Tampilkan postingan dengan label Tante. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tante. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 Oktober 2013

Cerita seru Arisan Berondong Tante Girang

Tulisan ini diangkat berdasarkan kisah dan pengalaman yang sesungguhnya dengan nama pelaku serta tempat yang telah diubah. Apabila terdapat kesamaan nama maupun tempat peristiwa dalam tulisan ini, hal itu hanya merupakan suatu kebetulan belaka dan tidak ada hubungannya dengan siapa pun juga. “Apa yang akan aku lakukan di sini?” pikirku ketika tiba di depan pintu gerbang villa itu. Villa tersebut terletak di sebuah bukit terpencil di tengah kerimbunan hutan pinus. Untuk sampai di sana kita harus melalui sebuah jalan kecil yang merupakan jalan pribadi yang menghubungi villa tersebut dengan jalan utama. Di ujung jalan tersebut kita akan menjumpai sebuah pintu gerbang yang kokoh terbuat dari besi memagari sebuah bangunan artistik dikelilingi oleh taman yang asri. Begitu kami mendekati gerbang tersebut, tiba-tiba dua orang laki-laki berpotongan rambut pendek dengan tubuh kekar menghampiri kami. Suamiku segera menyodorkan sebuah kartu nama yang entah dari mana dia peroleh. Kemudian dengan wajah ramah mereka membukakan pintu dan mempersilakan kami masuk. Di dalam pekarangan villa itu kulihat beberapa mobil telah terparkir di sana dan salah satunya adalah mobil Priyono sahabat suamiku. Keluarga kami dan keluarga Priyono memang bersahabat. Umur kami tidak jauh berbeda sehingga kami mempunyai persamaan dalam pergaulan. Suamiku seorang pengusaha muda sukses, demikian juga Priyono. Baik suamiku maupun Priyono mereka sama-sama sibuknya. Mereka kelihatannya selalu dikejar waktu untuk meraih sukses yang lebih besar lagi bagi keuntungan bisnisnya. Sehingga boleh dikatakan hidup kami sangat berlebih sekali akan tetapi di lain sisi waktu untuk keluarga menjadi terbatas sekali. Hanya pada hari-hari weekend saja kami baru dapat berkumpul bersama. Dan itu pun apabila suamiku tidak ada urusan bisnisnya di luar kota. Keadaan itu dialami juga oleh istri Priyono, Novie. Sehingga antara aku dan istri Priyono merasa cocok dan akrab satu sama lainnya. Kami juga selalu mengatur waktu senggang bersama untuk melakukan pertemuan-pertemuan rutin atau rekreasi bersama. Kebetulan istri Priyono, juga agak sebaya denganku. Bedanya dia baru berumur tiga puluh tahun sedangkan aku telah berumur tiga puluh lima tahun. Apalagi wajahnya masih tetap seperti anak-anak remaja dengan tahi lalat di atas bibirnya membuat penampilan istri Priyono kelihatan lebih muda lagi. Selain itu bentuk tubuhnya agak mungil dibandingkan denganku. Badannya semampai namun berbentuk sangat atletis. Maklumlah selain dia secara rutin mengikuti kegiatan latihan di salah satu fitness center, dia juga memang seorang atlet renang. Sehingga warna kulitnya agak kecoklatan-coklatan terkena sinar matahari. Berbeda denganku yang berkulit agak putih dengan bentuk tubuh yang agak lebih gemuk sedikit sehingga buah dada dan pinggulku lebih kelihatan menonjol dibandingkan dengan istri Priyono. Menurut pandanganku penampilan istri Priyono manis sekali. Ada suatu daya tarik tersendiri yang dimilikinya setidak-tidaknya demikian juga menurut suamiku. Aku tahu hal itu karena suamiku sering membicarakannya dan malahan pernah bergurau kepadaku bagaimana rasanya sekiranya dia melakukan hubungan seks dengan istri Priyono. Pertemuan kami dengan keluarga Priyono pada mulanya diisi dengan pergi makan malam bersama atau mengunjungi club rekreasi para eksekutif di setiap akhir pekan. Sekali-sekali kami bermain kartu atau pergi berdarmawisata. Akan tetapi ketika hal tersebut sudah mulai terasa rutin, pada suatu saat suamiku dan Priyono mengajak kami untuk ikut menjadi anggota CAPS. “Apa artinya itu..?” kataku.
“Artinya adalah Club Arisan Para Suami atau disingkat CAPS, kalau diucapkan dalam bahasa Inggris jadi kep’es, tuh gagah nggak namanya”, jawab Priyono.
“Walah, baru tahu sekarang para suami juga kayak perempuan, pakai arisan segala”, kataku.
“Ini arisan bukan sembarang arisan..”, kata Priyono membela diri.
“Dahulu mau dinamakan The Golden Key Club, tapi gara-gara Eddy Tanzil maka namanya diganti jadi CAPS, Club Arisan Para Suami”, katanya lagi.
“Ya sudah kalau begitu.., kalau arisan para suami kenapa istri perlu dibawa-bawa ikut jadi anggota?” debatku lagi.
“Rupanya belum tahu dia..!” kata Prioyono dalam logat Madura seraya menunjukkan jempol ke arahku sambil melirik kepada suamiku. Suamiku juga jadi ikut tertawa mendengar logat Prioyono itu. “Hei, rupanya pake rahasia-rahasiaan segala ya..!” kataku sambil memukul pundaknya.
“Iya Mbak.., mereka berdua sekarang ini lagi selalu kasak-kusuk saja. Jangan-jangan memang punya rahasia yang terpendam”, tiba-tiba kata istri Priyono menimpaliku.
“Eh, jangan marah dulu.. club arisan ini merupakan suatu club yang ekslusif. Tidak sembarangan orang boleh ikut! Hanya mereka yang merupakan kawan dekat saja yang boleh ikut dan itu juga harus memenuhi syarat!”
“Syarat apa..?!”
“Misalnya para anggota harus terdiri dari pasangan suami istri yang sah! Betul-betul sah.. saah.. saah!” katanya meniru gaya Marisa Haque diiklan TV.
“Kalau belum beristri atau bukan istri yang sah, dilarang keras untuk ikut! Oleh karena itu untuk ikut arisan ini perlu dilakukan seleksi yang ketat sekali dan tidak main-main! Jadi nggak ada yang namanya itu rahasiaan-rahasiaan..!” kata Priyono lagi. “Ah kayak mau jadi caleg saja.. pakai diseleksi segala! Nggak mau sekalian juga pakai Litsus, terus penataran! Arisan ya arisan saja..! Dimana-mana juga sama! Paling-paling Bapak-bapaknya ngumpul ngobrolin cewek-cewek dan Ibu-ibunya ngerumpi sambil comot makanan disana-sini.., akhirnya perutnya jadi gendut dan pulang-pulang jadi bertengkar di rumah karena dengar gosip ini itu!” kataku.
