Tampilkan postingan dengan label Panas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Panas. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Cerita Seks Panas Aku ML Dengan Pembantuku Yang Masih Perawan

Cerita Seks Dewasa ini berawal ketika Kegemaranku menonton film panas porno berawal dari penemuan tidak terduga dibalik tumpukan lipatan sarung didalam lemari kamar om saya pada awal sekolah menengah atas atau SMA kelas satu. berhubung dulunya satu-satunya media pemutar vcd-vcd pono tersebut ada di TV utama ruang tengah rumah saya, setiap malam saya ‘berkeliaran’ setelah seluruh penghuni rumah tertidur pulas. dari hari kehari, saya selalu penasaran dengan setiap ‘penemuan film seks’ baru saya, dan terkadang perlu menunggu waktu lama untuk bisa menonton film-film hot baru koleksi om saya tersebut.

Pada suatu hari, seluruh keluarga berpergian keluar kota, saya tidak ikut serta dalam perjalan inap 2 hari tersebut dengan alasan ada janji temu dengan teman-teman besok harinya. namun sayang, dirumah kebetulan mempekerjakan seorang ‘asisten ibu’ (untuk memperhalus kata pembokat), jadi saya tetap tidak leluasa untuk menonton film Panas Dewasa temuan saya dan tetap perlu menunggu waktu yang tepat.

haripun berganti malam, saya sangat penasaran dengan film baru ini, dan memutuskan untuk memutar film pada tengah malam seperti biasa namun tingkat kewaspadaan sedikit berkurang dari biasanya. mulailah saya memutar film demi film yang sangat membuat konak.kreeeekkk.. (pintu kamar Asisten Ibu terbuka).saya pun kaget bukan kepalang beserta panik tiada tara.berhubung kamar sang AI tepat berada disamping ruang tengah rumah saya.sial…remote VCD playernya macet..filmpun terus berputar. namun saya beruntung, sang AI sedang ngantuk berat sehingga tidak terlalu memperhatikan apa yan sedang saya tonton, dan diapun terus menuju kamar mandi untuk buang air.sekembalinya dia ke kamar, saya dapat mengatasi permasalahan pada remote tersebut. dan seolah-olah saya sedang nonton berita malam.dia pun kembali tidur dikamarnya.

film pun hampir selesai ditonton semua. biasanya berakhir pada membuat bersin burung.namun kali ini lain, jantung saya berdegup kencang, memiliki hasrat untuk melihat barang wanita secara langsung, berhubung belum pernah.otak iblis saya memberi sinyal untuk mencoba mengintip barang sang AI.tanpa berpikir panjangpun saya memberanikan diri untuk memasuki kamarnya yang wangi.


kreeekkk..dia terlelap pulas. jantungpun semakin tidak menentu dengan pikiran-pikiran jahat yang telah terlintas dibenak.sayapun mengendap mendekatinya. dia mengenakan pakaian tidur tipis warna coklat. dia tidur terlentang, sehingga memudahkan saya memulai aksi saya.saya mengelus wajahnya yang lumayan cantik, mulus sekali. dan tertarik untuk memegang payudaranya yang terlihat putingnya, karena dia sepertinya tidak mengenakan bra ketika tidur.saya buka perlahan kancing bajunya, dan merentagkannya lebar. tertampak lah buah dada yang kencang berisi, putingnya yang berwarna merah kecoklatan pun terlihat jelas. saya pun semakin tak karuan, nafas, detak jantung, semuanya.kemudian saya mencoba menurunkan celana pendekny, berhubung dipinggang hanya berbahan karet elasti, jadi mudah bagi saya untuk menurunkannya.wooww..saya terkejut ternyata dia tidak mengenakan pakaian dalam, nampaklah vagina dengan rambut yang sangat sangat jarang dan tampak tidak pernah dicukur itu, sangat bersih dan mulus kelihatannya. berhubung warna kulitnya adalah sangat putih, vaginanya berwana merah.itu pertama kali saya melihat vagina secara langsung, namun berkeinginan untuk meneruskan aksi saya malam itu. mumpung..sang AI pun masih terlelap, jadi kenapa tidak melanjutkan pekerjaan setengah jalan ini?saya pun mulai memegangi puting, payudara dan vagina yang saya dambakan itu secara berurutan. mulusnya.burung saya semakin berasa terbang.lama kelamaan vaginanya menjadi basah dan sangat hangat.terkagetlah saya ketika sang AI tersadar dan duduk sambil bertanya

“mas Dani, sedang apa? kenapa saya jadi ‘begini’?…”a..aa..anu.. emm.. ” saya terbata-bata tak bisa menjelaskan.”kamu mau apa? mau memperkosa saya?” tanyanya lagi.”maaf, saya g bermaksud begitu, tadinya cuma…cuma…” jawab saya.”cuma terangsang? habis nonton film jorok khan tadi?” tanyanya.Dan sayapun terkaget, ternyata dia tahu saya tadi menonton film porno.”saya tahu kok, dan saya sering ikut lihat secara diam-diam” dia berujar.”Maaf, saya tadi cuma penasaran ingin melihat secara langsung apa yang ada di dalam film itu, cuma mau lihat vagina saja, sebab saya blum pernah” saya menyela.”ya sudah, tak apa-apa” jawabnya tanpa membetulkan pakaiannya yang terbuka.”kalau mau, saya tak apa-apa telanjang buat mas Dani, bahkan melayani lebih pun tak jadi masalah” tambahnya.”namun saya memiliki permintaan, saya ingin memberi hadiah buat keluarga saya untuk akhir tahun ini” pintanya.”apa itu?” tanya saya”saya ingin memberi uang lebih dari gaji saya untuk makan dan beli baju baru buat keluarga saya” jawabnya.

dan sayapunmenyanggupi permintaannya dengan mempergunakan uang tabunganku..

sang AI, yang bernama Sarah itu masih belia, berumur sekitar 18 tahun, berkulit putih bersih dan memiliki tubuh langsing yang sangat terawat. bersedia untuk melepaskan seluruh pakaian tanpa terkecuali dan melayani saya.sayapun meminta untk eksekusi di dalam kamar tidur saya saja. dia pun mengiyakan.

sesampainya dikamar saya, dia yang telah tidak berpakaian itu membantu saya melepaskan pakaian sepenuhnya hingga kamipun bertelanjang bulat.berbaringlah dia diatas ranjang”silahkan mas” ujarnya sembari meletakkan kedua tangannya pada selngakngannya dan membuka lubang kenikmatannya yang merah merona.

saya pun menghampiri tanpa basa-basi, mungkin karena iblis telah merasuk dan menguasai tubuhku.saya yang belum pernah melihat vagina secara langsung, sekarang ditantang untuk melakukan ‘gulat’ layaknya spasang suami istri.

Cerita Seks – Saya mengawali dengan mengecup bibirnya yang merah kecoklatmudaan. sembari meremas payudara dan mengelus putingny yang keras.kemudian turun mengecup leher, turun ke payudara dan menjilati bagian putingnya. dia pun mendesis. “ahh,, mass”ciuman saya turun keperut dan berlanjut ke pinggir vaginanya.awalnya saya ragu untuk melakukan ini, karena dalam pikir saya vagina itu bau, ternyata beda dengan barang milik Sarah.harum, mungkin sewaktu dia ke kamar mandi dia mengenakan pembersih vagina.saya mulai menciumi bibir vaginanya, sampai membuat dia menjambak rambutku. sembari mendesah keras.Ahhh..Aaahhh.. (berhubung rumah kosong, jadi tidak ada rasa khawatir pada kami bersua)saya mulai mejilat lubang vaginanya yang sudah sangat basah itu.”Aawww.. Ahhh.ahh.aaahhh..” desahnya.”mas Dani, setubuhi saya sekarang ya. saya sudah ga kuat.”tanpa ragu, sayapun mengarahkan penis saya yang berukuran 16cm ke arah vagina Sarah, saya tancapkan perlahan, namun tak muat, curiga, dia masih perawan, dan… blessss..”Arghhh…” teriaknya nikmat namun kesakitan.ternyata bernar, dia masih perawan. “bentar mas.. sakit.. aw” pintanya.sayapun mengehentikan aksi saya sejenak.”lagi mas” pintanya lagi.dan pada saat itu saya benamkan seluruh burung saya kedalam vaginanya.berayun berirama keluar masuk dinding vaginanya yang sangat becek dan semakin kencang saya mengocok terdengar sekali suara becek tersebut.”Ahhh… ahh..ahhh.. emmm.. mas Dani.. ughhhh..”desahan demi desahan tercipta dari bibir mungilnya.”saya mau ‘keluar’” saya berkata.”lepasin mas, jangan didalam, berbaring yah” pintanya.saya pun melepaskan kenikmatan pertamakali saya tersebut dan berbaring sesuai mintanya.Sarah menghampiri penis saya dan mengocoknya secara telaten, sangat nikmat.”mau keluar” kataku.diapun berbalik badan berposisi 69, membuka mulutnya dan menghisap penisku.Srott,,srottt,,srooootttttttttttttttttsperma keluar begitu nikmatnya sambil melihat vagina indah Sarah yang merekah setelah berhubungan itu persis dihadapan saya, indah sekali.”saya mau mandi dulu y mas”. katanya

sayapun mengiyakan namun hanya terbaring lemas seperti dikuras habis tenaga, seselesainya ‘pertandingan’ dengan AI yang memakan waktu lebih dari 20menit. sayang dia tidak mempersilahkan saya menuju ronde kedua.

diapun beranjak dari kamar saya dan mandi.

seorang AI bisa sangat telaten berhubungan intim, padahal dia masih perawan. kok bisa yah? tanyaku dalam hati

ternyata menurut pengakuannya, dia sering melihat saya menonton BF dan ikut memperhatikan dan itu membuatnya sangat terangsang untuk berhubungan, dan berkeinginan untuk menirukannya pada malam itu.

keperjakaan sayapun hilang seiring hilangnya keperawanan AI saya yang cantik dan langsing. namun tak disesali karena kenikmatan pertama saya sangatlah luarbiasa (menurut saya).di lain haripun kami sering melakukannya disaat rumah ditinggal para penghuni utama.


Cerita Dewasa - Cerita sex - Gadis montok cewek Binal Indonesia telanjang bugil

Nafsu Ganas si Janda Arab : Cerita Panas

Cerita Dewasa ini bermula dari tugas kantor. Petualangan seks pun tak terelakkan, karena aku meang doyan berpetualang :D
Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri.


Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggalah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja.
Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.

Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.
Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.

Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.
Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.

Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.
Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.
” Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” katanya.
Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.
“Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata security itu.
“Aku mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi. Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.
Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.
“Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi kepadaku.
Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, “Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw”.
“Anis,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.
Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.
“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.
“Panggil saja namaku, A…N…I…S, Anis,” katanya.
kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.
Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.
Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.
Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.
“Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.
Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.
“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.
“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.
Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.
Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.
Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.
Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.

Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.
Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.
Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.
Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”.
Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.
Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.
“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.
Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.
Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.
Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.
Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.
15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.
“Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.
Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.
Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.
Semenit kemudian..
“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Anis memekik.
Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.
“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”
Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.
“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.
Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.
“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.
“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.
Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!
“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”
“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.
Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.
Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.
“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.
“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.
Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.
Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.
“Hmmhh..,” ia bergumam.
“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.
Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.
“I want more, honey!” kataku.
kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.
Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.
Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.
“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.
Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.
“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.
Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.
Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.
Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.
Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.
Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.
Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.
“Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”
Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.
Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.
Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.
Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.
Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.
Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.
Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.
kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.
“Ouhh.. Anis,” desahku setengah berteriak.
Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.
Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.
Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.
Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.
kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.
“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.
“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.
Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.
“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.
Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.
Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.
Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.
Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.
Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.
kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.
Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.
Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.
Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.
Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.
Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.
“Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!”
“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”
Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.
Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.

Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.
Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.
Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.
“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.
“Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.
Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.
Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis, the arabian girl who has passion as like as Arabian horse

Cerita Dewasa 17 tahun, kumpulan cerita dewasa, cerita panas


Cerita Dewasa - Cerita sex - Gadis montok cewek Binal Indonesia telanjang bugil

Bayar Hutang Dengan Tubuh Istri : Cerita Panas


Tidak mudah bisa bertahan hidup di Jakarta apabila seseorang tidak memiliki kepandaian, stamina dan daya tahan terhadap berbagai tekanan dan kesulitan. Dan itu semakin aku rasakan. Sejak tiga tahun terakhir aku bersama istri yang baru kunikahi meninggalkan kampungku di Sleman, Yogya, menuju ibukota Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Hingga kini kehidupan yang lebih baik itu belum juga aku memperolehnya.

Aku mau dan pernah melakukan pekerjaan apa saja sepanjang itu halal. Dari penjaga toko, narik ojek, tukang batu atau pekerjaan lainnya yang sesuai dengan apa yang aku bisa. Tetapi itu semua nampaknya belum menjanjikan masa depan yang lebih baik.

Kebetulan ada famili jauhku, Pakde Karto yang telah lama hidup di Jakarta dan mendapatkan kehidupan yang cukup mapan. Usahanya sebagai tengkulak tembakau untuk pabrik rokok ‘gurem’ nampaknya membuat hidupnya kecukupan. Kalau aku kesulitan uang Pakde Karto selalu menjadi tujuanku dan biasanya dia mau menolongku. Dia bilang kasihan pada istriku yang masih muda harus menderita hidup di Jakarta. Dia tidak mau mengajak aku kerja di tempatnya. Alasannya karena kurang suka mempekerjakan sanak famili. Dia bilang dirinya punya sifat gampang marah dan kasar. Khawatir sifat itu bisa menyinggung perasaan dan putus hubungan kekeluargaan. Walaupun begitu dia sangat memperhatikan kepentingan kami, khususnya kepentingan istriku. Terkadang dia belikan sesuatu, misalnya baju atau perabot dapur atau lainnya.

Hanya satu hal yang aku kurang sreg dengan Pakde Karto. Kalau aku minta bantuan pinjam uang dia tidak ijinkan aku ke kantornya. Dia selalu menyuruh sampaikan saja apa kebutuhanku lewat telpon, nanti dia akan datang. Dan dia memang datang. Dia berikan pinjamanku dan dia juga bawa oleh-oleh untuk Rini, istriku.

