku menyapu halus putingnya dengan tiba-tiba, ia pun menekan kepalaku untuk semakin dekat dengan dadanya. Untuk sementara waktu aku memainkan lidahku di sana, berputar-putar mengelilinginya dan sedikit menjentik-jentiknya, sementara tanganku sibuk memainkan buah dadanya yang kanan. Nelly sudah semakin terangsang karena aku dapat mendengarnya mendesah semakin keras.
Untuk kejutan berikutnya, aku tiba-tiba menghisap putingnya lembut di saat ia tidak menyangka sama sekali. Kembali ia terlonjak untuk beberapa saat dan kemudian semakin dalam menekan kepalaku agar aku tidak melepaskan putingnya dari mulutku. Hal yang sama kulakukan pada puting kanannya aku sangat menikmati lonjakan-lonjakannya saat ia terkejut dengan apa yang kulakukan dengan lidah dan tanganku. Akhirnya aku dapat dengan bebas menikmati seluruh bagian dadanya, memainkan jari-jemari dan lidahku, menjilati dan menghisapi seluruh bagian dadanya bergantian kiri dan kanan, tidak lupa lembah indah di antaranya, lembah yang selama ini hanya bisa kunikmati dari luar saat Nelly berpakaian dengan belahan dada rendah.
Puas dengan kedua buah dadanya, aku mulai memindahkan daerah eksplorasiku turun menuju perutnya yang datar. Lidahku dapat merasakan gerakan halus otot-otot perutnya menerima rangsanganku. Benar-benar perut yang indah. Terakhir kali aku melihat perut seindah ini adalah saat aku bercinta dengan seorang model yang mungkin wajahnya kurang terkenal tapi cukup beberapa kali menghiasi sampul sebuah majalah remaja Ibukota. Sebelum lidahku meninggalkan daerah perutnya, aku meluncurkan sebelah tanganku ke daerah pahanya yang masih tertutup celana jeans. Aku menggerakkannya mondar-mandir menelusuri bagian depan dan dalam pahanya, berkelebat sekilas di depan bagian kewanitaannya menuju sisi satunya, dan kembali lagi. Sampai akhirnya aku berhenti dan mengusapi daerah pribadinya dari luar celananya. Nelly seperti mengerti maksudku, ia menegakkan badannya sedikit dan membantuku membuka kaitan dan retsluiting celananya. Sebentar saja celana itu sudah dapat kutarik lepas, meninggalkan sebuah celana dalam super mini berwarna biru muda bermotif garis-garis masih menempel di badan pemiliknya. Dan aku pun kembali menemukan daerah baru untuk diekplorasi.
Aku kembali menggerakkan lidahku menelusuri daerah perutnya dan bergerak turun ke arah daerah kewanitaannya. Tapi aku tidak berhenti di sana, lidahku terus turun menuju paha kanannya, menelusuri hampir seluruh bagiannya dan terus turun ke betisnya. Kemudian lidahku naik lagi untuk kembali menelusuri bagian dalam pahanya dan naik terus sampai ke daerah pangkalnya. Aku mulai dapat melihat mencium bau harum kewanitaannya dari sini, tampaknya daerah tersebut sudah mulai basah dan mulai mengeluarkan baunya yang khas. Aku berniat menggodanya kembali, lidahku berkelebat cepat dari bagian dalam paha kanannya, melewati daerah kewanitaannya dan sampai di bagian dalam paha kirinya, kembali ke paha kanannya, melewati daerah sensitifnya tanpa menyentuhnya sama sekali, hanya dengan dengusan nafasku saja. Tetapi itu sudah cukup untuk membuatnya terlonjak-lonjak terangsang setiap kali mukaku melewati daerahnya.
Lonjakan paling seru adalah saat akhirnya aku menempelkan bibirku dengan bibir kewanitaannya yang masih tertutup celana dalam sambil menjulurkan lidahku menyapu ke kiri dan kanan membasahi kain tipis yang memisahkan bibirku dengan daerah pribadinya yang paling rahasia itu. Keasyikanku terganggu saat terdengar ketukan di pintu kamar, aku pun beranjak dari tempat tidur untuk membuka pintu itu setelah terlebih dahulu membantu Nelly menutupi tubuh seksinya dengan selimut. Kami sama-sama tidak mau ada orang lain yang dapat menikmati keindahan tubuhnya. Rupanya salah seorang temanku bermaksud mengambil handphone-nya yang tertinggal di dalam kamar. Aku pun mengambilkan barang yang dimaksud sambil kakiku menahan pintu untuk tidak terbuka semakin lebar, memberikan kepada pemiliknya dan kembali mengunci pintu kamar. Mau menelpon kemana sih di pagi-pagi buta seperti ini sampai menggangguku, pada saat ayam jago pun masih bermalas-malasan di tempat tidurnya. Ah itu bukan urusanku, saat ini aku masih punya urusan lain yang lebih penting dan jauh lebih nikmat tentunya.