“Nah, disini masalahnya. Arisan kita itu bukan arisan gosip, tapi arisan yang sip!” kata Priyono.
“Jadi arisan apa pun itu, apa sip, apa sup, apa saham, emas, berlian, Mercy atau BMW, ya akhirnya semua sama saja.., yang keluar duluan hanya gosip?” kataku ketus.
“Bukan.., bukan seperti itu. Malahan sebaliknya.., arisan ini justru bertujuan buat mengharmoniskan kehidupan perkawinan antara suami istri!” jawab Priyono.
“Lho, untuk itu kenapa mesti arisan..?” kataku lagi.
“Boleh nggak diberi tahu Mas?” kata Priyono sambil melirik kepada suamiku. Suamiku tersenyum sambil mengangguk. “Begini Mbak, terus terang saja, arisan kita itu bentuknya kegiatan tukar-menukar pasangan”, katanya.
“Pasangan?! Pasangan apa..?” jawabku dengan sangat heran.
“Ya itu, pasangan suami-istri”, tiba-tiba suamiku menyeletuk.
“Mengapa harus ditukar-tukar sih? Dan apanya yang ditukar?” tanyaku karena aku jadi semakin tidak mengerti atas penjelasan suamiku itu.
“Walah, penjelasannya panjang.., ini kan jaman emansipasi”, kata suamiku.
“Memangnya apa hubungannya dengan jaman emansipasi!” aku menyela kata-kata suamiku.
“Begini.., kegiatan club ini sebenarnya bertujuan untuk mengharmoniskan kehidupan suami istri dalam rumah tangga”, kata suamiku.
“Jadi..”
“Jadi.., jadi ya kau ikut saja dulu deh! Nanti baru tahu manfaatnya!” kata Priyono menyeletuk.
“Nggak mau ah kalau hanya ikut-ikutan!” “Begini Neng!” kata suamiku. “Singkatnya menurut pandangan para pakar seksualogi dalam kehidupan perkawinan seseorang pada saat-saat tertentu terdapat suatu periode rawan dimana dalam periode tersebut kehidupan perkawinan seseorang itu mengalami krisis. Krisis ini apabila tidak disadari akan menimbulkan bencana yang besar yaitu tidak adanya kegairahan lagi dalam kehidupan perkawinan. Apabila tidak ada kegairahan lagi antara suami-istri biasanya akan membawa akibat yang fatal”, kata suamiku lagi.
“Misalnya bagaimana?”
“Ya dalam kehidupan perkawinan itu secara tidak disadari timbul kejenuhan-kejenuhan. Kejenuhan yang paling utama dalam periode tersebut biasanya dalam masalah hubungan badan antara suami istri, pada periode tersebut hubungan seks antara suami-istri tidak lagi menyala-nyala sebagaimana pada masa setelah pengantin baru. Kedua belah pihak biasanya telah kehilangan kegairahan dalam hubungan mereka di tempat tidur yang disebabkan oleh berbagai faktor. Hubungan badan suami istri tersebut akhirnya terasa menjadi datar dan hanya merupakan suatu hal yang rutin saja. Untuk mengatasi hal itu bagi para pasangan suami istri perlu mendapatkan penggantian suasana, khususnya suasana dalam hubungan di tempat tidur”, kata suamiku. “Ah itu kan hanya alasan yang dicari-cari saja.., bilang saja kalau sudah bosan dengan istri atau mau cari yang lain!” kataku.
“Nah, disinilah memang letak masalahnya.., yaitu ‘kebosanan’.., dan ‘wanita lain’. Hal itu sangat betul sekali.., karena ‘kebosanan’ merupakan sifat manusia, sedangkan ‘keinginan kepada wanita lain’ secara terus terang itu merupakan sifat naluri kaum laki-laki secara umum, disadari atau tidak disadari, diakui atau tidak diakui, mereka mempunyai naluri poligamis, yaitu berkeinginan untuk melakukan hubungan badan tidak dengan satu wanita saja. Akan tetapi sifat-sifat ini justru merupakan ’sumber konflik utama’ dari krisis kehidupan perkawinan seseorang! Nah!, hal inilah yang akan dicegah dalam kegiatan club itu!” “Jelasnya bagaimana?” kataku.
“Apabila seorang suami menuruti naluri kelaki-lakiannya itu, maka dia cenderung akan melakukan penyelewengan dengan wanita lain secara sembunyi-sembunyi. Mengapa..? Karena dia tahu hal itu akan merupakan sumber konflik dalam rumah tangga yang sangat berbahaya. Pertama-tama karena dia tahu istri tidak menyetujuinya, oleh karena itu dilakukan secara sembunyi-sembunyi, yang kedua hal itu membuat suatu keadaan yang tidak adil dalam kehidupan suami-istri. Kalau suaminya bisa merasakan orang lain, untuk mendapatkan kenikmatan seksual yang lain daripada istrinya, kenapa istrinya tidak..!” “Apakah memang demikian problem dari sebuah perkawinan? Aku kira bukan hanya soal seks saja yang menjadi konflik dalam hubungan suami istri, namun juga tentunya ada unsur lainnya!” kataku berargumentasi.
“Tidak salah pendapatmu! Memang benar dalam suatu perkawinan banyak unsur yang mempengaruhinya, akan tetapi dalam perkawinan hanya ada dua unsur saja yang paling dominan, ibarat kopi dengan susunya!” kata suamiku. “Apa hubungan perkawian dengan kopi susu?” tanyaku agak heran.
“Begini..” kata suamiku selanjutnya. “Dalam suatu perkawinan sebenarnya merupakan campuran antara dua unsur yang sangat berbeda, yaitu antara unsur ‘cinta’ dan unsur ‘kenikmatan seks’. Kedua unsur ini saling melengkapi dalam hubungan perkawinan seseorang. Unsur cinta adalah merupakan faktor yang dominan yang merupakan faktor utama terjalinnya suatu ikatan batin antara dua insan yang berlainan jenis. Unsur cinta ditandai dengan adanya kerelaan pengabdian dan pengorbanan dari masing-masing pihak dengan penuh keihlasan dan tanpa mementingkan egoisme dalam diri pribadi. Sedangkan unsur kenikmatan seks adalah merupakan unsur penunjang yang dapat memperkokoh dan mewarnai unsur cinta tersebut. Unsur ini ditandai dengan manifestasi adanya keinginan melakukan hubungan hubungan tubuh dari dua insan yang berlainan jenis, adanya kobaran nafsu birahi serta adanya keinginan dari masing-masing pihak untuk mendominasi pasangannya secara egois. Adanya nafsu birahi ini dalam diri kita sebagai mahluk alam adalah wajar dan bukan sesuatu yang memalukan. Nah.., kedua unsur tadi apabila kita ibaratkan seperti minuman tidak bedanya sebagai ‘kopi’ dengan ’susunya’. Unsur cinta dapat diibaratkan sebagai kopi dan unsur kenikmatan seks dapat diibaratkan sebagai susunya. Kedua unsur yang saling berbeda ini dapat dinikmati dengan berbagai cara. Apakah ingin dicampur sehingga menjadi sesuatu yang baru yang lain rasanya daripada aslinya atau dinikmati secara sendiri-sendiri sesuai dengan rasa aslinya!” “Jadi apa hubungannya dengan arisanmu sekarang?”