Selama berada di rumah kuperhatikan matanya yang selalu nampak melotot memperhatikan tubuh istriku. Beberapa kali dia bertandang ke rumahku, tak pernah sekalipun dia bawa istrinya. Aku pikir dia nggak mau kesukaan melototnya saat melihati istriku terganggu. Rasanya Pakde Karto ini bandot tua. Kadang-kadang sikapnya aku anggap keterlaluan. Seharusnya dia mengetahui dirinya sebagai panutan karena lebih tua dari aku. Tetapi dia tidak pernah menampakkan perhatiannya padaku. Kalau aku ngomong, dia menyahut ‘ya, ya, ya’ tanpa pernah lepas dari pandangan ke Rini dan sama sekali tak pernah melihat padaku. Terus terang kalau tidak terpaksa aku segan berhubungan dengan Pakde Karto ini.

Dari sudut fisik, Pakde Karto ini memang masih gagah. Pada umurnya yang memasuki 57 tahun, disamping wajahnya yang memang cukup ganteng, tubuhnya juga cukup terawat baik, tangannya ada sedikit berbulu. Tingginya sama dengan aku 175-an cm. Agak gendut, mungkin karena cukup makmur. Dan tampang bandotnya memang nyata banget. Aku yakin Pakde Karto suka mencicipi berbagai macam perempuan dan tidak kesulitan untuk mendapatkan ‘daun-daun muda’.

Akan halnya Rini, istriku, dia adalah gadis idamanku saat kami masih sama-sama satu sekolah. Aku duduk di kelas 3 dan dia kelas 1 di SMU 1. Kami langsung berpacaran sejak dia masuk ke sekolah. Aku bangga dapat dia yang hitam manis dan paling ‘macan’, begitu teman-teman menyebut ‘manis dan cantik’ untuk Riniku ini. Dengan tingginya yang 170 cm, dia termasuk gadis paling semampai di sekolah kami. Kalau ada lomba volley antar sekolah Rini selalu menjadi bintang lapangan. Bukan karena menang bertanding tetapi karena macan-nya tadi. Aku tahu banyak perjaka lain yang naksir berat padanya. Walau Rini pernah juga mendapatkan julukan ‘piala bergilir’, aku tidak merasa keberatan. Dan pada akhirnya akulah pemenangnya yang bisa menggandengnya ke pelaminan.

Sesudah melewati tahun pertama pernikahan, kami merasakan adanya kurang seimbang, khususnya dalam hal hubungan seksual. Secara sederhana, Rini orangnya ‘hot’ banget, sementara aku mungkin ‘cool’ banget. Aku merasa kewalahan kalau mesti menuruti kemauannya. Dia mau setiap hari berhubungan seks. Sementara aku merasa cukup 2 kali seminggu. Untuk memenuhi keinginannya Rini memberikan aku berbagai macam jamu atau obat kuat. Pertama-tama kuikuti kemauannya itu. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Bagaimanapun kapasitas normalku ya, seminggu 2 kali itu. Akhirnya solusinya adalah kompromi, aku akan selalu berusaha menaikkan kapasitasku dan dia sedikit menurunkan kapasitasnya. Hasilnya? Entahlah.

Walaupun belum mempunyai anak, karena kami sepakat untuk KB sampai keadaan ekonomi kami mantap, Rini tidak kekurangan kesibukkan. Dia sering menerima pesanan ‘caterring’ dari teman atau tetangga untuk hajatan-hajatan kecil di seputar rumah kami. Terkadang dia juga membuat makanan kecil untuk dititipkan ke warung-warung. Itu semua dia kerjakan dengan senang hati untuk mencari sekedar tambahan nafkah rumah tangga.

Dia juga suka mengeluh risih dengan sikap Pakde Karto. Tetapi dia bilang nggak mau terlampau risau dan tetap menunjukkan sikap sopan sebagai keponakan mantu.

Sejak beberapa bulan terakhir ini aku terseret pergaulan teman di kampung ikut main lotere buntut atau yang biasa disebut ‘togel’. Pada awalnya aku menyaksikan seorang teman menarik kemenangan sebesar 15 juta rupiah kontan. Aku langsung tergiur. Saat pertama kali aku pasang togel, Rini marah dan sangat tidak setuju. Tetapi sesudah aku berusaha menenangkannya akhirnya dia tidak lagi menentang walaupun tidak sepenuhnya menerima gagasanku. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya dari sekian nomer yang kupasang salah satunya berhasil menang. Aku berhasil menarik 1 juta rupiah. Dengan gembira uang itu kuserahkan seluruhnya kepada Rini. Ternyata istriku ini menerimanya dengan dingin. Aku tidak putus asa dengan sikapnya itu. Aku anggap itu sebagai tantanganku untuk memenangkan kesempatan berikutnya. Kini setiap hari aku selalu sibuk dengan togel. Setiap hari berusaha mencari kode-kode nomer bagus. Mungkin lewat mimpi sendiri atau mimpi tetangga, nomer mobil yang melintas atau mentafsirkan gambar-gambar kode yang kudapat dari bandar atau tanya ke dukun.Demikianlah hal tersebut berjalan beberapa waktu dan ternyata aku tak pernah lagi menarik kemenangan yang berarti.

Pada akhirnya aku benar-benar bangkrut. Dan tak ada jalan lain kecuali aku telpon ke Pakde Karto untuk pinjam uang. Setelah berbasa basi untuk keperluan apa uang itu dan kapan aku mengembalikannya akhirnya dia setuju untuk memberi pinjaman. Sebagaimana biasa Pakde Karto datang ke rumah. Walaupun hatiku resah karena ada satu nomer togel penting yang kuyakini akan keluar malam ini tetapi aku harus sabar sampai Pakde Karto menyerahkan uangnya ke istriku Rini. Kali ini rasanya aku nggak keberatan kalau Pakde Sastro akan melotot untuk menikmati kecantikan istriku. Silahkan, yang penting duitnya cepet turun.

Sesudah aku menanda tangani pernyataan hutang yang selalu telah disiapkan Pakde dan saat amplop uang diserahkan ke istriku yang untuk selanjutnya dibawa dan dia taruh di bawah bantal, aku cepat bergerilya.

Tanpa sempat menghitung kucomot separo dari tumpukkan uang itu. Dengan alasan akan ke warung beli rokok kutinggalkan Pakde Karto di rumah bersama Rini istriku. Aku tak sempat lagi memperhatikan wajah Pakde yang langsung hingar bingar sambil menganggukan kepalanya padaku. Yang kupikir sekarang adalah secepatnya menuju tempat bandar togel dan memasang nomer pilihan. Aku akan tunjukkan pada istriku bahwa memasang togel juga merupakan usaha yang bisa menghasilkan. Lebih dari separuh uang yang kubawa kupasangkan pada nomer pilihanku dan sebagian lainnya kupasang sebagai cadangan apabila nomer pilihan meleset. Aku yakin besok bisa mengembalikan utangku pada Pakde dan sisanya yang masih sangat besar akan kuserahkan seluruhnya pada istriku.

Demikianlah perputaran kehidupanku akhir-akhir ini. Nomer togel itu nggak pernah lagi kumenangkan. Rini selalu marah-marah dan semakin sinis padaku. Dan hutangku pada Pakde Karto sudah tak terhitung lagi. Pada hari-hari terakhir ini aku selalu lari menghindar kalau orang suruhannya datang mencari aku. Dan melihat wataknya Pakde Karto pasti akan terus mengejarku hingga uangnya bisa kembali.

Pada suatu pagi datang utusannya membawa surat. Aku tak berani menemuinya. Isteriku menerima surat itu,
“Datanglah ke kantor. Jangan khawatir. Ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Saya tunggu siang ini. Pakdemu.”
Ah, nampaknya kali ini Pakdeku benar-benar mau membantu keponakannya yang sudah pusing tujuh keliling. Aku berpikir dia akan suruh aku membantu pekerjaannya di kantor agar aku bisa melunasi hutangku. Sesudah aku pamit istriku tanpa ragu aku datang ke kantornya.

Di kantornya aku langsung diantar Satpam masuk ke ruangan Pakde. Pakde menyuruh aku duduk di sofa dan menyuruh Satpamnya yang nampak kekar berotot itu agar berdiri menunggu. Ternyata Pakde menampakkan wajahnya yang sangar. Dia melihati aku seperti seorang pemangsa melihati korbannya. Dengan pandangan matanya yang bak elang siap mencabik-cabik mangsanya Pakde berbicara dengan garang, “Begini Herman. Aku tahu kamu nggak mungkin bisa membayar hutangmu yang hingga saat ini telah mencapai lebih dari 15 juta rupiah belum termasuk hitungan bunganya. Sekarang hanya ada satu pilihan yang menyelamatkan kamu atau urusannya jadi lain,” dia mengakhiri omongannya sambil melirik ke Satpamnya.

Dalam keadaan yang sangat putus asa mana mungkin aku punya gagasan-gagasan untuk memecahkan masalahku. Dan tekanan Pakde Karto ini memang pantas aku terima. Aku memang sudah banyak janji tak bisa kupenuhi. Aku bangkrut dan istriku terus marah-marah. Maka secepatnya aku pasrah saja. Aku menyerahkan pada Pakde. Apapun jalan keluarnya aku akan menyetujuinya yang penting hutangku lunas. Nampak sikap Pakde melunak. Dia suruh Satpamnya meninggalkan ruangan.

Pakde mendekat sambil menepuk pundakku. Dia minta aku mendekatkan kupingku. Beberapa saat dia membisikkan usulnya. Sejak awal bisikkan kupingku sudah langsung panas terbakar dan aku benar-benar terpojok tanpa punya pilihan. Pakde bilang, aku bisa melunasi hutangku kalau dia boleh mengajak isterku Rini ke villanya. Kalau aku tidak setuju mesti melunasi hutangku dalam tempo 1 kali 24 jam atau urusannya jadi lain.

Masih ada tambahkan lagi, dia akan tidur bersama Rini selama 3 hari dan agar aku ikut juga ke villa. Pelayannya sengaja dia liburkan karena Pakde takut mereka lapor ke istrinya. Aku harus menggantikan tugas pelayan-pelayan itu untuk membersihkan kamar dan melayani kebutuhan Pakde bersama Rini istriku selama di sana.

Dia bilang hal itu terpaksa dia lakukan sebagai pelajaran untukku. Kini aku harus cepat pulang untuk menyampaikan hal ini kepada istriku. Besok pagi dia akan mengirim mobil untuk menjemput aku dan Rini. Kami harus berlagak sebagai suami istri yang datang dan menginap di villa itu. Pakde Karto akan datang sendirian menjelang sore hari yang akan berlagak seolah-olah sebagai tamu kami.

Rupanya naskah Pakde sudah dirancang secara matang. Mataku langsung berkunang-kunang mendengar bisikkan iblis itu. Aku tak ingat apa-apa lagi dan terjatuh lemas ke lantai. Saat aku sadar kulihat Satpam tadi sudah mendudukkan aku ke sofa. Aku diberinya minum. Aku masih terhenyak beberapa saat. Pakde Karto tak kulihat lagi. Dia hanya pesan pada Satpam untuk menyampaikan sebuah amplop. Saat kubuka kulihat dua puluh lembar 100 ribuan rupiah dan secarik surat, “Herman, besok mobil menjemput kamu bersama Rini, jam 7 pagi. OK?! Pakdemu.”
“Bajingan..!”

Aku tak melihat jalan keluar. Dengan sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya, dengan susah payah aku sampaikan keinginan Pakde Karto. Istriku Rini menerima amplop Pakde Karto menengok isinya sambil mendengarkan bicaraku kata demi kata dan kemudian melihat aku dengan penuh iba. Aku tak mampu membaca perasaan dia. Dia nampak marah dan sangat kecewa padaku. Pasti sepertinya sangat dihinakan dan itu sangat menyakitkan. Aku juga langsung membayangkan Pakde akan menjamahi bagian-bagian tubuhnya yang indah dan sangat rahasia. Pakde akan melahapnya dengan kerakusan bandot tua. Dasar ibliiss..!!
Selesai aku bicara Rini rubuh ke lantai. Ah, kasihan kamu Rini.. Kamu jadi korban ketidak mampuanku. Aku gagal menunjukkan tanggung jawabku selaku suamimu. Aku sebenar-benarnya adalah suami yang pengecut. Ayoo.., bangunlah. Kuraih tangannya untuk bangun dari lantai. Dengan limbung dia tertatih dan bangkit. Dia langsung lari ke kamar tidur sambil menghempaskan pintunya. Kususul tetapi ternyata pintunya terkunci. Kucoba mengetok-etoknya. Akhirnya kubiarkan. Sebaiknya kubiarkan. Biarlah dia melampiskan kemarahan dan kekecewaannya dulu. Pasti dia tidak ingin aku mendekatinya. Dan pasti, entah bagaimana, Rini saat ini sangat memandang aku dengan penuh kehinaan.

Aku mencoba sabar dengan menunggunya hingga sore. Sementara rasa marah, cemburu, dendam, cemburu, cemburu dan cemburu terus mengejar aku setiap aku mengingat ucapan Pakde Sastro. Tetapi aku langsung ingat masa-masa masih pacaran dulu. Aku sering memergoki Rini, yang pacarku waktu itu, nampak jalan berduaan dengan teman lelaki yang lain. Waktu itu aku selalu berpikir positip. Aku yakin dengan kesabaranku akhirnya Rini akan tetap kembali ke aku. Dan itulah yang kemudian terjadi. Dialah yang kini menjadi Rini Herman, khan?! Jadi aku sesungguhnya sudah terbiasa dengan rasa cemburu yang kali ini berkobar dalam hatiku. Aku tetap akan berpikir positip adanya Pakde Sastro bersama Rini istriku selama di villa nanti. Apalagi dengan cara ini Pakde Sastro berjanji akan menganggap lunas seluruh hutang-hutangku.