Nelly menggeser duduknya sampai ke tepi ranjang saat aku kembali berjalan mendekatinya, ia memeluk pinggangku sesaat dan kembali memberikan pandangan khasnya. Ia lalu menggerakkan kedua tangannya melepaskan kaitan celanaku dan mendorongnya ke bawah lalu mengelus-elus kejantananku yang sudah berdiri tegak siap tempur di balik celana dalam. Tidak puas hanya mengelus, ia kemudian menarik turun celana dalamku dan menghadapkan kejantananku ke mukanya. “Its my turn now, Dear,” katanya sambil mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil seluruh bagian kejantananku. Ciuman-ciuman itu kemudian disusul dengan jilatan-jilatan nikmat yang semakin menambah rangsangan di tubuhku. Andaikan aku tidak sedang berada di bawah pengaruh obat, tentu aku sudah dari tadi mencapai titik kepuasan karena rasa nikmat dan sensasi yang dihadirkan Nelly ke tubuhku. Ouah, benar-benar nikmat.
Rangsangan itu terus bertambah dan menjalari setiap senti tubuhku saat Nelly mulai memasukkan kejantananku ke dalam mulutnya dan mulai menghisapinya. Ia menghisap, menyedot dan menjilatinya seperti sedang menikmati sebuah es krim yang tidak akan pernah habis. Aku benar-benar menikmati permainan Nelly selama beberapa menit ke depan, sampai aku sudah benar-benar tidak tahan untuk tidak membalasnya. Aku kembali merebahkannya di ranjang dan menggerakkan tanganku ke bawah untuk menarik pertahanan terakhir tubuhnya. Kini kami sudah sama-sama telanjang dan siap untuk melanjutkan pertempuran kami di ranjang. Kembali aku membenamkan kepalaku di antara kedua belah pahanya, menciumi dan menjilati bibir kiri dan kanan kemaluannya. Nelly mendesah setiap kali aku menyentuh kewanitaannya dengan lidahku. Harum kewanitaannya benar-benar tercium menambah keindahan pemandangan di depan mataku, bulu-bulu kemaluannya tampak tercukur rapi di atas klitorisnya. Dan ke sanalah aku mengarahkan seranganku selanjutnya, aku mencumbu klitorisnya dengan kombinasi belaian lidah dan jari-jemariku. Tubuh Nelly semakin menggelinjang dan bergerak-gerak seperti cacing kepanasan. Ia kembali merengkuh kepalaku dan membenamkanya semakin dalam di daerah kewanitaannya sehingga aku susah bernafas dengan bebas.
Menit demi menit berlalu dan aku masih bermain di kewanitaannya, aku memberikan semakin banyak rangsangan kepada Nelly untuk membalas sensasi yang telah ia berikan kepadaku sampai akhirnya ia melonjak, mengejang dan melengkungkan tubuhnya sesaat. Ia telah mencapai orgasme pertamanya. Aku membiarkan ia menikmati gelombang orgasme pertamanya selama beberapa saat dengan terus memainkan lidahku dengan lembut di daerah sensitifnya. Untuk beberapa menit ke depan ia terbaring lemas karena gelombang orgasme yang telah melandanya. “Wow, you are wonderfull,” katanya. Kami memang sering memakai bahasa Inggris untuk berkomunikasi satu sama lain, untuk berlatih memperlancar pemakaian bahasa Inggris kami yang agak jarang dipergunakan. Aku sendiri hampir dapat berbahasa Inggris dengan lancar karena aku bekerja di sebuah perusahaan asing yang memiliki banyak tenaga dari luar negeri.
Aku merebahkan tubuhku di sampingnya sambil mengecup mesra pipinya. Ia kemudian membalas dan kami pun mulai ber-French Kiss kembali. Ia menjulurkan tangannya ke bawah dan mulai mengusapi kejantananku kembali dan kembali memberikan sensasi yang luar biasa ke dalam tubuhku. Nelly lalu menegakkan badannya, bangkit ke posisi duduk dan kembali mengantar mulutnya untuk bermain-main dengan kejantananku. Aku menikmatinya sesaat sebelum akhirnya menarik tubuhnya ke atas tubuhku. Kami pun ber-sixty nine. Kali ini aku mulai memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaannya, menggerakkannya dengan halus di dalam liang tersebut dan perlahan tapi pasti bergerak menuju titik G-Spotnya. Nelly kembali mengejang saat jariku menyentuh G-Spotnya, ia berhenti bermain dengan kejantananku untuk beberapa saat untuk menikmati rangsangan yang sedang melanda tubuhnya dari titik G-Spot tersebut. Aku dapat mendengarnya mendesah-desah pelan setiap kali aku menggerakkan jariku di dalam liangnya. Dan desahan itu semakin keras saat aku mulai menyertakan lidahku untuk membelai-belai klitorisnya dari luar.