“Nah, arisan ini bertujuan untuk membuat keadaan yang adil dan berimbang di antara suami dan istri. Kedua-duanya harus mempunyai hak yang sama dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan tuntutan dari wanita itu sendiri untuk beremansipasi. Dan hak itu tidak terkecuali walaupun dalam hubungan seks, para istri juga harus diberi kesempatan yang sama seperti para suami. Para istri juga harus dapat memilih kehendaknya, apakah sewaktu-waktu dia ingin minum ‘kopinya’ saja, atau ’susunya’ saja, atau ‘kopi susunya’. Masalahnya sekarang, bagaimana mewujudkan hal itu. Kalau dilakukan oleh para suami atau para istri itu secara sendiri-sendiri, maka akan menjadi kacau dan malahan tujuannya mungkin tidak akan tercapai. Oleh karena itu perlu diusahakan secara terorganisir. Yang paling gampang ya, dalam bentuk kegiatan arisan seperti ini”, kata suamiku. “Iya Mbak, siapa tahu akhirnya para istri juga akan dapat menikmatinya.., eh malahan jangan-jangan jadi lebih doyan!” kata Priyono menimpali komentar suamiku.
“Ah, kau kayak bensin saja.., langsung nyamber!” kataku.
“Kalau begitu bukankah hal itu juga merupakan suatu penyelewengan dalam perkawinan?” tiba-tiba kata istri Priyono berkomentar.
“Tentu saja bukan..! Karena apa definisi menyeleweng itu? Seseorang itu dikatakan menyeleweng apabila dia melakukan hal di luar pengetahuan pasangannya. Atau dengan kata lain dia melakukan itu secara sembunyi-sembunyi sehingga pasangannya tidak tahu dan tidak pernah menyetujuinya. Berlainan dengan kegiatan ini. Semuanya terbuka dan melalui persetujuan bersama antara kedua pasangan suami-istri itu”, jawab suamiku. Pada akhirnya setelah menjalani debat yang panjang dalam forum resmi maupun tidak resmi, aku dan istri Priyono mengalah. Resolusi para suami itu kami terima dengan catatan kami ikut dalam kegiatan club ini semata-mata hanya untuk sekedar ingin tahu saja dan tidak ada tujuan lain yang lebih dari itu. Selain daripada itu kami mengalah untuk membuat hati para suami senang. Oleh karena itulah malam ini akhirnya aku berada di tempat ini. Aku mengenakan gaun dari bahan satin yang agak tipis yang agak ketat melekat di tubuhku. Aku mengenakan gaun ini adalah juga atas anjuran suamiku. Suamiku berkata bahwa aku sangat menarik apabila mengenakan pakaian yang agak ketat dan terbuka. Aku kira pendapat suamiku benar, karena dengan memakai gaun ini aku lihat bentuk tubuhku jadi semakin nyata lekak-lekuknya. Apalagi dengan model potongan dada yang agak rendah membuat pangkal buah dadaku yang putih bersih kelihatan agak tersembul keluar membentuk dua buah bukit lembut yang indah. Tidak berapa lama kami berdiri di depan pintu, seseorang membuka pintu dan langsung menyalami kami.
“Selamat datang dan selamat malam”, katanya langsung sambil menyalami kami.
“Perkenalkan saya Djodi, tuan rumah di sini, dan ini istriku.., panggil saja Siska!” katanya langsung memperkenalkan seorang wanita yang tiba-tiba muncul. Dandanannya agak menor untuk menutupi kerut wajahnya yang sudah dimakan usia. Tapi secara keseluruhan bentuk tubuhnya masih boleh jugalah. Buah dadanya subur walaupun perutnya kelihatan agak gendut. Kelihatannya dia itu seorang keturunan Cina. Selanjutnya kami dipersilakan masuk ke dalam ruangan tamu. Suasana dalam ruangan itu kudapati biasa-biasa saja. Di sudut-sudut ruangan terdapat makanan kecil dan buah-buahan. Di sudut lainnya ada sebuah bar yang kelihatan lengkap sekali jenis minumannya. Sementara itu suara iringan musik terdengar samar-samar mengalun dengan lembut dari ruang tamu yang besar. Yang membedakannya adalah para tamunya. Kelihatannya tidak begitu banyak, kuhitung hanya ada belasan orang dan wanitanya semua berdandan secantik mungkin dengan pakaian yang lebih seksi daripada yang kukenakan. Demikian juga aku tidak melihat seorang pelayan pun atau petugas catering yang biasanya mengurusi konsumsi dalam pesta-pesta yang diadakan di rumah-rumah mewah seperti ini. “Silakan.. help your self saja”, kata nyonya rumah kepada kami dalam bahasa Inggris logat Cina Singapore. “Memang sengaja para pembantu semuanya sudah disuruh ngungsi.., you know kan, agar privacy kita tidak terganggu!” katanya lagi dengan suara yang genit. Kami segera berbaur dengan pasangan-pasangan lainnya yang sudah ada di sana. Priyono dan istrinya sedang mengobrol dikelilingi beberapa pasangan lainnya. Aku lihat istri Priyono benar-benar sangat menarik sekali malam itu dengan pakaiannya yang agak tembus pandang membuat mata kita mau tidak mau akan segera terjebak untuk memperhatikannya dengan seksama, apakah dia memakai pakaian dalam di balik itu. Sehingga dalam pakaian itu dia tidak saja kelihatan sangat cantik akan tetapi juga seksi. Melihat penampilan istri Priyono, suamiku jadi sangat antusias sekali. Dia terus memperhatikan istri Priyono tanpa mempedulikanku lagi. Sikap suamiku yang demikian menimbulkan juga rasa cemburu di hatiku. Jadi benar dugaanku, rupanya suamiku benar tertarik kepada istri Priyono. Pantas saja dia sering memujinya bahkan sering mengatakan kepadaku secara bergurau bagaimana rasanya kalau berhubungan kelamin dengan istri Priyono. Tidak berapa lama kemudian tuan rumah beserta istrinya menghampiri kami. “Mari kita ambil minum dahulu”, katanya sambil langsung menuju bar. Salah seorang tamu kemudian bertindak sebagai bar tender. Dengan cekatan dia membuatkan minuman yang dipilih masing-masing orang dan kebanyakan mereka memilih minuman yang bercampur akohol. Kecuali aku dan istri Priyono. Aku memang tidak begitu tahan terhadap minuman beralkohol. “Anda minum apa?” tanyanya kepadaku dan istri Priyono.