Dan besok, aku bersama Rini harus telah siap saat mobil Pakde datang. Dari berbagai pikiranku yang campur aduk, harapanku tetap pada Rini. Harapanku Rini bisa memahami kondisi ini. Dan Rini siap untuk melayani keinginan Pakdenya.. Ah.. aku sudah semakin pusing.
Aku tak mampu lagi memikirkan tetek-bengek apa yang mungkin bisa terjadi. Lebih baik kini aku sedikt mencari hawa segar.

Kulihat amplop di meja. Aku ingat nomer impianku hari ini. Ah, nggak salahnya kalau aku ambil sedikit uang itu. Aku langsung bergegas ke bandar togel.

Cerita Rini Sang Istri

Masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan. Begitu lulus SMP 3 aku diterima di SMU 1 Sleman, Yogyakarta. Sebagai gadis remaja yang menginjak dewasa aku dimanjakan alamku. Alam telah bermurah memberikan aku kecantikan. Dan bak kembang yang sedang mekar, kumbang-kumbang di sekitarku setiap saat mengelilingi aku untuk siap mencicipi maduku. Dalam kelompok olah raga, dengan tinggi tubuhku yang 170 cm aku diterima sebagai anggota club volley SMU. Setiap ada kompetisi, biar kalah atau menang aku selalu menjadi bintangnya. Para jejaka antar SMU pada mengenali ‘macan’ku. Demikian mereka memberi julukan padaku yang mereka artikan sebagai manis dan cantik. Tentu saja hal itu amat membanggakan dan sekaligus membuat para siswi dan gadis-gadis cemburu dan iri. Aku bersikap ramah pada siapapun yang berusaha mendekati aku.

Beberapa pria memang memberikan kesenangan padaku. Aku pikir tidak salah kalau aku memberikan perhatian lebih pada mereka. Salah satunya adalah Ditto yang anak dokter itu. Dia sangat simpatik. Wajahnya yang tampan telah membuat aku kesengsem. Aku merasakan ciuman pertamaku dari Ditto ini. Duh.., rasanya selangit. Aku juga akrab dengan Usman. Dia anak yang paling cerdas di sekolahnya. Dia bercita-cita menjadi ahli pertanian dan peternakan. Kesulitan pelajaranku selalu kutanyakan kepadanya. Usmanlah yang menjadi pria pertama yang berani menjamah dan bahkan menyedoti buah dadaku. Saat itu, dia cerita tentang proses kelahiran ikan paus. Sesudah sekian bulan dalam kandungan ikan paus lahir sebagaimana binatang menyusui lainnya. Dia langsung bisa menyesuaikan lingkungannya yang di tengah samudra. Anak ikan paus langsung bisa berenang dan mencari susu induknya. Aku sangat menikmati saat dia memperagakan sebagai anak paus dan aku induknya.

Lain lagi dengan Pandi. Tubuhnya yang jangkung itu membuat dia menjadi banyak incaran gadis-gadis di kota kecil Sleman ini. Kuakui memang dengan jangkungnya itu dia nampak sangat menawan. Gadis-gadis suka cekikikan kalau membicarakan Pandi. Mereka berbisik mengenai penis lelaki jangkung yang dipercayai pasti panjang dan besar. Aku ingin menjadi yang pertama bisa menbuktikan bisikkan-bisikkan para gadis itu. Dan akhirnya aku percaya. Dan aku jadi blingsatan serta penasaran saat berkesempatan jalan dengan dia.

Saat itu dengan sepeda motornya dia mengajak aku menyaksikan Samudra Hindia dari Parangtritis yang tidak jauh dari kotaku. Sesudah menelusuri pantainya yang sangat indah kami beristirahat di tempat yang sunyi dari pengunjung kebanyakan. Sesudah melalui proses saling raba dan cium yang cukup lama, dengan tetap duduk di sepeda motornya Pandi membiarkan saat tanganku merabai tonjolan di selangkangan celananya. Aku juga tidak tahu kenapa nafas birahiku memburu. Tanganku melepasi resluiting dan menarik kebawah celananya.

Birahiku semakin tak tertahankan saat kulihat alur besar agak melengkung melintang dari balik celana dalamnya. Tanganku merabai, kemudian menyusup lewat tepiannya dan meraih penis itu. Woow.. gede banget. Telapak tanganku merasakan batangan sebesar pisang tanduk yang keras kenyal dan hangat. Batangan itu berdenyut-denyut menggoyahkan saraf-saraf birahiku. Kugerakkan bersama jari-jariku untuk mengelusinya. Kudengar suara yang sangat nikmat ditelingaku. Suara debur Samudra Hindia dan derai angin Parangtritis bersamaan erangan nikmat dari mulut Pandi.

Itulah untuk pertama kalinya aku melihat dan menyentuh dan bahkan mencicipi air mani lelaki. Saat mau muncrat kelakuan Pandi menjadi kasar. Kepalaku diraihnya untuk dipaksa mengulum penisnya. Air maninya yang kental keluar dari setiap denyutan penisnya. Karena dorongan birahiku, aku juga menjilati yang tercecer di pahanya dan juga di jok sepeda motornya. Aku nggak habis mengerti kenapa sesudah itu Pandi tak pernah lagi mengajak aku pergi.

Kuperhatikan teman-teman pria itu gede cemburuannya. Mereka mau monopoli aku. Aku menjadi kurang nyaman dalam kungkungan macam itu. Biasanya, kalau tidak mereka, ya aku yang meninggalkannya untuk pergi ke pria lain.

Akhirnya aku menikah dengan Mas Herman. Ternyata lelaki macam dialah yang bisa menerima aku dengan penuh sabar. Aku tahu Herman telah naksir berat padaku begitu aku menginjak SMU-nya. Sebagai yunior aku sering mendapatkan bantuan mengenai perpustakaan, grup olah raga atau acara antar siwa lainnya.

Herman memang sabar dan penuh toleransi. Bahkan saat dia melihat aku jalan berdua-an dengan anak lelaki yang lain Herman tidak merubah sikapnya padaku. Herman juga selalu jadi terminal dan tempat aku mengadu. Kekecewaanku pada pria lain kuceritakan apa adanya padanya. Dia sabar mendengarkan aku dan pada sikapku yang labil. Aku merasakan libidoku kelewat panas. Aku tidak hidup tanpa ada lelaki disampingku. Dan Hermanlah akhirnya yang selalu mengisi kekosonganku.

Saat kami sepakat pindah ke Jakarta aku sudah siap untuk menghadapi berbagai cobaan hidup. Aku punya bakat bertualang. Dan salah satunya sudah kubuktikan dalam hal berhubungan dengan lelaki. Aku tidak takut kesulitan di Jakarta. Aku yakin pada diriku, aku juga tidak khawatir dengan Herman yang selama ini mengetahui dan sabar menghadapi berbagai macam kesulitan.

Yang kurang aku setujui akhir-akhir ini adalah kesukaannya akan lotere buntut. Aku benci banget kalau lihat lelaki sibuk dengan lotere buntut atau togel itu. Di mataku mereka itu kumuh. Bayangkan saja, mandi saja rasanya tidak sempat. Mereka terjebak pada kertas-kertas kode. Sepanjang harinya hanya memikirkan ramalan-ramalan dukun atau firasat mimpi-mimpinya bahkan mereka ini sudah demikian rapuh dimana sebuah keyakinan bisa langsung buyar berkeping-keping oleh nomer plat mobil yang kebetulan melintas di depannya.

Itulah Herman hari ini. Dalam tempo pendek dia terlibat hutang yang besar. Pakde Karto adalah Pakde sepupunya yang kebetulan punya usaha yang cukup maju di Jakarta. Pada Pakdenya inilah Mas Herman minta pinjaman uang kalau lagi kesulitan. Pada awlnya pinjaman itu tak begitu besar dan bisa lekas dikembalikan saat ada sedikit rejekinya. Tetapi sejak bermain togel, kebutuhannya semakin tinggi dengan kemampuan pengembaliannya semakin rendah, bahkan boleh dibilang nol. Pakde sudah tidak mau memberikan pinjaman lagi. Bahkan beberapa hari terakhir ini orang suruhannya mencari-cari Mas Herman yang selalu menghindar. Terus terang aku repot banget menghadapi kenyataan ini.

Tadi pagi orang suruhannya kembali datang membawa surat. Aku terima dan baca. Dari nada tulisannya Pakde Karto akan memberikan jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Nggak usah kawatir, begitu katanya. Aku berpikir, mungkin Mas Herman dimintanya untuk membantu pekerjaannya agar bisa melunasi hutangnya. Aku sampaikan surat itu kepadanya. Dia minta pertimbangan aku, apa mesti menemui Pakdenya. Aku bilang itu urusan Mas Herman, terserah mau datang atau tidak. Aku memang agak ketus. Soalnya aku sudah kesal. Sejak awal aku sudah sampaikan bahwa aku tidak suka judi.

Akan halnya Pakde Karto, aku memahami sifatnya sebagai lelaki. Umumnya lelaki memang mata keranjang. Apalagi Pakde ini punya uang, dan tampangnya juga ‘handsome’ kata gadis-gadis jaman aku masih SMU dulu. Walaupun sudah umur, lelaki itu ibarat keladi, makin tua semakin jadi dan semakin seksi. Dan itu semua dimiliki Pakde Karto. Dan aku juga sepenuhnya menyadari bahwa Pakde nampak kesengsem padaku. Dari pandangan matanya kurasakan betapa dia pengin banget melahap tubuhku. Terus terang diam-diam aku menikmati mata keranjangnya Pakde. Tentu sikapku ini tak akan kutunjukkan pada Herman suamiku. Aku masih suka mimpi merasakan kembali bagaimana kumbang-kumbang terbang mengitari aku sebagai kembangnya. Kekaguman lelaki yang nampak matanya rakus menikmati tubuhku sungguh membuat bergetar hatiku. Mata-mata penuh nafsu yang seakan melihat aku telanjang itu benar-benar memberikan aku gairah birahi.

Aku memang berdarah panas. Aku selalu rindu belaian. Aku selalu merindukan sentuhan dan tusukkan erotis. Mas Herman suamiku berterus terang tidak bisa mengimbangi darah panasku. Aku sering membayangkan lelaki lain atau semacam Pakde Karto yang mampu memberikan kehangatan semacam itu. Kalau sudah begitu aku ingat kembali saat-saat bersama Ditto, Usman atau Pandi. Masih terasa banget dihidungku aroma mereka. Masih terasa banget dibibir dan lidahku di bibir, leher dan dada mereka dalam kecupan dan jilatan manisku. Masih terasa banget hangatnya cairan kental dari penis Pandi yang membasahi mulutku. Ah.., akankah hal itu akan kudapatkan lagi?

Memang Pakde Karto tidak lagi pantas menjadi panutan Mas Herman sebagai keponakannya. Setiap kali datang ke rumah yang semestinya urusannya sama Mas Herman, Pakde justru mengumbar matanya seakan hendak menelanku. Sering aku lihat dia hanya mengangguk-angguk saat Mas Herman menyampaikan sesuatu, sementara wajahnya melihati ke arahku.

Belum lama ini dia datang atas permintaan Mas Herman untuk meminjami uang, sesaat sesudah menerima uang Mas Herman yang sedang kegilaan sama togel pergi ke bandar togel untuk mengejar mimpinya dan meninggalkan aku yang hanya bersama Pakde Karto. Tentu saja Pakde langsung menggunakan kesempatan itu untuk lebih mendekati aku.

Dengan gaya seolah-olah orang tua yang melindungi anaknya, dia mengelusi rambutku,
“Rini, kalau kamu punya masalah biar Pakde bantu ya. Kamu masih muda dan sangat ayu. Seharusnya kamu nggak perlu menderita. Kamu perlu apa? Ngomong saja nanti aku bantu ya, Cah Ayu”.
Duh, gombalnyaa.. Aku merinding saat tangannya yang nampak berbulu sempat menyentuh kudukku. Kemudian dia merogoh kantongnya dan memberikan kepadaku amplop besar,
“Ini buat kamu sayang. Jangan kasih Herman. Nanti buat judi lagi.”
Tentu saja aku terima. Aku juga perlu uang pribadi. Aku bertemu pandang dengan Pakde,
“Terima kasih,” ucapku pelan yang dia balas dengan senyuman buaya sambil tangannya menjumput daguku kemudian menariknya untuk mencium bibirku.

Peristiwa itu sama sekali tak kuduga dan berlangsung sangat cepat sehingga aku tak sempat menghindarinya kecuali dengan secepatnya aku menarik diri dan melepaskan dari rengkuhannya. Ah, seharusnya aku tersinggung dengan tingkahnya itu. Tetapi entahlah. Sepertinya aku tidak bisa berkutik didepan Pakde Karto ini. Pada saat seperti ini rasanya dia sangat kharismatik. Aku tunduk. Aroma parfum lelakinya semburat menerpa hidungku.
Sepulang dari kantor Pakde kulihat Mas Herman sangat tegang, kasihan. Aku berjanji pada diriku, apapun aku akan bantu suamiku. Aku ingin meringankan bebannya. Dia langsung duduk bengong, linglung. Aku sodorkan segelas air putih yang langsung diminumnya habis. Dia belum juga ngomong. Diserahkannya padaku amplop yang penuh. Loh, kok dapat malahan uang, pikirku. Aku langsung membukanya. Kudapati segepok uang dan secarik kertas. Aku belum juga ngerti makna semua ini.

Pakde Karto akan menjemput kami besok pagi. Apa maksudnya? Mau menjemput kemana? Dengan penuh tanda tanya aku goyang-goyangkan tubuh Mas Herman. Akhirnya dengan tersendat-sendat dia bicara dan bicara. Aku mencoba menangkap kata per kata. Kemudian aku mencoba memahami rangkaian kata-kata tadi. Hingga akhirnya aku tetap tak mengerti bahwa seorang Pakde Karto akan caranya yang demikian buruk untuk bisa mendapatkan dan menikmati tubuhku. Ah, kenapa mesti begini..?!