Rangsangan yang menjalari tubuh kami rupanya sudah semakin hebat dan kami pun bergerak lebih lanjut untuk menyelesaikan permainan ini. Theres no way of turning back now Nelly bergulir ke sampingku, memutar posisi tubuhnya sehingga kami dapat berciuman kembali dan kembali menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku. Tangannya menjulur ke bawah menggapai kejantananku untuk dibimbing menuju liang kewanitaannya. Ia mendesah kembali saat ujung kejantananku menyentuh permukaan kewanitaannya, ia menggesek-gesekkannya sebentar di bibir kemaluannya dan mulai menurunkan pantatnya menyambut kejantananku saat ia merasa posisinya sudah tepat. Ternyata foreplay yang lama ini belum cukup untuk membuat kejantananku dapat memasuki kewanitaannya dengan lancar tanpa halangan. Dinding-dinding kewanitaannya terasa begitu kencang menjepit batangku yang berusaha mencari jalan masuk. Rupanya Nelly pun merasakan hal yang sama, ia bergerak-gerak sedikit untuk mempermudah kejantananku mencari jalan. Dan akhirnya setelah beberapa menit bekerja keras seluruh batangku dapat tertanam dengan mantap di liang kewanitaannya.
Kami mendesah nikmat bersamaan dan terdiam sesaat saat ujung kejantananku terasa menyentuh ujung rahimnya. Kurasakan betapa dinding-dinding dalam kewanitaannya begitu erat menjepit dan memijat kejantananku, rupanya inilah gunanya mempelajari senam seks. Nelly pernah menceritakan kepadaku bahwa senam yang satu ini dapat melatih wanita mengatur otot-otot kewanitaannya untuk menghadirkan sensasi yang luar biasa bagi lawan mainnya. Sensasi tersebut berganti sensasi lainnya saat Nelly mulai menggerakkan pantatnya naik turun, membuat kejantananku bergerak keluar dan masuk liang kenikmatannya. Aku pun tak mau diam saja, aku mengangkat pantatku naik dan mendorong kejantananku melesak makin dalam saat Nelly menurunkan pantatnya. Aku mencoba menggesek G-Spotnya dengan kejantananku, dan rupanya berhasil. Tidak hanya itu saja, aku juga menggerakkan kedua tanganku untuk meremas-remas kedua bukit indah dengan putingnya yang tampak di depan mataku sesekali juga aku menghisap kedua puting itu bergantian untuk menambah rangsangan bagi kami berdua.
Nelly mendesah dan bergerak semakin seru setiap kali kejantananku menghantam ujung rahimnya. Semakin lama gerakan kami berdua semakin cepat dan semakin menguras tenaga, sampai akhirnya Nelly mengejang dan melengkungkan badannya kembali. Gelombang orgasme kedua telah melandanya. Ia tampak masih berusaha meneruskan gerakan-gerakan naik turunnya untuk menikmati orgasmenya yang kedua sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya yang lemas di atas tubuhku dan terdiam untuk beberapa saat. Tubuhnya bermandikan keringat, padahal udara ruangan cukup dingin karena hari sudah mulai pagi dan AC yang menyembur kencang. Aku mengambil selimut yang berada di sampingku dan menebarkannya untuk menutupi tubuh kami berdua supaya tidak masuk angin.
“Kamu hebat, aku sudah dua kali sedangkan kamu belum juga,” katanya memecah keheningan diantara kami.
“Mungkin ini karena pengaruh obat,” jawabku.
“Ya, aku yakin narkoba lah yang telah menambah daya tahanku. Lets do our favorite style,” katanya lagi.
Kebetulan kami memang punya gaya favorit yang sama yaitu gaya ******, kami pernah membicarakan hal ini meskipun kami belum pernah melakukannya bersama. Kami hanya bercerita bahwa pernah melakukannya dengan partner kami sendiri-sendiri. Dari situlah aku tahu bahwa seks bukanlah hal yang asing baginya. Kami pun mengambil posisi untuk melanjutkan permainan kami (seperti mau lomba lari saja). Nelly mengambil posisi merangkak di atas ranjang dengan kedua tangan berpegangan pada sandaran ranjang sementara aku mengambil posisi di belakangnya dan mulai mengarahkan kejantananku untuk kembali memasuki liang kewanitaannya. Kali ini aku dapat menanamkan kejantananku di tempat tujuannya tanpa banyak perjuangan, tapi tetap saja terasa betapa otot liangnya meremas dengan kuat setiap senti batangku saat bergerak masuk.