“Coca cola saja..!” kataku.
“Pakai rum, bourbon atau scotch?” “Terima kasih.., coca cola saja..!”
“Oo, di sini tidak boleh minum itu! Itu termasuk minuman kedua yang dilarang di sini..!” katanya dalam nada yang jenaka. “Minuman pertama yang dilarang adalah cola atau lainnya yang dicampur dengan Baygone! Yang kedua minuman yang anda pilih tadi, jadi mau tidak mau harus dicampur sedikit dengan rum atau lainnya. Saya kira ‘rum and cola’ cocok untuk anda berdua!” katanya lagi sambil terus mencampur rum dan segelas cola serta menaruh es batu ke dalamnya.
“Ini.., cobalah dahulu.., buatan bar tender terkenal!” katanya sambil menyodorkan gelas itu kepada kami. Selesai membuat minuman dia segera bergabung dengan kami.
“Anda cantik sekali dengan busana ini”, katanya seraya memegang pundakku yang terbuka.
Aku agak menjauhinya seketika karena kukira dia mabuk. Tapi sesungguhnya hal itu disebabkan aku tidak terbiasa beramah-ramah dengan seorang pria asing yang belum kukenal benar.
“Terima kasih”, kataku berusaha menjawabnya.
“Dada anda bagus sekali”, katanya sambil menatap dalam-dalam ke arah belahan dada gaunku.
Dia diam sejenak. Kemudian dia mulai memperhatikanku secara khusus. Kelihatannya dia sedang menilaiku. Aku dapat membacanya dari senyumnya yang tersembunyi. Apabila waktu yang lalu ada seorang laki-laki yang memandang diriku secara demikian maka suamiku mungkin akan segera mengirimkan bogem mentah kepadanya. Aku pun kemudian mulai memperhatikan penampilannya. Aku berpikir apakah dia laki-laki yang akan meniduriku nanti? Tidak begitu jelek juga, pikirku. Tinggi badannya kira-kira 170 cm, dengan bahu yang bidang dan wajah yang ramah menarik. Aku berpikir rupanya dalam club ini untuk dapat tidur dengan seorang wanita tidak berbeda bagaikan akan membeli seekor sapi saja. Namun secara tidak disadari aku menyukai juga ucapannya itu terutama datangnya dari seorang pria yang tidak aku kenal dan di hadapan suamiku. Kuharap dia dengar kata-kata itu. Kata-kata itu ditujukan kepadaku, bukan kepada istri Priyono. Ya, pada saat itu aku merasa agak melambung juga walaupun hanya sedikit. Aku segera menghabiskan minumanku. Aku memang selalu berbuat itu, akan tetapi rupanya dia mengartikannya lain bahwa aku ingin segera memulai sesuatu.
“Jangan terburu-buru!” katanya.
“Kita belum lagi tahu cottage mana yang akan anda tempati”, katanya sambil menambah minumanku. “Akan tetapi saya senang sekali apabila nanti kita dapat tempat yang sama dan segera ke sana.” bisiknya.
Aku menjadi agak terselak seketika. Hal ini disebabkan bukan hanya aku kaget mendengar bisikannya itu, tetapi juga minumanku terasa sangat keras sehingga kepalaku langsung terasa mulai berat.
“Saya benar-benar baru pertama kali mengikuti pertemuan ini”, tiba-tiba aku berkata secara spontan.
“Ohh”, katanya agak kaget. Kemudian dia menatapku dengan pandangan yang menyesal.
“Saya harap kata-kata saya tadi tidak menyinggung anda.” bisiknya dengan nada minta maaf.
“Sungguh.. sungguh tidak”, kataku sambil memberikan senyuman. Tidak berapa lama kemudian tuan rumah mengumumkan akan melakukan penarikan nomor arisan. Semula aku mengira tuan rumah akan menarik nama pasangan yang akan mendapat arisan bulan ini sebagaimana arisan-arisan biasa lainnya. Akan tetapi dugaanku meleset. Mula-mula tuan rumah meminta kami untuk berkelompok secara terpisah antara suami istri. Para suami membuat kelompok sendiri dan para istri juga membuat kelompok sendiri. Selanjutnya kami masing-masing diminta mengambil amplop kecil dalam dua buah bowl kristal yang berbeda yang diletakkan pada masing-masing kelompok. Satunya untuk para suami dan satunya lagi untuk para istrinya. Amplop kecil tersebut ternyata berisi sebuah kunci dengan gantungannya yang bertuliskan sebuah nomor. Aku bertanya kepada wanita di sebelahku yang kelihatan sudah biasa dalam kegiatan ini.
“Kunci ini adalah kunci cottage yang ada di sekitar villa ini..” katanya. “Jadi nanti kita cocokkan nomor yang ada di kunci itu dengan nomor bungalow atau kamar di sana.”
“Terus..” kataku selanjutnya.
“Terus..!?” katanya sambil memandang kepadaku dengan agak heran. “Terus..? Oh ya.., kita tunggu saja siapa yang dapat kunci dengan nomor yang sama!” Tiba-tiba hatiku menjadi kecut. Aku tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan dalam cottage itu. Apalagi hanya berduaan dengan laki-laki yang bukan suami kita.
“Jadi kita hanya dengan berdua dalam cottage itu?”
“Ya, karena kuncinya sudah pas sepasang-sepasang!”
“Jadi kita tidak tahu siapa yang dapat kunci dengan nomor yang sama dengan nomor kita?” kataku untuk menegaskan dugaanku.
“Ya, memang sekarang ini sistemnya berbeda. Dahulu pada waktu club ini disebut The Golden Key Club memang kita bisa ketahui karena para pesertanya mula-mula berada dalam sebuah kamar masing-masing. Jadi kita tahu siapa di kamar nomor berapa. Kemudian baru para suami keluar dan saling tukar menukar kunci kamar mereka dimana para istrinya berada di dalamnya. Sekarang sistem itu telah dirubah. Karena dengan sistem itu ada anggota yang suka curang. Dia memilih pasangan yang diincarnya sehingga timbul komplain dari anggota yang lain. Sekarang masing-masing pasangan mengambil kunci kamar secara diundi dan disaksikan oleh semua anggota. Sehingga sekarang lebih fair karena anggota tidak dapat memilih pasangannya yang diincar terlebih dahulu. Kelemahannya dalam sistem ini ada kemungkinan pasangan suami-istri itu juga akan mendapatkan nomor yang sama. Kalau sudah begitu ya nasibnya lah.., kali ini dia tidak dapat apa-apa.” Sekarang aku baru mengerti mengapa club ini dahulu dinamakan The Golden Key Club. Selesai kami mengambil kunci semua berkumpul kembali di ruang tamu. Tuan rumah meminta kami untuk mengambil gelas sampanye masing-masing kemudian kami bersulang. Aku mereguk sampanye itu sekaligus sehingga kepalaku kini terasa semakin berat.