Tetapi yang sesungguhnya paling menyedihkan dan langsung membuatku sangat kecewa adalah sikap Mas Herman sendiri. Dia sama sekali tidak menunjukkan kapasitasnya sebagai suami. Dia ternyata hanyalah seorang pengecut. Dia dengan begitu tega mengorbankan aku sebagai isterinya. Dengan dia menerima amplop berisi uang yang kini ditanganku berarti dia benar-benar telah menjual aku dan menjadikan aku sebagai alat untuk membayar hutang-hutangnya dengan sama sekali tidak membicarakannya padaku terlebih dahulu. Dan kini, aku harus dan harus menerima buah kepengecutan dia. Aku langsung limbung. Kulihat dinding-dinding kamar oleng dan jungkir balik. Tubuhku sangat lunglai dan aku langsung terjerembab ke lantai. Aku kini merasa sebatang kara tanpa ada seorangpun yang melindungiku. Fungsi Mas Herman sebagai suami sudah musnah karena kepengecutannya. Dia tak akan pernah mampu menyelamatkanku lagi.

Kurasakan tangan Mas Herman menarikku bangkit. Pelan-pelan aku bangun dari lantai dan langsung lari ke kamar tidur. Pintunya kubanting dan aku mengunci diriku. Aku rebah tergolek dan tersedu di ranjang. Ketukan pintu yang bertubi-tubi dari Mas Herman tak kudengarkan. Kini yang hadir dalam hati dan pikiranku adalah rasa marah, kecewa dan dendam. Aku marah, kecewa dan dendam kepada kehidupan ini. Kepada ketidak mampuan dan segala kelamahan yang aku alami. Kepada sikap suamiku yang bagitu mengabaikan saat aku melarangnya berjudi. Dan tetap tak habis heranku memikirkan rencana Pakde Karto itu yang jelas-jelas mengorbankan hubungannya dengan keponakannya. Ber-jam-jam aku tidak keluar dari kamar. Pikiranku terus melayang-layang memikirkan banyak hal-hal. Aku menerawang jauh ke hari depan yang begitu gelap dan mendung.

Aku keluar kamar menjelang malam. Tak kujumpai Mas Herman. Kulihat amplop di meja setengah terbuka. Kuambil. Ternyata isinya tinggal separuh.
Edaann.., sungguh edaann.. kamu Mas.., dalam situasi begini kamu masih menyempatkan pergi untuk ke bandar togelnyaa..!! Edaann..!!
Tiba-tiba aku hatiku jadi menyala berkobar.. Kalau begini jadinya, sudahlah.. terjadilah apa yang mesti terjadi. Seperti dicambuk jilatan geledek dan petir aku bangkit sebagai banteng betina yang sangat marah dan kecewa. Aku mau bebas. Aku mau merdeka. Dan, ah, aneh.., tekad itu langsung membuat marah, kecewa dan dendamku langsung pupus. Kebebasan dan kemerdekaanku membuka kesadaranku bahwa aku tak perlu tergantung siapapun. Dan yakin mampu berjalan sesuai dengan rasa bebas dan merdekaku.

Sikap itu langsung membatu dalam diri sanubariku. Aku akan mengambil langkahku sendiri. Kini kuyakini, akulah yang harus mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Tak ada lagi suami atau Mas Herman. Yang ada hanyalah aku yang sendirian dengan hari-hari depanku sendiri. Aku akan jalani apa yang mesti aku jalani. Aku akan jemput Pakde Sastro sesuai dengan kebebasan hatiku. Aku akan layani dan puaskan hausnya nafsu hewaniah Pakde Sastro. Aku akan mereguk kenikmatan syahwatku yang selama ini tak sepenuhnya kudapatkan. Aku akan tunjukkan pada Herman bahwa aku kini bebas se-bebas-bebasnya.

Cerita Pakde Karto

Setiap mengingat bahwa aku ini hanya jebolan SMP dari desa kecil di kecamatan Sleman, Yogyakarta, yang kalau aku turun di terminal saat pulang kampung masih memerlukan 1 jam lagi berjalan kaki dan nyeberangi kali hingga sampai ke rumahku di kaki bukit Menoreh, maka aku merasa bahwa apa yang kini aku bisa raih di Metropolitan Jakarta ini sungguh membanggakan.
Dan kalau aku pulang kini, ibaratnya aku cukup dengan duduk di jok empuk sambil nginjak-injak rem serta gas mobil Panther-ku sejak start dari pintu garasi rumahku di Jakarta hingga turun di samping kandang sapi orang tuaku di desa kecil di kecamatan Sleman itu.

Jakarta memang memberi apa yang kuminta. Usahaku yang menyalurkan tembakau untuk pabrik-pabrik rokok kecil di Jakarta membuahkan hasil. Aku menjadi pusat omongan di desaku.
Kalau kudengarkan omongan orang desa, aku kini sudah menjadi orang yang pantas menjadi contoh mereka. Nggak tahu dari mana asalnya, kalau mereka ketemu mereka memanggilku dengan ‘den Karto’. Aku nggak menampik panggilan itu. Aku anggap bahwa itu urusan mereka.

Yaahh.., semuanya itu karena kerja keras dan uang yang kuhasilkan. Terbukti dengan uang aku bisa meraih banyak kesenangan. Makan enak, rumah, beberapa mobil dan kesengan lainnya.
Bahkan biarpun umurku sudah 57 tahun dengan uang itu aku tetap dengan gampang menggaet gadis atau janda manapun yang kumaui. Memang menurut orang-orang aku juga termasuk lelaki yang memiliki tampang dan seksualitas yang lumayan.

Saat ini aku lagi kesengsem sama Rini istri Herman keponakan sepupuku. Pada awalnya Herman menemuiku di kantor untuk minta bantuan keuangan padaku. Aku memberikan bantuan ala kadarnya. Aku pikir nggak baik terlalu gampang pada famili, nantinya bisa jadi repot. Saat pulangnya, karena memang masih ada hubungan famili, aku antar pulang ke rumahnya untuk melihat keadaan rumah tangganya. Saat itulah aku lihat Rini. Isteri Herman ini benar-benar cantik dan manis. Pikiranku langsung terganggu. Aku tahu, perempuan macam Rini ini akan sangat galak dan panas saat di ranjang. Dengan warna kulit yang coklat hitam manis, dengan postur jangkung dan bahunya yang bidang indah itu, aku pastikan Herman kewalahan menghadapi birahinya Rini. Lihat, betisnya itu. Betis yang ‘merit’ bak padi Cianjur yang matang dan padat sebelum dituai. Itu menandai bahwa nafsu perempuan ini tak mudah terpuaskan.

Aku langsung kasmaran. Dalam hatiku aku langsung bertekad. Rin, kamu pasti akan tidur bersamaku. Aku akan meraihmu, lambat atau cepat. Sejak saat itu aku selalu menunggu kesempatan. Aku tak pernah menolak permintaan pinjaman uang Herman, karena memang aku selalu gunakan kesempatan itu untuk melihat Rini.

Suatu saat bisnisku mendapatkan kesulitan keuangan. Tagihan-tagihanku agak tersendat karena para langgananku mengulur waktu pembayarannya. Sementara para pemasokku yang dari berbagai daerah gencar banget menagih aku. Bahkan salah satu dari mereka mengancam aku secara fisik hingga aku khawatir akan keselamatanku maupun keluargaku. Aku menghadapi krisis berat, krisisnya bisnis di tengah metropolitan yang kejam. Aku kewalahan. Aku coba tengok-tengok kembali dimana uang-uangku. Dimana tunggakan-tunggakan macet.

Dan kudapatkan dari sekian penunggak hutang salah satunya adalah Herman. Ternyata pinjaman Herman padaku sudah kelewat besar dan telah jauh melewati batas waktu pembayaran. Ah, ini tak boleh kubiarkan. Aku tahu bahwa tak akan gampang bagi Herman melunasi hutang-hutang ini. Tetapi aku harus menagihnya. Bukankah terakhir ini dia suka pasang lotere buntut. Siapa tahu dia dapat pukulan telak yang bisa langsung melunasi seluruh hutangnya. Dan kalau toh tak bisa juga?
Bukankah ada Rini istrinya yang sangat seksi itu? Aku pikir biarlah hutang itu kuanggap lunas kalau aku bisa meniduri Rini barang 2 atau 3 hari saja. Kini kuperintah orangku untuk mendatangi Herman dan mengajukan surat tagihannya.

Setelah beberapa kali mencari-cari orangku tak berhasil menemui Herman aku mulai kesal. Masak bantuan dan kebaikanku padanya selama ini tidak dihargai. Setidak-tidaknya ada omongan atau janji kapan, begitu loh. Aku tersinggung dan marah. Herman ini mesti dikasih pelajaran. Dia harus tahu bagaimana aku Pakdenya menyelesaikan masalah-masalahnya. Aku harus cari siasat. Aku coba pikirkan dan analisa.

Kesimpulanku akhirnya, bahwa Herman tak akan mampu membayar hutangnya. Kuhitung telah lebih dari 15 juta rupiah, belum termasuk bunganya. Itu jumlah yang besar buatku kini. Aku tak mau rugi. Aku tak mau hasil jerih payahku begitu saja diambil Herman yang memang dasarnya pemalas itu. Aku harus mendapatkannya kembali uang itu. Kalau nggak bisa juga, aku harus dapatkan pengganti yang kira-kira nilainya sepadan. Rini, istrinya!

Kini Herman tinggal pilih, bayar hutang dengan uang atau Rini. Aku bergegas ke mejaku. Kutulis surat untuknya. Kuperintahkan orangku kembali mengantarkannya dengan pesan, kalau tak ketemu Herman, serahkan saja ke isterinya, suruh dia baca untuk disampaikan ke suaminya. Aku bersiasat dengan memberikan nada harapan pada surat itu. Aku minta datang ke kantor siang hari itu. Aku bilang jangan khawatir, ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan, tulisku.

Nah, akhirnya datang juga si pecundang ini. Dengan diantar Satpam dia masuk keruangan kerjaku. Aku menampakkan wajah sangarku. Kuperintah Satpamku agar menunggu dan mendengarkan bicaraku. Nampak wajah lelahnya. Aku bicara garang tentang hutangnya yang sama sekali belum dibayar. Aku berikan padanya kesempatan untuk mendengar bicaraku atau urusannya jadi lain. Nada bicaraku kubuat sangat menekan dia. Dan ternyata Herman langsung menyerah. Dia bilang terserah bagaimana aku. Yang penting dia ingin lekas terbebas dari hutang-hutangnya yang menumpuk itu.

Aku langsung bayangkan bahu bidangnya Rini. Juga betisnya yang bak beras Cianjur yang matang itu. Kutolehkan kepalaku ke Satpam. Kusuruh dia keluar ruangan. Kemudian aku mendekat ke Herman, kupegang bahunya dan kudekatkan bibirku ke telinganya, aku berbisik. Kuucapkan apa mauku. Aku mau mengajak Rini ke villaku selama 3 hari dan aku mau juga dia ikut untuk menggantikan tugas pelayanku yang kusuruh pulang selama aku bersama Rini di sana. Hal ini aku lakukan agar pelayanku itu tidak melihat apa yang kuperbuat dan lapor pada istriku. Kutekankan pula bahwa semua ini karena ulahnya yang tidak bertanggung jawab. Dia harus menerima pelajaran dariku.

Aku belum selesai bicara saat kulihat Herman nampak limbung dengan cahaya matanya yang layu. Dia rebah lemas ke lantai. Aku panggil kembali Satpamku untuk mengurusinya. Kuserahkan amplop berisi 20 lembar ratusan ribu rupiah berikut sedikit catatanku agar Rini bersama dia telah siap aku jemput besok jam 7 pagi. Aku percayakan pelaksanaan selanjutnya pada Satpamku, aku tinggalkan ruangan. Aku monitor sorenya. Tidak ada reaksi penolakkan dari Herman. Yaa.., dia nggak mungkin punya lain pilihan. Dan mengenai Rini. Aku yakin Rini tak akan menolakku. Aku masih ingat beberapa hari yang lalu saat aku mencuri ciuman dibibirnya, dia tidak menunjukkan kemarahan. Ah.. besok aku akan menikmati tubuh sensualnya. Aku menggigil menahan gelora birahiku yang langsung menyala.

Tiga hari di Villa Rimbun Ciawi

Pada suatu pagi hari, sekitar jam 7 pagi sebuah sedan Honda Civic keluaran terbaru dengan remnya yang berdernyit berhenti di depan rumah keluarga Herman. Seorang sopir yang amat sopan nampak turun, masuk kehalaman dan memberikan salam hormat kepada nyonya rumah yang rupanya sudah nampak tak sabar menunggunya. Tidak terlalu lama sang sopir menunggu, tuan dan nyonya rumah mengambil koper atau cangkingan lainnya yang telah disiapkan sebelumnya. Sesudah semua barang bawaan masuk ke begasi, Herman sang tuan dan Rini sang nyonya memasuki mobil. Ada sedikit insiden kecil. Rini mau Herman duduk di depan bersama sopir dan dia sendirian di belakang. Semula Herman menolak, dia ingat pesan Pakdenya mereka harus nampak sebagai suami istri yang akan memakai villanya.

Tetapi melihat kukuhnya Rini akhirnya Herman mengalah. Sepanjang hampir 1 jam perjalanan keduanya tidak banyak bicara. Hanya sesekali terdengar Herman ngomong sama sopir mengenai apa yang nampak sepanjang perjalanan. Adapun Rini kelihatannya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia yang telah memutuskan dirinya sebagai pengambil keputusan bagi dirinya sendiri kini nampak tegar dan yakin akan keputusannya sebagai orang yang bebas dan merdeka untuk menentukan apapun yang terbaik bagi dirinya.
Walaupun saat ini dia masih dikuasai rasa muak dan telah kehilangan selera sama sekali untuk berbicara atau melihati tingkah suaminya itu, dia tetap berusaha untuk menghilangkan berbagai rasa kecewa dan dendam kepada siapapun teristimewa kepada Herman. Yang dia inginkan sekarang adalah menunjukkan kepada Herman bahwa dia berbuat apapun yang bisa dia perbuat sesuai keinginan hatinya.