Aku kembali menggerakkannya keluar masuk saat kurasa posisiku sudah mantap. Nelly pun ikut berpartisipasi aktif menggerakkan pantatnya ke kiri, kanan dan berputar-putar dengan erotis menyambut gerakanku Setiap gerakan menghadirkan rangsangan dan sensasi yang berbeda bagi kami berdua. Kami tidak bertahan lama dalam posisi ini karena dalam beberapa menit saja aku sudah merasakan gelombang orgasme yang kutunggu-tunggu akan segera melanda. Aku semakin mempercepat gerakanku dan membuat Nelly juga semakin mempercepat gerakannya. Akhirnya gelombang orgasme terakhir kami datang bersamaan dan kami masih terus bergoyang untuk menikmatinya sambil aku merasakan kejantananku berdenyut-denyut mengeluarkan lahar panas di dalam kewanitaan Nelly membasahinya sampai ke bibir bagian luar. Kami berdua terkulai lemas sesaat setelah gelombang orgasme itu melanda.
Aku membenarkan posisi tidurku agar tidak menindihnya, mengambil selimut dan kembali menyelimuti badan kami yang basah oleh keringat. Kami pun tertidur berpelukan untuk beberapa saat. Selang beberapa saat kemudian kami pun kembali berpakaian dan keluar dari kamar untuk kembali bergabung dengan teman-teman yang lain. Beberapa teman tampak memandang sesaat saat kami melangkah keluar dari kamar dan kemudian kembali dengan kesibukannya masing-masing. Aku menuju dapur untuk mencari minuman bagi kami berdua, pengaruh obat sudah tidak kurasakan lagi di kepalaku, hanya ada memori indah tentang apa yang baru saja terjadi di antara aku dan Nelly.
Aku bersandar di dinding dapur sambil merengkuh Nelly ke dalam pelukanku. Nelly pun merapatkan tubuhnya ke dadaku sambil sesekali mereguk minuman kaleng yang kuberikan. Kami memandangi sinar matahari yang mulai tampak menghiasi kaki langit. Pemandangan yang begitu indah tapi jauh lebih indah memori yang telah kami ukir semalam. Memori indah tersebut sampai kini masih ada di kepalaku walaupun aku sudah tidak tahu dimana Nelly kini berada. Kami putus hubungan dan aku kehilangan jejaknya beberapa bulan setelah malam di apartemen itu. Kabar terakhir yang kudengar bahwa ia akan segera menikah di akhir tahun ini, itu berarti tidak ada lagi kesempatan bagi kami untuk mengukir lebih banyak kenangan indah bersama. Well, tidak untuk bersama Nelly tetapi aku sendiri masih dapat mengukir banyak kenangan indah lain bersama wanita-wanita lainnya. Hanya saja apakah kenangan itu akan seindah kenanganku bersama dia? Thats another story guys and I promise to tell you if I have the chance So Well see about that See you later, thanks.
Teman Onani,cerita dewasa,cerita seks tante,cerita seks 2013, kumpulan cerita sex,cerita sex dewasa, cerita seks dewasa,tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex,cerita kenikmatan,cerita bokep,cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi,cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita bokep
gimana sudah hot ? ingin yang lebih hot ...? klik disini
Kumpulan cerita seks
Label:
Cerita,
Cerita Sex Tante,
Dunia,
MALAM,
seksGelapnya
KISAH MALAM PERTAMA PENGALAMAN TERHEBAT
Cerita ini mengisahkan tentang satu pasangan yang baru berkahwin. Mereka memulakan malam pertama yang sangat indah. Malam Pertama pengalaman yang tidak dapat dilupakan setiap insan yang bergelar suami isteri.
Ada sepasang pengantin baru berada di kamar pengantin, di malam pertama..Pada tengah malam pertama itu, tiba-tiba isterinya mengerang, "Adui, sakitnya bang..! macam mana nie malam pertama?" Suaminya lantas menenangkan isterinya,"Jangan nangis sayang..nanti mak ayah dengar..mereka mungkin belum tidur lagi tu.." Kebetulan bilik mertua hanya bersebelahan kamar tidur pengantin..Isterinya teresak esak mengerang.."Sakitnya bang"..
Tapi kerana tidak dapat menahan sakit, isterinya tambah kuat mengerang..Mahu tidak mahu, si suami pun berkata, kali nie kuat sedikit suaranya.."Sabar sayang!Tahan saja..Esok baru cabut.."
Sensasi Hangit!!!
Label:
Cerita Sex Malaysia,
KISAH,
MALAM,
PENGALAMAN,
PERTAMA,
TERHEBAT
Langganan:
Postingan (Atom)