“Dapat nomor berapa?” kata suamiku yang tiba-tiba sudah berada di sampingku.
“Nomor delapan..!” jawabku.
“Untung..! ”
“Kenapa untung?”
“Ya untung tidak dapat nomor yang sama.., nomorku duabelas!” katanya.
“Itu bukan untung tapi cilaka.., cilaka duabelas namanya!”
“Ya tapinya untung juga..!” jawab suamiku.
“Kenapa..?”
“Untung bukan cilaka tigabelas!” jawabnya sambil tertawa.
“Sudah percuma berdebat di sini..!” kataku. “Eh kalau Novie dapat nomor berapa ya?” kataku lagi.
“Iya ya.., nomor berapa dia, tolong kau tanyakan dong!” Rupanya aku tidak usah berpayah-payah mencari Novie karena tiba-tiba Priyono dan istrinya sudah berada di dekat kami.
“Eh, kamu dapat nomor berapa?” aku berbisik kepada Novie. “Nomor duabelas Mbak..” jawabnya.
Aku jadi terhenyak. Jadi maksud suamiku untuk meniduri istri Priyono kini tercapai. Aku segera memberi isyarat kepada suamiku bahwa nomornya sama dengan nomor dia. Suamiku kelihatan berseri-seri sekali ketika menerima isyaratku. Aku jadi agak cemburu lagi melihat tingkahnya. Dia bernyanyi-nyanyi kecil mengikuti irama musik yang mengalun di ruangan itu. Tidak berapa lama kemudian lampu-lampu di seluruh ruangan itu mulai meredup. Ruangan itu kini menjadi agak gelap dan alunan musik berirama slow terdengar lebih keras lagi. Suasana dalam ruangan itu kini jadi lebih romantis. Aku lihat beberapa pasangan yang mulai berdansa tapi kebanyakan dari mereka menyelinap satu persatu, mungkin menuju cottage-nya masing-masing, tapi ada juga yang masih duduk-duduk mengobrol di sofa. Tiba-tiba Priyono mengajakku untuk berdansa. Dan sudah barang tentu suamiku segera juga mengajak istri Priyono berdansa. Ketika kami berdansa Priyono mendekapku erat-erat. Begitu sangat eratnya sehingga seolah-olah kami dapat mendengar degub jantung di dada masing-masing.
“Kamu dapat nomor berapa?” tiba-tiba Priyono berbisik di telingaku.
“Nomor delapan!” jawabku.
“Ah, sayang..”
“Mengapa?” kataku lagi.
“Aku nomor enam!” katanya lagi.
“Siapa itu..?” tanyaku.
“Aku dengar sih Nyonya Siska, istrinya tuan rumah!”
“Wah, enak dong.., orangnya sintal, mungkin tiga hari nggak habis dimakan!” kataku berseloroh.
“Jangan ngeledek ya..!” katanya.
“Memangnya kenapa..? Kan betul orangnya sintal!”
“Potongan seperti itu bukan typeku!” katanya.
“Typemu seperti apa sih?” kataku.
“Seperti kamu..!” katanya lagi sambil terus mendusal-dusal leherku. Aku jadi agak bergelinjang juga leherku diciumi Priyono sedemikian rupa. Selama kami bergaul belum pernah dia melakukan hal yang tidak senonoh denganku. Dia sangat sopan terhadapku. Tapi malam ini tiba-tiba saja dia berbuat itu. Apakah karena pengaruh alkohol yang dia minum tadi atau memang selama ini dia juga mempunyai perasaan yang terpendam terhadap diriku. Perasaanku kini jadi melambung kembali. Ditambah dengan pengaruh alkohol yang aku minum tadi, aku merasakan adanya gairah birahi yang timbul dalam diriku ketika berdekapan Priyono sehingga aku pasrah saja leherku didusal-dusalnya. “Eh, kau ngerayu, atau mabok..? Kenapa dari dulu-dulu nggak bilang!” kataku sambil terus mendekapkan tubuhku lebih erat lagi sehingga buah dadaku terasa menyatu dengan dadanya.
“Malu sama suamimu!”
“Kenapa malu.., dia sendiri juga sering cerita bahwa dia suka sama istri kamu, eh sekarang dia dapat nomor kamar istrimu lagi!” kataku lagi.
“Oh ya..?” kata Priyono. “Kalau aku dulu bilang.., kau terus mau apa?”
“Tentunya kita nggak usah payah-payah ikut arisan di sini.. di rumah saja!”
“Ah, kau..!” katanya sambil terus menempelkan pipinya ke pipiku. Selanjutnya begitu irama musik hampir selesai, tiba-tiba Priyono meraih wajahku dan langsung mengecup bibirku dengan lembut. Ketika kami kembali ke tempat semula kudapati suamiku dan istri Priyono sudah tidak ada di sana. Aku pikir mereka sudah tidak sabar lagi dan masuk ke cottagenya ketika kami sedang berdansa tadi. Baru saja kami duduk tiba-tiba sepasang suami istri datang menghampiri kami dan mengulurkan tangannya.
“Saya Alex.., dan ini istri saya Mira”, katanya memperkenalkan diri.
Priyono dan aku menyebutkan nama kami masing-masing. Selanjutnya kami berbasa-basi berbincang-bincang sejenak.
“Anda dapat nomor berapa?” dia bertanya kepada Priyono.
“Enam!” jawab Priyono singkat.
“Saya nomor delapan dan istri saya nomor enambelas” katanya.
Aku jadi tersentak seketika, demikian juga Priyono.
“Itu adalah nomorku”, kataku. “Oh ya!” kata Alex agak kaget. “Saya kira anda berdua sudah bernomor sama.., tapi anda kan bukan pasangan suami istri?” katanya lagi.
“Ya..!” kataku hampir serempak. Kemudian dia berpaling kepada Priyono dan mengamit lengannya menjauhi kami.
“Bolehkah kita bernegosiasi..” bisiknya kepada Priyono.
“Saya lihat anda senang sekali dengan nomor delapan. Sebenarnya saya juga senang dengan penampilannya, akan tetapi saya sudah mempunyai janji dengan nomor enam. Bagaimana kalau kita bertukar nomor? Anda mengambil nomor delapan dan saya nomor enam. Sedangkan istri saya memang sudah sesuai dengan nomor enambelas yang juga kebetulan tuan rumah kita. Memang hal ini tidak diperbolehkan apabila ada anggota lainnya yang tahu. Tapi saya harap hal ini hanya di antara kita saja.”