Herman yang tadi malam baru pulang jam 11 malam untuk menunggu keluarnya nomer togel tidak memahami apa yang tengah berkecamuk pada diri istrinya Rini. Yang dia simpulkan hanya bahwa Rini ternyata mau menerima apa yang menjadi keputusan Pakde Karto. Dan itu artinya dia telah sukses dalam menjalankan misinya demi terbebasnya beban hutangnya pada Pakde Karto. Dia sudah tidak lagi dikuasai rasa cemburu atau rasa tertekan yang lain. Memang Herman termasuk lelaki yang paling mudah menyerah. Dengan sikapnya yang sabar dan selalu mau berpikir positip dia dengan cepat beradaptasi dengan kekalahannya. Tentu saja cara begini ini membuat rancu antara orang sabar dengan pikiran positif yang sejati versus orang yang memang tidak memiliki motivasi, daya juang dan stamina untuk bertahan di tengah berbagai kesulitan hidup macam si Herman ini.

Bangunan Villa Rimbun Ciawi milik Pakde Sastro ini relatip kecil dibandingkan halamannya yang hampir seluar 2 hektar itu. Dalam vila ada 2 kamar tidur, 1 utama yang besar lengkap dengan kamar mandi di dalam dan yang lainnya lebih kecil. Ada dapur yang lengkap dan ruang tamu berikut perabotannya yang sangat nyaman. Di belakang rumah ada taman yang asri lengkap dengan kali kecil yang mengalir di dalamnya. Nampak dikejauhan lebih ke belakang hutan pakis dan pinus yang bersuasana sangat alami. Kesejukkan pegunungan di kawasan Ciawi ini membuat villa ini terasa sangat romantis dan tepat bagi mereka pasangan yang sedang berbulan madu. Setelah menyerahkan kunci villa bersama amplop surat Pakde Karto khusus untuk Rini dan bungkusan besar berisi makanan untuk siang itu, Pak sopir minta pamitan untuk balik ke Jakarta.

Sepulang Pak sopir, Rini cepat membuka surat itu. Herman tahu menempatkan diri. Dia berpura tak acuh, berdiri dan jalan ke beranda. Pakde bilang agar Rini menempati kamar utama yang besar, dan Herman memasuki kamar di sebelahnya yang kecil. Pakde akan datang sekitar jam 3 sore, karena masih ada beberapa pertemuan di Jakarta. Tanpa bicara Rini kemudian menyerahkan surat itu kepada Herman agar tahu apa yang dimaui Pakdenya. Dengan membanting pintu dan menguncinya Rini memasuki kamar utama sesuai kemauan Pakde Karto. Dan Herman langsung mengangkat tasnya sendiri ke kamarnya.

Ah.. kamar ini.. betapa mewah dan nyamannya.. Diarah samping nampak jendela besar dengan pintu ke beranda yang memberikan pemandangan indahnya alam pegunungan. Sesudah menaruh kopernya Rini mengamati interior kamarnya. Di samping ranjang mewah yang beralaskan sutra dia dapati vas besar dengan kembang mawar merah yang segar. Haahh.. tentunya sesorang telah menatanya sebelum dia datang. Mungkin Pakde yang, siapa tahu, nginap disini tadi malam dan menyiapkan segalanya, kemudian subuh balik ke Jakarta. Ah.. ada surat kecilnya..
“Rini sayangku.. aku mencintaimu .. Karto.”

Lihat di pojok itu. Bukankah itu wewangian aroma therapy di atas lilin kecil dari Korea yang sangat mahal itu? Sangat romantis. Rini sangat tersanjung dengan pernik-pernik itu. Sungguh pintar bulusnya Pakde Karto ini.

Rini ingin tahu lebih banyak lagi apa yang telah diperbuat Pakde Karto. Dia temukan baju tidur lembut tergantung di lemari pakaiannya disamping beberapa gaun-gaun mewah dan baru yang juga siap pakai. Dia pastikan semuanya itu untuk dia. Sesuatu yang belum pernah dia dapatkan dari suaminya sendiri. Dia ambil gaun-gaun itu dan bak peragawati dia memantas-pantaskan gaun-gaun itu pada tubuhnya di depan cermin. Sesekali dia senyum ketika menerawang ke cermin. Ah, bukankah kamu memang cantik dan luwes, Rin. Semua busana-busana itu dalam ukuran yang sungguh tepat untuk tubuhnya. Bukan main Pakde ini.

Berjam-jam dan hampir sepanjang hari Rini menyibukkan dirinya di kamar utama itu. Dia kembali membaca surat kecil romantis itu, Dia kembali mengamati wewangian mahal dari Korea itu dan berkali-kali mencoba pakaian-pakaian indah dan mewah yang bermacam dalam lemari itu.

Sementara itu Herman memasuki kamarnya. Tidak ada yang istimewa dia temukan dalam kamar itu. Mungkin ini kamar yang biasa dipakai pelayan atau penunggu villa ini. Nampak ranjangnya ditutup dengan sprei yang sudah lusuh. Kalau toh ada semburat wewangian itu karena aroma therapi yang semerbak menyebar keluar dari kamar utama dimana kini Rini berada. Sementara satu-satunya pemandangan adalah jendelanya yang justru menghadap ke arah jalanan dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang melintas. Selebihnya adalah dinding-dinding kamar yang menjadi batas kamarnya dengan kamar Rini.

Ohh.. tunggu dulu. Bukankah ini dinding artistik buatan dari papan-papan kayu pegunungan. Dan lihatlah, papan-papannya yang artistik ini penuh celah-celah dimana sesorang bisa mengintip ke kamar sebelahnya. Nah, aku bisa ngintip Rini, dong. Sedang apa dia?

Dan itu yang kemudian dilakukan Herman. Dan, ah.. benar.. dia kini bisa melihat istrinya sedang memantas-mantas dirinya dengan busana-busana indah yang pasti telah tersedia baginya. Ah, betapa cantik istriku Rini, begitu kata hatinya. Memang dia selalu bangga akan kecantikkan istrinya. Dan Herman tahu banyak lelaki yang kepingin bisa tidur dengan Rini.

Kemudian dia membayangkan sesaat nanti akan menyaksikan dari celah papan ini bagaimana Pakde Karto si bandot tua itu melahapi tubuh cantik isterinya itu. Ah, jangaann..!!
Tiba-tiba kembali Herman disergap rasa sakit dan cemburu yang menyala-nyala. Rasanya tak mungkin dia bisa rela menyaksikan Rini dalam pelukan Pakdenya. Dan akan melihat bagaimana Pakdenya melepasi satu-satu pakaiannya hingga istrinya bertelanjang. Dan bahkan dia akan dalam rengkuhan penuh birahi Pakde Karto yang juga akan sama-sama telanjang. Tiddaakk..!!

Herman kepingin membenturkan kepalanya ke dinding-dinding kamar itu. Tetapi kenapa?? Bukankah karena pengorbanannya dan juga pengorbanan istrinya hutangnya yang kini mencekik lehernya itu akan lunas? Bukankah dia akan terlepas dari beban yang tak tak terelakkan itu? Dan Pakdenya tidak lagi mengejar-kejarnya? Ah.., aku rasa pantas apa yang mesti aku terima kini. Dan itu artinya, nilai istrinya tidak murah. Bayangkan hutang yang lebih dari 15 juta rupiah cukup dibayar dengan membiarkan Pakdenya tidur dengan isterinya selama 3 hari. Dan bukankah sesudah itu dia bisa kembali memiliki Rini untuk selamanya? Hanya 3 hari, Man!

Pikiran terakhirnya ini langsung meredakan perasaan marah, sakit dan cemburunya. Dia kembali ke lubang pengintipan. Tiba-tiba dia merasakan hal yang aneh pada dirinya..

Celananya langsung berasa sesak. Kini kemaluan Herman ngaceng saat membayangkan istrinya digauli Pakdenya. Memang terbersit rasa cemburunya kembali, tetapi dia juga membayangkan bagaimana nanti saat Rini menerima kenikmatan syahwat yang dilepaskan oleh Pakdenya. Bagaimana nanti dia mendengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rini sekaligus nafas-nafas yang memburu dari Pakde Karto. Bagaimana nanti tubuh telanjang Rini bergesekkan dengan tubuh telanjang Pakdenya untuk bersama-sama mendayung birahi dan melepaskan dendam-dendam nafsunya. Bagaimana nanti bibir Pakdenya yang melumati pentil susu istrinya dan sementara kemaluan Pakde berusaha mencari jalan untuk menembusi kemaluan istrinya. Dan bagaimana nanti saat kemaluan Pakde, yang dia yakin ukurannya pasti lebih hebat dari miliknya, menerjang dan merobek bibir kemaluan isterinya. Dan bagaimana nanti dinding-dinding vagina Rini dirundung rasa gatal kemudian mencengkerami batangan bulat besar dan panjang milik Pakdenya.

Ah.. sudah, sudah, sudaahh..!! Herman langsung lari keluar kamar. Dia nggak mau dikejar bayangannya sendiri. Dia menghambur ke taman dimana ada kali kecil yang mengalir di dalamnya. Dia hendak melupakan segala sakit dan cemburunya dengan menyibuki diri menangkapi ikan dan udang kecil dari kali itu untuk dilepaskannya kembali.

Hingga Pakde Karto datang Rini tidak pernah keluar dari kamarnya. Hari itu sama sekali tak ada dialog antara Herman dan Rini sebagai suami isteri. Nampaknya Rini memang menghindar dari kemungkinan dialog itu. Rini pasti kecewa padaku, demikian pikir Herman. Ah biarlah, yang penting dia sudah mau menuruti kemauan Pakdenya. Bayangkan seandainya Rini menolak, apa yang akan menimpa dirinya nanti. Dia bayangkan Satpam Pakdenya yang kekar berotot itu.

Pakde Karto datang lebih lambat dari janjinya disebabkan kemacetan lalu lintas saat memasuki gerbang tol Jagorawi. Begitu mobilnya memasuki halaman Pakde Karto turun dan melemparkan kuncinya kepada Herman yang telah siap di depan gerbang untuk berlaku sebagai pengganti pelayannya. Kini dialah yang harus membersihkan atau mencuci mobilnya sesudah perjalanan yang penuh debu dan kotor dari Jakarta itu.

Dari dalam rumah nampak Rini yang istrinya memperhatikan perlakuan Pakde pada suaminya. Tak terbersit sedikitpun keharuan Rini pada Herman. Rini akhirnya bisa menerima apa yang kini harus dilakukan suaminya. Suatu imbalan yang setimpal atas kepengecutannya sebagai lelaki maupun sebagai suami. Dan kini juga ingin menunjukkan pada Herman bahwa kini dia bulan Rini yang dulu. Dia kini adalah Rini yang bebas dan merdeka yang bisa mengambil keputusan apapun yang dia mau.

Begitu Pakde Karto memasuki teras rumahnya, secara menyolok didepan suaminya Rini keluar dari dalam untuk menyongsongnya. Sambil menebar senyuman dia menggait lengan Pakde Karto memasuki villanya. Herman hanya bisa mengikuti dengan ekor matanya. Dan Rini, lihatlah, dia seperti dewi dari surga. Rini mempersiapkan dirinya secara maksimal untuk menyambut Pakde. Dia memakai busana yang paling sensual. Nampak dari bahu dan dadanya yang setengah terbuka. Bahunya yang bidang itu menyajikan pesona sebersit ketiaknya sedemikian sensual.

Pakde Karto terpana. Dia tidak menduga bahwa Rini sedemikian antusias menyambut kedatangannya. Sebelumnya dia masih berpikir bahwa akan ada sedikit atau banyak kesulitan dalam menghadapi Rini ini. Ada apa? Mungkinkah ini merupakan ungkapan kekesalan Rini pada Herman suaminya? Ah, .. Pakde Karto tak sempat berpikir jauh. Parfum Rini telah menyeret naluri syahwatnya terbang ke-awang-awang. Rini langsung menggelandang Pakde menuju kamarnya. Ah, nanti aku akan tahulah, demikian acuhnya sambil menyambut rangkulan Rini pada lehernya, tangan-tangan Pakde merengkuh pinggul Rini.

Mereka kini saling berpagut. Kehausan bertahun-tahun Pakde Karto pada Rini kini tertumpahkan. Dan bagi Rini inilah puncak pelampiasan dari tumpukkan kemarahan, kekesalan dan kekecewaan pada kehidupannya yang telah beberapa waktu terus menjepit dan menyengsarakannya. Dia terus berusaha menapaki kehidupan yang baru ini. Tanpa ragu-ragu, tangannya dengan terampil melepasi ikat pinggang Pakde Karto. Dia ingin selekasnya menjamah khayalannya. Dia ingin merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu bersama Pandi di pantai Parangtritis. Kalau waktu itu gemuruhnya ombak Samudra Hindia, maka kini gemuruh nafsu birahi di dadanya yang akan mengiringi pelampiasan syahwatnya. Gemuruh nafsu birahi Rini dan kehausan syahwat yang amat sangat Pakde akhirnya bertemu dalam kamar Villa Rimbun Ciawi ini.

Akan halnya Herman yang telah siap menerima apapun yang harus dia saksikan. Bahkan kini dia sudah memiliki solusi. Dia akan ikut menikmati apa yang terjadi dari balik dinding artistik kamarnya. Dia akan menyaksikan adegan-adegan yang pasti bisa merangsang birahinya. Dan dia akan bisa meraih kepuasan syahwat juga seperti mereka berdua. Dan kini kembali rasa sesak langsung memenuhi selangkangan celananya. Tangannya bergerak membetulkan letak kemaluannya untuk mengurangi jepitan celananya yang menyakitkan.
Sesudah dengan cepat menyelesaikan tugasnya Herman kembali memasuki kamarnya. Dengan hati-hati dia mulai mengintip dari celah papan itu dan menyaksikan ulah Pakdenya bersama Rini isterinya. Nafasnya terdengar memburu sejalan dengan apa yang dia saksikan melalui celah dinding papan artistik itu. Dia lihat bagaimana Pakdenya bersama istrinya bercumbu. Nampak celana Pakdenya telah merosot ke lantai dan tangan istrinya menggenggam kemaluannya yang gede panjang itu.