Bagaikan mendapatkan durian runtuh, Priyono segera saja mengiyakan. Kemudian kulihat mereka bertukar nomor kunci.
“Oh, dear!” kata Alex. “Kali ini saya tidak akan menginterupsi kalian. Lain kali saya harap saya dapat nomor anda lagi!” Kemudian dia melingkarkan tangannya ke tubuhku dan memberikan sebuah kecupan kecil di bibirku. Selanjutnya tidak ayal lagi Priyono segera memegang tanganku dan menuntunku menuju cottage nomor delapan. Ketika kami memasuki pintu cottage itu aku berpikir di sinilah kemungkinan awalnya perubahan hidupku. Seumur hidupku aku belum pernah melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain kecuali dengan suamiku sendiri, akan tetapi hal itu akan berubah dalam waktu beberapa menit ini. Aku akan menjadi seorang istri yang serong dan semuanya ini disebabkan oleh ulah suamiku sendiri. Apakah ada orang yang akan percaya mengenai hal itu? Secara jujur begitulah keadaanku dan itulah apa yang kupikirkan waktu itu. Aku tahu dengan ini aku memberikan suamiku semacam kepuasan seks lain sebagaimana yang dia inginkan. Begitu memasuki cottage itu Priyono langsung merangkulku dan mulai menghujani wajahku dengan kecupan-kecupan kecil. Dia kelihatan begitu sangat bernafsu sekali terhadap diriku. Aku benar-benar tidak menyangka Priyono dapat bersikap seperti itu. Selama ini kukenal dia wajar-wajar saja apabila bertemu denganku. Apakah pada acara-acara rutin kami atau kesempatan lainnya. Kupikir apakah hal itu akibat pengaruh alkohol yang diminumnya tadi atau mungkin juga memang sejak dahulu dia sudah mempunyai minat yang besar terhadap diriku namun dia terlalu sopan untuk mengungkapkannya dalam kesempatan yang biasa. Tidak berapa lama kemudian tangannya segera menyusup ke balik busanaku yang memang berpotongan rendah dan menjalar menelusuri punggungku. Tiba-tiba kusadari betapa nikmatnya itu semua. Aku merasakan suatu hal yang luar biasa yang belum pernah kualami sebelumnya, aku merasa bagaikan kembali pada saat-saat dimana aku mengalami ciuman yang pertama dari seorang laki-laki. Hanya kini rasa sensasi yang muncul dalam diriku aku rasakan tidak asing lagi. Aku ingin segera ditiduri. Ketika bibirnya menempel di bibirku aku pun langsung melumatnya dengan kuat. Selanjutnya dia merenggangkan mulutku dan mendorongkan lidahnya di antara gigiku mencari-cari lidahku yang segera kujulurkan untuk menyambutnya. Sungguh merupakan suatu ciuman yang panjang dan lama sekali. Selanjutnya dengan segera tangannya mulai meraba daerah sekitar buah dadaku. Aku mempunyai suatu kelemahan mengenai buah dadaku, aku maksudkan buah dadaku sangat sensitif sekali. Begitu buah dadaku tersentuh maka praktis akan membuatku terus bergelinjang. Oleh sebab itu ketika tangannya menyentuh langsung puting susuku maka aku menjadi bergelinjang dan meliuk-liuk dengan liarnya. Jari-jariku menghujam di punggungnya menahan suatu perasaan yang sangat dahsyat. Pada saat tubuh kami terlepas satu sama lainya, nafas kami pun memburu dengan hebat. Dia mulai meneliti busanaku mencari kancing atau pun reitsleting untuk segera melepaskan busana itu dari tubuhku. Akan tetapi busanaku memang hanya mempergunakan karet elastis saja, maka dengan mudah aku segera melepaskan busana itu melalui kepala. Aku tidak mengenakan apa-apa lagi di balik busanaku itu kecuali dua carik pakaian dalam model bikini yang tipis dengan warna yang senada dengan kulitku. “Saya senang dengan puting susu yang besar”, katanya sambil menyentuh puting susuku dengan lembut. “Karena cukup untuk menyusui anaknya dan sekaligus bapaknya.” Aku tidak menjawab. Kupikir dalam kesempatan seperti ini dia masih saja bisa berkelakar. Akan tetapi sebenarnya saat itu aku juga ingin berkata kepadanya bahwa aku juga ingin segera menyaksikan bagaimana bentuk tubuh aslinya di balik kemeja dan pantalonnya itu. Namun aku merasa masih sangat malu untuk berkata secara terus terang. Rupanya dia dapat membaca apa yang ada dalam pikiranku. Sehingga selanjutnya kudapati dia mulai membuka kancing kemejanya dan melepaskan kemeja itu dari tubuhnya. Aku masih teringat bagaimana bentuk dadanya itu dan bagaimana ketika dia memperlakukan diriku. Dadanya kecoklat-coklatan hampir berwarna sawo matang penuh ditumbuhi dengan bulu dada keriting berwarna hitam di tengahnya. Otot-ototnya pun semua kelihatannya sangat kokoh dan seimbang. Ingin rasanya aku menyentuhkan wajah serta puting susuku ke dadanya, dan tidak berapa lama kemudian secara tidak kusadari aku telah melakukan hal itu. Aku mengecup dadanya kemudian puting susunya. Betapa aku menggali kenikmatan dari itu semua. Ketika aku merapatkan tubuhku ke tubuhnya, aku dapat merasakan gumpalan alat kejantanannya di balik pantalonnya yang sudah menjadi besar dan keras sekali. Dia menggesek-gesekkan alat kejantanannya tersebut ke tubuhku yang hanya mengenakan BH serta celana dalam nylon yang tipis. Sementara itu tangannya telah menyusup ke balik celana dalamku menelusuri daerah sekitar pantatku dan meremas-remasnya dengan kuat daging pantatku yang lembut dan berisi. Selanjutnya dengan serta merta dia melucuti celana dalamku ke bawah kakiku, sementara aku pun merasa semakin bergelinjang dengan hebatnya. Segera saja kulemparkan celana dalam itu dengan kakiku jauh-jauh dari tubuhku. Dia pun kini melepaskan BH-ku sehingga kini tubuhku benar-benar berada dalam keadaan bertelanjang bulat berdiri di hadapannya. Kemudian Priyono agak menjauh beberapa saat untuk menurunkan reitsleting calananya. Begitu reitsleting diturunkan dalam sekejap pantalonnya pun juga ikut tergusur ke bawah. Dan sudah barang tentu pemandangan selanjutnya yang kusaksikan adalah sebuah alat kejantanan yang sangat besar dan gempal sedang berdiri dengan tegaknya menentang diriku. Aku tidak melihat banyak perbedaan dengan bentuk alat kejantanan suamiku, akan tetapi yang mengesankan adalah alat kejantanan yang kulihat sekarang adalah milik seorang laki-laki lain walaupun dia sahabat suamiku. Seumur hidupku aku belum pernah menyaksikan alat kejantanan seorang laki-laki dewasa yang begitu dekat jaraknya dengan tubuhku kecuali alat kejantanan suamiku sendiri, apalagi aku sendiri dalam keadaan bertelanjang bulat, dan tidak berapa lama lagi dia akan menyetubuhi diriku dengan alat tersebut. Sehingga secara tidak sadar kurasakan timbul suatu keinginan dalam diriku untuk segera memegang bahkan menghisap alat kejantanan itu, akan tetapi sekali lagi aku masih tidak mempunyai keberanian melakukan hal itu. Selanjutnya Priyono meraih dan membopong tubuhku yang telah bertelanjang bulat itu ke atas tempat tidur. Aku segera telentang di sana dengan segala kepolosan tubuhku menanti kelanjutan dari dari kesemuanya itu dengan pasrah. Akan tetapi rupanya Priyono belum mau memasukkan alat kejantanannya ke liang kewanitaanku. Dia masih tetap saja berdiri menikmati pemandangan keindahan tubuhku dengan pandangan yang penuh dengan kekaguman. Tatapan mata Priyono ke seluruh tubuhku yang bugil di lain keadaan juga menumbuhkan semacam perasaan erotis dalam diriku. Aku merasakan adanya suatu kenikmatan tersendiri bertelanjang bulat di hadapan seorang laki-laki asing yang bukan suamiku sendiri dan memperlihatkan seluruh keindahan lekuk tubuhku yang selama ini hanya disaksikan oleh suamiku saja. Sehingga secara tidak sadar kubiarkan tubuhku dinikmati mata Priyono dengan sepuas-puasnya. Malahan ketika tatapan mata Priyono menyapu bagian bawah tubuhku secara reflek aku renggangkan keduabelah pahanya agak lebar seakan-akan ingin memberikan kesempatan yang lebih luas lagi kepada mata Priyono untuk dapat menyaksikan bagian dari tubuhku yang paling sangat rahasia bagi seorang wanita. Puas menikmati keindahan tubuhku kini tangan Priyono mulai sibuk di seluruh tubuhku. Tangannya mulai meraba dan meremas seluruh bagian tubuhku yang sensitive. Mulai dari buah dadaku yang subur berisi sampai pada liang senggamaku yang ditumbuhi oleh bulu-bulu halus yang sangat lebat. Aku menjadi tambah bergelinjang dan tubuhku terasa bergetar dengan hebat. Secara tidak sadar aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dengan hebat. Liang senggamaku tambah berdenyut dengan hebat dan terasa licin dengan cairan yang keluar dari dalamnya. Aku heran bagaimana seorang laki-laki yang bukan suamiku dapat membuat diriku menjadi sedemikian rupa. Tidak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa aku dapat merasakan gelinjang birahi yang sedemikian hebat dari laki-laki lain yang bukan suamiku. Tidak berapa lama kemudian dia berlutut di depanku dan merenggangkan kedua belah pahaku lebih lebar lagi. Selanjutnya dia merangkak di antara kedua belah pahaku dan menatap langsung ke arah alat kewanitaanku. Lalu dia membungkukkan tubuhnya agak rendah dan mulai menciumi pahaku yang lama kelamaan semakin dekat ke arah liang kenikmatanku. Kembali aku merasakan suatu sensasi yang hebat melanda diriku. Aku benar-benar merasa semakin bertambah liar. Aku berteriak liar dengan suara yang sukar dipercaya bahwa itu keluar dari mulutku. Bagaikan serigala yang ganas Priyono segera melumat habis-habisan alat kewanitaanku. Mula-mula dia menjulurkan lidahnya dan mulai menyapu klitorisku dengan sangat halus sekali namun cukup untuk membuatku menjadi lupa daratan. Pinggulku secara otomatis mulai bergerak turun naik bagaikan dikendalikan oleh sebuah mesin dalam tubuhku. Priyono kemudian menurunkan lidahnya lebih ke bawah lagi dan membuat putaran kecil di sekitar liang senggamaku dan akhirnya dia sorongkan lidahnya dengan mahir ke dalamnya. Aku merasakan darahku menggelegak. Lidahnya terus keluar masuk berputar-putar menari-nari. Betapa tingginya seni permainan lidahnya itu tidak dapat kulukiskan dengan kata-kata. Lebih jauh dari itu aku tidak tahan lagi dan aku langsung mencapai puncak orgasme yang hebat. “Sudah.. sudahlah”, akhirnya aku berkata. Priyono tetap meneruskan melahap liang senggamaku. Sementara itu aku terus-menerus mengalami orgasme bertubi-tubi namun pada akhirnya dia berhenti juga. Dan pada saat dia mengambil posisi untuk menyetubuhi diriku, aku segera bangkit dan kini tanpa merasa risih lagi aku segera meraih alat kejantanannya yang hangat berwarna kemerah-merahan lalu memasukkannya ke dalam mulutku dan mulai bekerja dengan lidahku di sepanjang alat kejantanannya yang begitu terasa keras dan tegang. Aku merasakan suatu kenikmatan yang lain yang belum pernah aku rasakan. Aku merasakan alat kejantanan Priyono mempunyai aroma yang berlainan dengan alat kejantanan suamiku. Kini aku baru sadar alat kejantanan dari setiap laki-laki juga mempunyai perbedaan rasa yang khas yang tidak sama antara satu lelaki dengan lelaki lainnya. Bukan saja dari bentuk dan ukurannya akan tetapi juga dari aroma yang dipancarkan oleh masing-masing alat kejantanan itu. Selain itu aku merasakan alat kejantanan laki-laki lain ternyata terasa lebih nikmat daripada alat kejantanan suamiku sendiri. Mungkin hal itu karena aku mendapatkan sesuatu yang lain dari apa yang selama ini kurasakan. Jadi walaupun serupa tetapi tidak sama rasanya. “Sekarang giliranku untuk meminta berhenti”, katanya dengan tenang. Sebenarnya aku enggan melepaskan alat kejantanan yang menggiurkan itu dari mulutku. Aku ingin merasakan betapa alat kejantanannya itu memancarkan sperma dalam mulutku, akan tetapi kupikir tidak akan senikmat sebagaimana bila alat kejantanannya itu meledak dalam rahimku dalam suatu persetubuhan yang sempurna, sehingga kuturuti permintaannya dan membaringkan tubuhku dengan kedua belah kakiku ke atas. Selanjutnya aku menyaksikan sebuah dada yang bidang menutupi tubuhku dan tidak lama kemudian kurasakan alat kejantanannya itu mulai terbenam ke dalam liang senggamaku yang hangat dan basah. Aku jadi agak mengerang kecil ketika alat kejantanan yang besar dan gempal itu memasuki tubuhku. “Oh, sayang.., sayang”, kata Priyono bergumam.