“Edan, penis Pakde itu.. penis kuda.., Duh penis Pakdee.. penis ituu..,” teriakkan histeris dari hati Herman melihat kemaluan Pakdenya yang membuatnya terpana.

Dia benar-benar terpesona dengan penis Pakdenya. Dan lebih-lebih lagi saat menyaksikan tangan indah dan manis isterinya yang biasa memegang berbagai macam makanan cattering pesanan tetangga itu kini menguruti batang penis yang berkepala mengkilat kecoklatan. Sementara Pakdenya dengan buas menyedot dan menggigiti dari leher turun ke susu dan puting-putingnya hingga membuat Rini menggeliat dan mendesah hebat sambil matanya merem-melek dan kepalanya tergeleng-geleng dan mendongak kelangit-langit kamar utama Villa Rimbun Ciawi itu.

Blusnya sudah lepas entah ke mana. Susu-susunya nampak ranum menggunung dan putingnya mencuat siap untuk lahapan haus nafsunya Pakde Karto. Sesekali kedengaran sentakan rintihannya. Itu disebabkan sesekali gigitan Pakde menyentuhi saraf-saraf peka pada buah dadanya yang sangat ranum itu.

Tanpa melepas pagutannya mereka bergeser dan bergeser untuk menuju rebah di ranjang. Masih dalam busana atas yang lengkap dengan dasinya yang setengah copot, sementara bagian bawahnya sudah telanjang bulat Pakde Karto menindih Rini. Ditelentangkannya kedua lengan Rini ke atas hingga kedua ketiaknya terbuka. Kemudian dengan penuh kehausannya Pakde Karto menyosorkan bibirnya melumati lembah-lembah indah ketiak Rini. Rini mendesah sambil bergelinjangan menggeliat-liat. Tak diragukan, pasti akan banyak nampak cupang-cupang bekas sedotan-sedotan ganas pada ketiak itu nantinya.

Dan kini Herman melihat mereka sambil mulai mengelusi kemaluannya sendiri. Kupingnya menikmati rintihan atau desahan istrinya. Sementara tangannya terus mengikuti alur sedotan dan jilatan Pakde yang turun dari ketiak ke lembah dan bukit di dada Rini isterinya itu.

Herman agak kesal, posisi Pakde Karto yang mencumbui istrinya tak nampak jelas disebabkan celah papan ini kelewat sempit. Yang jelas bisa dia tangkap jelas tinggalah suara-suara penuh iba nikmat. Betapa rintihan Rini dan dengus Pakdenya saling bersahut telah membuat dirinya semakin blingsatan karena terbakar birahinya. Tanpa sepenuhnya dia sadari, dia juga ikut-ikutan melepasi celananya, hingga tinggal kolornya yang tinggal. Tangannya merogoh kolor itu dan mengurut dan memijit-pijit kemaluannya. Herman ikut terbawa melayang bersama Pakde yang sedang melahap rakus isterinya.

Saat turun dari ketiak, ciuman dan lumatan Pakde meratai lembah dan bukit di dadanya, Rini nampak menggelinjang hebat. Pinggulnya menggeliat dan meliuk-liuk menahan kegelian yang amat sangat seperti ikan moa yang terlepas buruannya dan secepatnya berusaha menangkapnya kembali. Dan Herman juga semakin kenceng merabai kemaluannya sendiri sementara wajah Pakde Karto makin merosot ke perut isterinya.

Tak pelak lagi Rini mendesah keras dan tangannya seakan mengiringi desahannya menangkap kepala Pakde Karto dan menjambaki rambutnya untuk menahan badai birahinya. Dan Pakde semakin menggila. Kini bibirnya sudah me-lamuti bulu-bulu kemaluan Rini dan kemudian meluncur cepat ke bibir vaginanya.

Nampak banget bagaimana bibir Pakde Karto mencaplok untuk melumati bbir vagina Rini. Lidahnya yang menjilat sambil menyeruak menusuki vaginanya membuat Rini histeris. Tingkahnya yang jatuh bangun disertai derasnya desah dan rintih memaksa Herman mempercepat pijitan dan remasan pada kemaluannya, bahkan kemudian dengan cepat merubahnya menjadi kocokkan ritmis.

Sambil terus melototkan matanya untuk menembusi lubang intaian yang sempit, kocokkan Herman yang semakin cepat nampak seperti pompa piston lokomotif diesel penarik Parahyangan Ekspres. Herman tak tahan lagi untuk menahan spermanya. Dan terjadilah orgasme Herman. Yaitu orgasme pertama yang diraih berkat menyaksikan istrinya meliuk-liuk merasakan hebatnya nikmat digauli orang lain yang bukan suaminya. Rasanya inilah spermanya yang paling banyak tertumpah semenjak perkawinannya dengan Rini.

Pakde secara intensif memberikan kepuasan penuh sensasi syahwat pada Rini. Dia melakukan oral seks secara habis-habisan padanya. Lidahnya yang besar dan kasar tentunya menyentuhi organ-organ vagina yang peka dan lembut mlik Rini. Dan akibatnya tak terkatakan lagi, Rini bak kesetanan. Tenaganya berubah menjadi sangat kuat. Kedua pahanya yang berposisi menjepit leher Pakde menekan bahu Pakde untuk menaikkan pinggul dan mengangkat pantatnya. Tujuannya jelas agar tusukkan lidah Pakde bisa lebih jauh menembusi lubang vaginanya. Kegatalan yang amat sangat pada vaginanya itu pula yang membuat kedua tangannya terus menariki kepala ataupun rambut Pakde untuk lebih menekankan ke arah kemaluannya.

Pakde yang sangat berpengalaman ‘ngerjain’ para perempuan, tahu bahwa Rini sudah menunggu penisnya yang kini juga telah melar keras untuk secepatnya menusuki vaginanya. Dengan akar-akar sarafnya yang mengitari geligir batangnya serta desakkan darah yang menumpuk pada kemaluannya hingga membuat sang penis itu membengkak besar dan kepalanya licin mengkilat, kini Pakde sigap merubah posisi. Ditariknya kedua tungkai kaki Rini hingga arah vaginanya tepat di pinggiran ranjang. Kemudian dia angkat salah satu tungkainya untuk disandarkan pada panggulnya di bahu. Dengan cara itu Pakde mengasongkan penisnya yang sudah matang itu ke lubang kenikmatan vagina Rini. Sekali.., dua kali..

Herman kembali mengintip. Sesudah beberapa kali kepala penis Pakdenya yang besar sedikit kesulitan menembusi vagina istrinya yang sempit. Pada tusukkan yang kesekian kali disertai desisan panjang dan kemudian disusul dengan teriakkan nikmat, akhirnya penis gede itu berhasil menembus vagina Rini istrinya. Bleesszz..

Menyaksikan itu semua kemaluan Herman cepat kembali menegang. Dan agar menjadi leluasa, Herman melepas pula celana kolor berikut celana dalamnya. Dan tangannya kembali mengelusi sambil berharap bisa selekasnya tegak kenceng lagi. Herman ingin meraih orgasmenya yang kedua.
Disaksikannya Pakde Karto mulai memompa istrinya. Dan Rini sang istri benar-benar tak berdaya oleh serangan syahwatnya. Sambil meracau dengan ucapan kata-kata erotis kotor di tengah desisan-desisannya, dia meremasi sprei atau bantal atau apa saja yang bisa diraihnya hingga ranjang itu berantakkan. Kepalanya bergoyang keras ke kanan dan kiri sambil melempar-lemparkan rambutnya yang indah itu.

Dan dari arah lebih tinggi dengan satu kaki isterinya di panggulannya mata Pakde Karto mengamati tingkah Rini serta menyimak segala racau dan desisan histerisnya itu. Dia mainkan pompaannya seakan berputar menyodok ke kanan atau kekiri atau ke atas atau ke bawah. Itulah ‘multi jurus’-nya Pakde. Dengan cara itu vagina Rini serasa di-ubek-ubek. Gatalnya tak lagi tertolong. Dan karena itu pula kini Rini mulai menapaki puncak kenikmatannya. Rini mulai menyongsong orgasmenya yang sejati. Orgasme yang rasanya belum pernah dia raih dari siapapun.

Herman tahu, selama ini belum pernah melihat isterinya sedemikian histeris sebagaimana yang dia saksikan kini bersama Pakde Karto. Rupanya Pakdenya ini tahu benar apa yang ditunggu Rini. Dan kini dia sedang suguhkan itu. Dari racau dan geliat serta menghebatnya remasan-remasan tangannya pada apapun yang dia raihnya, Rini kini menggelinjang hebat. Pinggulnya dia angkat-angkat tinggi-tinggi serasa hendak menjeputi kemaluan Pakde agar menusuk lebih dalam lagi ke vaginanya. Dan ketika akhirnya puncak-puncak itu benar-benar datang, wajah Rini langsung berubah ganas. Matanya menjadi nanar tanpa titik pandang. Dengan teriakkan bak hyena kelaparan Rini bangkit mendorong dan merubuhkan Pakde untuk ganti rebah telentang ke kasur. Dia ‘cengklak’ tubuh Pakde seperti seorang joki men’cengklak’ kudanya. Dengan gaya seakan hendak duduk tangannya merogoh dan meraih penis Pakde untuk dia tusukkan ke vaginanya, dan dengan cepat vaginanya langsung menelan amblas seluruh batangan kemaluan Pakde. Kini Rinilah pemegang kendali.

Dengan cepat dia menaik turunkan pantatnya memompakan penis Pakde ke vaginanya. Herman melotot mengamati vagina Rini yang bisa memuntahkan dan kemudian menelannya kembali kemaluan gede panjang milik Pakde Karto. Dari arah belakang pantatnya, nampak oleh Herman bagaimana bibir vaginanya ketarik keluar dan kedorong masuk terbawa oleh keluar masuknya kemaluan Pakde yang memang sangat sesak dan sarat memenuhi belahan dan rongga vagina isterinya itu.

Dan akhirnya datanglah malaikat nikmat itu.. Rini seakan membantingkan tubuhnya ke tubuh Pakde. Dia menggigit dada dan mencakar-cakar punggungnya. Vaginanya berdenyut keras menghisap-isap atau melumat-lumat batang kenyal milik Pakde. Itulah tanda bahwa orgasme beruntun-runtun sedang melanda Rini.

Mungkin runtunan orgasmenya itu berlangsung hingga 20 atau 30 detik sebelum akhirnya tubuhnya gugur dan rubuh dengan keringatnya yang mengucur menindih dan membasahi tubuh Pakde Karto. Villa Rimbun Ciawi yang sebelumnya berubah menjadi panas oleh radiasi yang memancar dari tubuh indah Rini kini sejuk kembali.

Dari balik dinding Herman juga ikutan terkapar bersama tarikan-tarikan nafas panjangnya. Dimatanya dia menyaksikan Pakde Karto telah menunjukkan peranannya sebagai pelayan seks yang benar-benar hebat. Herman merasa banyak belajar dari apa yang dia lihat hampir selama 1 jam ini. Pakde bisa membaca arah kemana Rini mau. Dia mengejar kepuasan tetapi dia meyakini kepuasannya akan dia raih apabila Rini, lawannya telah lebih dahulu terpuaskan. Dan bagi dia, sebagai lelaki, kepuasannya tidak perlu diraih seketika. Dia masih memerlukan stamina untuk berjalan lebih panjang. Sebagai lelaki memerlukan stamina macam itu lebih dari perempuan. Dengan cara itu rupanya Pakde Karto akan menikmati sepanjang malam pertama ini. Dan Herman mulai mengerti, bagaimana Pakde Karto akan mampu melayani Rini kapan saja, setiap saat. Dan segala marah, sakit atau cemburu akan sia-sialah di depan Rini sepanjang dia tidak mampu melakukan seperti yang Pakdenya bisa lakukan.

Sore itu sesudah permainan pertama, yang mungkin oleh Pakde hanya dipandang sebagai pemanasan, mereka berdua mandi bersama. Cukup dengan teriakkannya Pakde menyuruh Herman untuk menyalakan gas LPJ yang membakar water heater di kamar mandi utama. Sesudah mandi air hangat, dengan keduanya memakai mantel tidur lembut yang tersedia di kamarnya Pakde bersama istrinya bercengkerama di beranda villa. Atas permintaan Rini Herman disuruh Pakdenya untuk membeli sate kambing di warung sate sebelah villanya.

Malam itu Rini bersama Pakde menikmati sate kambing panas di meja makan. Herman mesti sabar menunggu mereka selesai makan untuk bisa ikut menikmati sate kambing dingin sisa mereka. Dia menerima semua perlakuan ini dengan sabar dan berpikir positip. Ahh.. Herman.. Herman.., hebat kau..

Selesai makan Rini dan Pakde pergi ke beranda dan duduk berhimpit di sofa. Villa bulan madu ini seakan memang dibuat untuk mereka. Dari balik pot-pot tanaman di samping beranda Herman merunduk mengintip diantara dedaunannya. Herman yang mentalnya sudah jatuh menjadi mental pelayan itu melihat bayang-bayang istrinya dalam rengkuhan Pakdenya kembali. Dia amati betapa asyik istrinya dan Pakdenya saling berpagut bertukar lidah dan ludah. Dan lihat, betapa agresifnya si Rini. Tak pernah dia bersikap begitu pada dia selama masa perkawinannya.

Dia saksikan bagaimana tangan Rini yang demikian lancar melepasi ikatan tali. Dengan sekali renggut lepaslah temali mantel tidur itu hingga tubuh Pakde langsung terbuka. Kemudian dengan rakusnya bibirnya kembali menyambar bibir Pakde Karto sambil tangan kanannya, tangannya yang cantik dengan jari-jarinya yang lentik itu meremas dan mengelusi batangan gede penis Pakde Karto. Ah, Rini.. Riniku.., batin Herman yang menangisi isterinya.
Rini meliukkan lehernya. Kepalanya menggiring bibirnya meluncur ke leher Pakde. Dia memberikan sedotan cupang di seputar leher dan kuduknya. Bulu-bulu Pakde tegak merinding.

Kecupan dan jilatan itu mendongkrak saraf-saraf birahinya. Dan bibir seta lindah terus merambat meluncur turun ke dadanya. Dia kecupi buah dada Pakde dan bibirnya serta lidahnya menggigit dan menjilati puting-puting susunya. Nampak betapa bibir-bibir mungil istrinya membuka dan mengatup mengecupi bukit-bukit dada itu. Sesekali lidahya menjulur untuk menjilati berbagai rasa yang keluar dari pori-pori tubuh Pakdenya. Kini yang didengar Herman adalah desis Pakde yang menahan geli birahi akibat ulah istrinya itu. Tak puas-puasnya Rini menyedoti dada Pakde. Terkadang rambatan bibirnya juga menepi ke kanan atau ke kiri dada hingga semburat aroma ketiak Pakdenya yang tampan itu menerpa hidung Rini.

Rambatan ciuman itu terus meluncur turun keperut Pakdenya. Bulu-bulu halus mulai Rini rasakan di lidahnya. Bulu-bulu itu tumbuh berkesinambungan dari arah lebih bawah lagi. Bulu-bulu itu menjadi awal bagi lidah dan bibir Rini memasuki wilayah kemaluan Pakde Karto. Nampak penisnya yang tegak kaku bak tugu Monas itu seakan mengganjal leher dan bahu Rini. Dengan pipinya Rini menyisihkan batang tegak kaku itu untuk membuka jalan menggiring bibirnya terus turun hingga ke selangkangan Pakde. Beberapa kali Pakde menyibak sebaran rambut Rini agar tidak mengganggu alur lidah dan bibirnya yang terus berkecipak menyedot dan menjilat. Dia rasakan sangat nikmatnya bak siput sawah yang sedang merambati wilayah selangkangannya.

Tentu saja kini posisi duduk Pakde harus disesuaikan dengan kejaran nikmat bibir Rini ini. Dia memerosotkan tubuhnya pada bantalan sofa itu untuk memberikan ruang yang lebih terbuka kepada Rini saat mulai menggarap kedua selangkangannya. Dan kini wajah Rini benar-benar terjebak dalam rimbunan bulu kemaluan di seputar selangkangan Pakde Karto. Sesekali nampak kepalanya menggeleng kecil untuk mendorong agar lidah atau bibirnya bisa menjangkau pori-pori selangkangan itu.

Nampaknya Pakde tak mampu menahan kegelian yang melandanya. Dengan kedua tangannya dia merengkuh dan menjambak rambut Rini. Dia merintih sambil seakan hendak mencabut-cabut akar rambut itu. Dan rintihan Pakde itu membuat Rini semakin ganas serta liar untuk meningkatkan serangan birahinya. Pipinya yang semula digunakan untuk menyisihkan penis, kini dia gunakan untuk menariknya kembali. Batangan penis Pakde yang tonggak kaku itu mulai dia jilati. Dia tusukkan lidah lembutnya pada lubang kencing Pakde. Lubang kencing yang nampak macam belahan jamur merang itu langsung merah merekah menahan desakan darah syahwat yang menjalari penisnya.

Betapa nikmat saat lidah menyentuh saraf-saraf peka pada lubang itu. Gelinjangnya membuat Pakdenya seakan melonjak dari tempat duduknya. Mungkin itu semacam kekagetan saraf menerima sentuhan lembut lidah Rini yang sangat merangsang syahwatnya. Dan kemudian Rini mengkulum seluruh kepala dan batang penis itu. Dia memompa, menyedot, menjilat, mengkulum tonggak bulat panas yang kaku dan berkilatan dengan urat-urat yang kasar mengelilingi seluruh geligirnya.

Pemilik tonggaknya mendesah keras dan merintih dalam gelombang nikmat yang datang bertubi.
Herman memperhatikan betapa mata istrinya merem melek menikmati kelakuannya sendiri itu. Dan juga bertanya, kenapa dia nggak pernah menerima perlakuan macam itu selama 3 tahun perkawinan ini?? Adakah ini karena kepiawaian Pakde Karto dalam menggiring birahi Rini? Sehingga membuat seluruh potensi syahwat istrinya terdongkrak keluar?

Rambut Rini yang panjang sering menghalangi pandangan Herman pada apa yang sedang berlangsung. Nampaknya Rinilah yang sekarang ganti memanjakan Pakde Karto dengan oralnya. Dia ciumi dan jilat bijih-bijih pelir Pakde. Lidahnya bolak-balik melata merambati pangkal hingga ujung kemaluan yang tegak kaku itu. Pakde Karto tidak keliru membaca perempuan. Betul-betul kini dia serasa terbang melayang diangkasa nikmat. Apa yang kini sedang dilakukan Rini sesuai dengan bacaannya. Rini adalah perempuan seksual yang sangat galak dan panas. Perempuan dengan betis ‘merit’ macam istri Herman ini tak mudah dipuaskan. Oleh karenanya pada garapan awal tadi Pakde Karto pusatkan pada bagaimana Rini bisa cepat disambar syahwatnya hingga tinggal kehendaknya sendirilah yang akan mendorong cepat atau lambat datangnya orgasmenya. Dan itu sudah terjadi.

Kini perempuan ini sudah kembali menimba birahinya. Kenikmatan orgasme beruntun yang dia rasakan tadi membuatnya ketagihan. Lihat, kini dia akan berusaha orgasmenya berulang kembali. Dia pikir dengan merangsang penisnya Pakde Karto akan cepat mengejar nafsunya. Dan harapan Rini untuk digenjoti lagi oleh Pakde akan kesampeyan. Tetapi dia keliru. Pakde Karto bukan anak kemarin sore. Dia bukan Herman. Kenikmatan yang kini diberikan Rini akan di ‘follow up’ di mulut Rini sendiri. Kini Pakde sedang mengamati dengan penuh nafsu bagaimana mulut cantik mungil Rini mengecupi penisnya. Dia mengamati bibir-bibir seksi istri Herman ini berkecipak melahap batang penisnya. Dia ingin bibir ini nantinya belepotan oleh semprotan spermanya. Dia ingin sekali menumpahkan air maninya ke mulut Rini. Dia pengin menyaksikan bagaimana Rini menenggak cairan kentalnya. Ya, dia ingin sekali. Bahkan dia mungkin akan sedikt paksa Rini untuk menjilati cairan kentalnya yang tercecer. Itulah nafsu hewaniah Pakde Karto yang kini merundung dirinya. Tangan-tangannya kembali mengelusi lembut kepala Rini, sementara khayalan birahinya terbang melesat ke awang-awang untuk menjemput puncak-puncak nikmatnya. Dia mulai mengerang dan mendesis. Dan Rini terjebak.

Dia menikmati erang dan desis Pakde dengan cara lebih meliarkan jilatan dan gigitan-gigitannya.
Tetapi situasi berikutnya berubah. Kendalinya terlepas dan diambil alih Pakde Karto. Tanpa mau melepas rengkuhan Rini pada penisnya Pakde bangkit dari sofa empuk itu. Dibimbingnya Rini untuk naik kesofa dengan kepalanya bersandar pada ke bantalannya. Dengan penisnya yang tak pernah lepas dari mulut lembut Rini, kini posisi Pakde berada di atasnya dengan selangkangnnya mengangkang di atas dada Rini. Sementara Rini masih berpikir bahwa sesaat lagi Pakde akan merambati tubuhnya untuk menusukkan kembali kemaluannya pada vaginanya.

Tetapi sekali lagi harapan Rini ini keliru. Kini Pakde seperti sedang kerasukan nikmat dan merasakan bagaimana seakan spermanya datang dari seribu arah menjalari berjuta saraf-saraf di seputar selangkangannya untuk meledak dan tumpah di mulut Rini. Dan ketika batas batas sarafnya telah terlanggar oleh birahi, dengan suara erangan yang keras dari mulutnya dengan disertai tangan-tangannya yang kuat menekan kepala Rini agar tetap terpaku di sofa selama penis Pakde tetap menghunjam-hunjam ke rongga mulut Rini, Pakde telah siap menyemprotkan air maninya ke mulutnya. Dan Rini memang tak lagi mampu berkutik. Tekanan tangan Pakde terlampau kuat untuk ditolak. Akhirnya dia menyadari apa yang Pakde mau. Dia langsung pasrah. Bahkan selintas dia sempat berpikir tentang Herman. Biarlah Herman menyaksikan apa yang memang dia harus saksikan.

Sperma Pakde tumpah ruah menyemprot membanjir memenuhi mulutnya. Anggukan-anggukan penis Pakde menandai setiap semprotan spermanya. Mulut manis mungil Rini tak mungkin menampung seluruhnya. Sebagian tertelan membasahi tenggorokannya, sebagian lainnya muncrat tercecer ke dagunya, dadanya dan juga ke jok kulit sofa buatan Italy itu. Saat akhirnya Rini benar-benar menjilati sperma yang tercecer dia ingat kembali saat bersama Pandi di Parangtritis itu. Dan Pakde Kartopun terpenuhi harapannya.

Herman terbengong-bengong menyaksikan bagaimana nafsu liarnya Rini di atas sofa bersama Pakde Karto itu. Benar-benar tak habis mengerti, bahwa Rini yang kesehariannya cantik dan lembut itu bisa berubah menjadi malaikat seks yang dengan ganas membawa prahara birahi untuk menenggelamkan nafsu Pakdenya kedalam nikmat syahwat yang tak pernah dia berikan pada siapapun sebelumnya. Pakde Karto merasa bahwa menganggap lunas hutang suaminya amat sepadan dengan apa yang di berikan Rini kepadanya. Dielusinya dengan penuh kasih sayang kepala Rini yang kini bersandar di dadanya. Pakde mendapatkan kepuasan yang luar biasa dengan hadirnya Rini ini.

Dari balik pot-pot yang tidak jauh dari sofa Pakde dan istrinya Herman terduduk loyo. Sekali lagi ia semakin tak mampu berkilah lagi. Kepengecutannya sebagai lelaki membuat semakin tak mungkin mampu menyaingi kelebihan Pakdenya. Kesalahannya yang membuat tenggelam dalam judi togel itu membuat dia benar-benar tak lagi merasa punya hak untuk marah maupun cemburu. Dia akan sepenuhnya menerima apa yang dilakukan Pakde pada isterinya. Dari berbagai sudut dia sudah salah dan kalah total. Apalagi nampaknya Rini sendiri akhirnya demikian menikmati hubungannya dengan Pakde. Mungkin juga bagi Rini Pakde lebih bisa memberikan kepuasan nafsunya dibanding dia. Ya, sudahlah..

Yang kini masih dia miliki adalah hak untuk ikut menikmati. Dia jadi begitu menyala birahinya kalau melihat isterinya di’entot’ orang lain. Dia sangat terobsesi saat melihat wajah isterinya begitu histeris oleh kenikmatan syahwat yang diterima dari Pakde. Dia sangat terobsesi pula saat melihat isterinya begitu rakus menjilati dan minum air mani Pakde Karto. Rasanya Herman juga ikut merasakan bagaiman lendir hangat Pakdenya mengalir membasahi tenggorokan isterinya. Dan lepas dari semua hal itu, yang benar-benar melegakan Herman sekarang adalah lunasnya hutang-hutangnya dari Pakde Karto. Dia kini siap menjalani hidup baru tanpa beban hutang-hutang. Dia kini bertekad untuk tidak lagi main togel. Dia akan mencoba menepis godaan teman-temannya. Atau mungkin dia tak akan bergaul lagi dengan mereka. Karena merekalah kini Herman merasa sengsara. Dan nyatanya pada saat seperti ini mereka tak mampu membantu apapun.

Terlihat Pakde dan isterinya bangkit dari sofa menuju ke kamarnya. Adakah mereka akan melanjutkan permainannya. Sangat mungkin. Bukankah situasi macam begini yang Pakde impikan sejak pertama kali beberapa waktu yang lalu dia melihati Rini tanpa berkedip. Dan bagi Rini, bukankah lelaki macam Pakde ini yang telah terbukti bisa memuaskan syahwat birahinya?!

Dan bagi Herman, apa yang bisa dibuat selain kembali ke lubang pengintaian di balik dinding kamarnya?! Rupanya sate kambing tadi telah memberikan semangat dan kekuatan pada semua orang.
Dari kamarnya Herman melihat Rini langsung rebah ke ranjang. Dalam jubah tidurnya yang nyaris tak dipakai secara utuh, Rini setengah tengkurap memeluki bantalnya. Nampak kaki dengan paha dan betisnya yang tersingkap dari pakaiannya terjuntai ke tepian ranjang. Dan Pakde dengan jubah tidurnya yang telah terbuka pula siap menyusul. Tetapi tidak. Pakde tidak menyusul naik ke ranjang. Pakde kini simpuh di lantai tepat di ujung kaki Rini. Apa yang akan dia lakukan? Ah, ini sangat menarik, pikir Herman.

Pakde pelan menjamah kemudian mengelusi kaki Rini. Dia raba betisnya yang ‘merit’ itu. Kemudian nampak kepalanya menunduk. Pakde mencium kaki Rini. Mencium telapak kakinya. Menciumi kemudian menjilati. Kemudian juga mengulumi jari-jari kakinya. Jari kaki Rini yang selalu terawat apik itu demikian indahnya dalam kuluman Pakde. Dan Rini seakan kena stroom ribuan watt langsung berteriak mendesisi-desis.

Dia terbangun-bangun menahan geli yang menjalari kakinya. Tanpa terpengaruh oleh ulah isterinya nampak Pakde sangat tenang. Ditahannya dengan tangannya yang kuat kaki-kaki Rini sehingga berontaknya tidak membuat lepasnya kaki dalam pagutannya. Jilatan dan kuluman bibir dan lidah Pakde semakin meratai telapak kaki dan mulai naik ke betisnya. Gelinjang nikmat membadai menghempas-hempaskan gelegak nafsu Rini.
Bibir Pakde terus melata hingga lutut dan siap memasuki wilayah paha belalang Rini. Ya, paha ini dulu sangat terkenal. Saat Rini bermain volley dalam pertandaingan antar SMU, paha Rinilah yang selalu membuat para siswa lelaki meneteskan air liur. Anak-anak SMU bilang ‘paha dan betis belalang Rini’ selalu terbawa dalam mimpi mereka. Mungkin maksudnya saat anak-anak itu masturbasi khayalannya terbang menciumi paha Rini.

Dan paha itu kini bukan dalam impian Pakde. Paha itu kini nyata dalam rengkuhannya. Pakde mengecupi dan menjilat setiap sentimeter areal paha Rini. Duh, bukan main gatalnya. Ciuman Pakde dari mulut dan pipi serta dagunya yang bercukur bulu-bulu pendeknya begitu menggelitik sanubari Rini. Gatalnya telah manembus ke hulu hatinya. Rini kelabakan kewalahan menahan derita gatal nikmatnya. Dia menjerit-jerit minta Pakde melepaskannya. Kakinya menendang menolak tubuh Pakde.

Tetapi mana mungkin. Tubuh Pakde telah sempurna menindih dan tangannya menjepit dengan kuatnya. Aroma yang menebar dari paha Rini membuat tenaga Pakde semakin kukuh untuk tetap menguasai tingkah Rini. Tidak akan ada kata menyerah. Dan jilatan Pakde itu merambah terus hingga ke selangkangan Rini yang ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yang sangat lembut. Pakde merem melek saat lidah dan bibirnya melumat-lumat selangkangan Rini. Dan tak ayal lagi, rambahan itu sampai ke lubang vaginanya. Namun Pakde tidak melanjutkannya. Dia hanya mampir sejenak untuk kemudian dengan tangannya mendorong balik tubuh Rini hingga posisinya tengkurap di kasur.

Kini nampak pantat Rini yang menjumbul dengan indahnya. Pakde sudah kesetanan. Wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantat Rini. Dia menjilati lubang duburnya. Tentu saja hal ini membuat Rini tersentak. Bagi Rini lubang dubur adalah hal yang sangat tak senonoh untuk didekati, apalgi dicium atau bahkan dijilati macam yang dilakukan Pakde pada dirinya sekarang ini. Tabu, katanya. Pemali, orang bilang. Tetapi tidak bagi Pakde Karto. Jilatannya terasa ‘keri’ menusuk-nusuk lubang pantat Rini. Bahkan dengan tenaganya dia mengangkat pinggul Rini sehingga dia berposisi nungging. Pantatnya lebih menonjol dengan lubang duburnya tepat di arah wajah Pakde. Rini yang belum sepenuhnya mau menerima ulah Pakde yang tabu berontak mati-matian untuk menghindarkan Pakde menciumi pantatnya. Dia berusaha bangun sambil,
“Tidaakk.. jangaann.. jangaann..”

Tetapi larangannya itu justru semakin memicu kehendak nafsu Pakde Karto. Dia cepat berpikir bahwa pantat Rini masih pantat perawan. Kalau dulu Herman merawani vaginanya, kini dia berkesempatan merawani lubang pantatnya. Dia telikung Rini dengan sekuat tenaganya. Dia pegang erat-erat pinggulnya sambil mulutnya tidak melepaskan sedotan-sedotan pada lubang anal yang perawan itu. Dan Pakde sangat kuat. Rini tak mampu melawannya. Perasaan tabunya membuat Rini ketakutan. Tetapi yang dia bisa perbuat sekarang hanyalah menangis sambil memohon,
“Jangaann Pakdee.. ampuunn, jangaann.., ampuunn Pakdee..”

Apapun rintihan Rini tak lagi didengarnya. Ini sudak perkosaan. Dari balik dinding Herman juga mengutuk Pakdenya. Isak tangis istrinya benar-benar membuatnya iba. Akankah Pakde menyakitinya? Apa yang bisa dia perbuat untuk membantu Rini? Dan ternyata itu baru awal dari hal berikutnya yang akan membuat tangis Rini serasa tak berkesudahan.

Ciuman Pakde bergeser ke atas. Pinggul Rini dilumat-lumatnya. Juga punggung kemudian bahu dan kuduknya. Rini yang masih terisak kembali menemukan gelinjangnya. Tetapi itu tak lama. Di bawah sana penis Pakde yang demikian hebat ukurannya terasa mendesaki bokong Rini. Rini puny firasat. Sekali lagi dia berontak untuk mencegah nafsu setan Pakde Karto. Tetapi sekali lagi Pakde Karto mampu membuat isteri Herman itu tak berdaya.

Kini rambut Rini yang terurai dijambaknya. Dia gunakan rambut Rini ibarat tali kekang kuda. Dia hela rambut itu kebelakang sementara penis itu mulai menumbuk-numbuk lubang anal Rini. Rasa sakit yang hebat menimpa Rini. Lubang analnya serasa dicolok dengan kayu menyala, Panas dan sakitnya bukan main. Beberapa kali Pakde melumasi dengan ludah pada penisnya agar bisa menembus dengan lubang anal Rini. Memang ada kemajuan. Tetapi apa yang dirasakan Rini? Setiap mili kemajuan penis itu masuk menembus analnya, kepedihan tak terkatakan datang menjemput.

Dan disinilah dramatiknya. Akhirnya penis itu memang tenggelam tertelan anal Rini, tetapi akibatnya Rini kelenger, pingsan. Pakde tahu, tetapi dia sangat tenang. Dia bisa mengendalikan dirinya. Tanpa melepaskan kemaluannya pada lubang itu, dia raih wewangian aroma terapi yang tersedia di meja samping ranjang. Dia kecroti hidung Rini dengan wewangian itu. Dan, ah manjur benar. Rini terbangun dan langsung kembali menangis karena menahan rasa sakit di pantatnya. Dia tak lagi menolak karena pasti hanyalah sia-sia. Justru tolakannya semakin merangsang nafsu setannya Pakde. Dan Pakde sendiri berusaha sabar.

Untuk beberapa saat dia tidak bergerak. Pikirnya, biarlah Rini menyesuaikan diri dulu, dimana penisnya kini sedang menghunjam ke dalam pantatnya. Dia hanya peluki punggung Rini sambil merajuk dan mencumbu. “Nggak apa-apa Rin, jangan takuutt.. nanti ennaakk.. jangan takutt..” sedu sedan Rini masih terdengar.

Kembali ke Herman yang kini mengutuk habis-habisan ulah Pakdenya. Tetapi mana berani dia menyampaikan kutukkan itu hingga ke kuping Pakdenya. Yang ada tinggal rasa cemas dan semakin merasa betapa semua itu karena kesalahan dirinya. Rini telah menjadi korban tingkah lakunya yang pengecut. Ooo.., kenapa jadi beginii..??!!

Aneh, ternyata cumbuan Pakde Karto seperti menyihir Rini. Isakan tangisnya tak lagi terdengar. Walaupun masih sering terdengar kata
“Aduuhh, sakiitt.., yang pelaann..” namun tak ada uapaya menolak dari Rini saat Pakde kembali menggoyang kemaluannya pada anal isteri Herman itu. Dan setelah beberapa saat kemudian goyangan Pakde berubah menjadi pompaan sebagaimana dia memompa vaginanya, Rini sama sekali tidak mengaduh tetapi, nah lihatlah.. Herman melotot keheranan.

Kini dia menyaksikan isterinya mengimbangi goyangan saat penis panjang Pakde menusuki pantatnya. Ternyata Rini dengan cepat memahami kenikmatan yang dijanjikan Pakde Karto. Bahkan ketika beberapa kali penis itu copot dari analnya, tangan Rini dengan sigap menjemputnya kembali untuk diarahkan tepat ke lubang duburnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat atraktip. Seorang dewi cantik manis dalam posisi menungging dia atas ranjang beralaskan sutra melengkungkan pinggulnya untuk mengangkat tinggi-tinggi pantatnya. Sementara di arah belakang seorang lelaki gagah sedang menusuk-tuskkan penis monsternya ke arah lubang pantat sang dewi. Kini Herman mempercepat kocokkan tangannya. Dia ingin meraih orgasmenya, entah untuk yang keberapa kali sejak sore tadi, saat menyaksikan pemandangan yang sangat atraktip itu.

Pakde Karto benar-benar nampak seperti joki. Kuda betina cantiknya diraih surainya. Dia memompa Rini sambil menarik rambutnya sebagai tali kekang. Dan ketika nafsu-nafsu menjemputi puncak-puncaknya. Ketika Rini merasakan betapa benar kata Pakde bahwa dia akan menerima kenikmatan yang kini sedang menapaki puncaknya. Ketika Herman dari balik dinding tak lagi merasakan lecet-lecet pada kulit kemaluannya karena kenikmatan puncak sedang merambatinya. Dan ketika Pakde Karto tak lagi mampu menahan sperma untuk tidak tumpah, dan bahkan kini telah berada di ambang nikmatnya yang paling tinggi.

Maka badai gaduh, jerit, desah dan rintih pada berhamburan. Mulut Rini menjerit dalam rintihan menahan gelora birahi sambil pantatnya dengan kencang maju mundur menjemputi kemaluan Pakde Karto. Dan Herman dari balik dinding merintih tertahan, karena khawatir tertangkap basah, sambil mempercepat koncokkan penisnya yang juga ngaceng berkilatan. Pakde Karto sendiri yang bagai serigala lapar sedang mengejar mangsa, meracau dan mendesah keras-keras menjemput spermanya yang .. naahh.. achirnyaa.. tak tertahan.. tumpah ruah.

Pantat Rini masih terus menjemputi, penis Pakde masih memompa, tangan Herman semakin menambah guratan-guratan pedih sebelum ketiganya tumbang, roboh. Rini dan Pakde bergelimpang di ranjang beralaskan sutera. Tetapi Herman bergelimpang di lantai dingin di kamarnya sendiri. Herman langsung tertidur. Hari ini begitu banyak hal yang sagat melelahkan. Tekanan fisik dan mental serta kesenangan birahi silih berganti. Dia terbangun saat matahri telah tinggi. Dia kaget geragapan. Pakde Karto pasti akan marah, pikirnya. Tetapi hal itu tak terjadi. Pakde Karto bersama Rini semalaman merguk kenikmatan madu. Mereka baru usai dan tertidur menjelang subuh. Kini nampak oleh Herman dari balik dinding, isterinya dalam pelukan Pakde Karto meringkuk dalam selimut tebal. Herman yakin mereka sama-sama bertelanjang.

Herman menjerang air untuk membuat kopi. Dia perlu ngopi. Dia juga membuat kopi untuk yang sekarang masih tidur dalam pelukan.

Perpisahan

Akhirnya Herman terbuka pikirannya. Dia akan dan harus meninggalkan Rini. Tak mungkin lagi baginya merintis dan memperbarui hubungan suami isteri dengan Rini. Hal itu dia yakini akan baik untuk dirinya dan juga baik untuk Rini. Dan dia merasa tak perlu bertanya setuju atau tidaknya pada Rini. Keputusan dia memang sepihak, tetapi itu sudah merupakan keputusan final. Mana mungkin, seorang isteri telah melakukan hubungan seksual dengan penuh nikmat dan sukacita, sementara tahu persis suaminya berada di kamar sebelahnya. Apapun alasannya.

Herman juga yakin Pakdenya bisa menerima jalan pikirannya. Dan bahkan mungkin setengahnya bersyukur. Bukankah dia sangat tergila-gila pada Rini. Dan kini kehendaknya telah kesampaian. Dan Pakde Karto menujukkan kepuasannya yang luar biasa. Siapa tahu, Pakde Karto akan meneruskan keinginannya untuk melamar dan kemudian menikahi Rini.

Pagi yang sangat cerah di Villa Rimbun Ciawi yang sejuk. Pagi itu kedua insan yang sedang mengumbar nafsu syahwatnya kembali saling bercumbu. Mereka menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi yang hangat. Dengan latar belakang dedaunan pakis, pohon pinus dan gemericiknya kali kecil yang aitnya jatuh ke bebatuan Pakde Karto menuntun Rini ke rimbunan tanaman hias yang penuh bunga. Wewangian bunga-bunga yang warna-warni itu mengantarkan mereka terbang mengawang-awang nikmat syahwat dan birahi tanpa batas. Lama mereka berpagut. Saling kecup dan jilat pada bagian-bagian tubuh mereka yang paling merangsang nafsu dilakukan di kebun indah di belakang villa itu.

Pakde Karto tak puas-puasnya menggeluti Rini yang isteri orang lain itu. Dan sebaliknya Rini yang tak pernah lagi memikirkan Herman suaminya tak lelah-lelahnya melakukan tingkah untuk merangsang syahwat Pakdenya. Dia memang benar-benar perempuan panas yang selalu ingin hubungan seksual dengan lelaki perkasa ini. Dia merasakan betapa Pakde mampu menggali seluruh rahasia nikmat syahwat yang ada pada dirinya. Kini Rinilah yang tergila-gila pada Pakde Karto. Dia bersedia melakukan apapun yang akan diminta Pakde. Bahkan sebagaimana yang kini terjadi. Pakde menggelandang Rini untuk berasyik masyuk di dalam taman Villa Rimbun Ciawi yang sejuk dan indah ini. Mereka kini telah bergulingan di atas matras yang sebelumnya telah disiapkan Herman atas permintaan Pakdenya.

Dan Herman juga baru tahu apa maksud permintaan Pakde Karto untuk menggelar matras tadi. Tetapi Herman sekarang juga bukan Herman yang kemarin. Walaupun di depan matanya kini dia saksikan isterinya Rini bergelut nikmat bersama Pakde Karto, dia tidak lagi terbawa emosi. Yang dia pikirkan sekaranga adalah, “Pergi.., pergi, pergi, pergi, pergi..!!”

Begitulah. Herman telah berketatapan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan isterinya, meninggalkan Pakde yang telah menghancurkannya dan dia juga akan meninggalkan judi togel. Selamat tinggal masa lalu!

Sementara Pakde bersama Rini sedang mendayung kenikmatan, Herman menyelinap. Dia pergi tanpa pesan.
“Mereka akan tahu, tanpa harus kuucapkan,” demikianlah tekad dan keyakinannya.


Cerita Dewasa - Cerita sex - Gadis montok cewek Binal Indonesia telanjang bugil