“Teruskan.., teruskan! Rasanya dahsyat sekali..!” kataku secara spontan sambil mengencangkan otot liang senggamaku sehinga alat kejantanan Priyono itu terjepit dengan kuat. Kemudian dengan suatu kekuatan bagaikan sebuah pompa hydroulis, liang kewanitaanku menghisap dalam-dalam alat kejantanan itu sehingga terasa menyentuh leher rahimku. Secara perlahan-lahan dia mulai menggerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Untuk beberapa saat aku telentang tanpa bergerak sama sekali menikmati diriku disetubuhi oleh seorang laki-laki yang bukan suamiku. Sungguh sulit dipercaya, aku merasa hal ini sebagai suatu mimpi. Seorang laki-laki lain yang bukan suamiku kini sedang memasukkan alat kejantanannya ke dalam tubuhku dan aku pun sedang menggali semua kenikmatan darinya. Selanjutnya aku mulai menggoyang-goyangkan pinggulku dalam suatu putaran yang teratur mengikuti gerakan turun naik tubuhnya. Dengan garang Priyono terus-menerus menikamkan alat kejantanannya sedalam-dalamnya ke liang senggamaku secara bertubi-tubi. Alat kejantanannya dengan teratur keluar masuk dan naik turun di liang senggamaku yang membuka serta meremas dengan erat alat kejantanan itu. Aku merasakan persetubuhan yang sedang kami lakukan ini betul-betul sangat hebat. Dan kesemuanya ini disebabkan oleh alat kejantanan seorang laki-laki lain yang bukan suamiku. Selanjutnya Priyono mulai menghujamkan tubuhnya ke tubuhku semakin kuat dan semakin kencang. Kami jadi bergumulan dengan hebat di atas tempat tidur saling cabik mencabik tubuh masing-masing. Tubuh kami bersatu dan merenggang dengan hebat. Setiap hunjamannya membawaku ke suatu alam fantasi yang jauh entah dimana yang tidak pernah kuketahui dan belum pernah kualami sebelumnya. Yang aku tahu pada saat itu hanyalah suara desahan kenikmatan yang keluar dari mulut kami masing-masing. Tiba-tiba puncak dari itu semua, kurasakan alat kejantanannya yang berada dalam liang senggamaku menjadi sedemikian membesar dan tegang dengan keras. Liang senggamaku pun terasa berdenyut lebih keras lagi dan akhirnya aku merasakan suatu cairan yang hangat dan kental terpancar dari alat kejantanannya membanjiri liang senggamaku. Nafas Priyono dengan kuat menyapu wajahku. Saat yang mendebarkan itu berlangsung lama sekali. Sangat sukar aku lukiskan betapa kenikmatan yang kualami dari kesemuanya itu. Akhirnya kami terbaring dengan segala kelelahan namun dalam suatu alam kenikmatan lain yang belum pernah aku alami bersama suamiku. Yang terang ketika Priyono menarik alat kejantanannya dari liang senggamaku, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dari dalam tubuhku. Sisa malam itu tidak kami sia-siakan begitu saja. Kami menghabiskan sisa malam itu dengan melakukan hubungan intim beberapa kali lagi bagaikan sepasang suami-istri yang sedang berbulan madu dalam suatu hubungan persetubuhan yang sangat dahsyat dan belum pernah kualami bersama suamiku selama ini. Kami terus berasyik-masyuk sampai saat-saat terakhir kami kembali ke rumah masing-masing ketika hari sudah menjelang subuh. Keesokan harinya ketika aku terbangun, aku merasa bagaikan seorang wanita yang baru dilahirkan kembali. Demikian pula suamiku. Aku merasakan adanya suatu kesegaran dan kecerahan lain dari yang lain dan penuh dengan semangat kegairahan hidup. Hal ini membawa pengaruh kepada hari-hariku selanjutnya. Aku merasa mendapatkan suatu horizon baru dalam kehidupan. Demikian juga suamiku, kurasakan cinta kasih kami semakin bertambah dari waktu-waktu sebelumnya. Kehidupan rumah tangga kami serasa lebih harmonis penuh dengan keceriaan dan kegembiraan daripada waktu-waktu yang lalu. Dengan demikian tidak mengherankan kiranya apabila aku dan suamiku terus menghadiri arisan itu beberapa kali dan selama itu pula aku telah dapat merasakan berbagai macam type alat kejantanan laki-laki dalam berbagai macam bentuk dan ukuran serta berbagai macam tehnik permainan hubungan kelamin dengan para suami orang lain. Akan tetapi yang penting dari kesemuanya itu, di lain keadaan, aku menyadari suatu hal yang selama ini tidak pernah terpikirkan maupun kubayangkan sebelumnya, bahwa alat kejantanan suami kita sendiri sesungguhnya juga mempunyai suatu keistimewaan tersendiri. Aku dapat mengetahuinya kesemuanya itu karena aku telah dapat membandingkannya dengan alat kejantanan dari suami-suami orang lain. TAMAT


Cerita tante bispak

Cerita seru Pengalaman Bisnis Dengan Tante Girang

Jam lima pagi, aku terjaga lagi. Kali ini terasa agak dingin dihembus kipas angin dari atas. Kuambil selimut sambil melihat Tante yang masih berposisi telanjang bongkok udang. Hal ini menarikku untuk memeluknya dari belakang. Kutebarkan selimut lebar itu hingga menutupi tubuh kami berdua. Tangan kiri kusisipkan di bawah badannya dan tangan kananku kupelukkan melingkupi dadanya. Pinggulku kulekatkan ke arah pantatnya, sehingga otomatis zakarku menempel di situ pula, di sela-sela paha belakangnya.Dasar darah mudaku masih panas, sejenak kemudian burung kecilku sudah jadi ‘garuda’ perkasa yang siap tempur lagi. Kugerak-gerakkan menusuki sela-sela paha belakang Tante. Tanganku pun tidak tinggal diam dan mulai memelintir puting Tante kiri-kanan seraya meremas-remas gumpalan kenyal itu. Kontan mendapat perlakuan seperti itu Tanteku terbangun dan bereaksi.“Sudah, Ron..! Jangan lagi..!” tubuh Tante beringsut menjauhiku, namun aku tetap memeluknya erat.
Bahkan dengkulku sekarang berupaya membuka pahanya dari belakang. Tante beringsut menjauh lagi dan kedua tangannya berusaha melepas pelukanku.
“Jangan, Ron..! Aku ini Tantemu.” rintihnya sambil tetap membelakangiku.
“Tapi, tadi kita sudah melakukannya, Tante?” tanyaku tidak mengerti. Pelukanku tetap.
“Ya. Ta.. tadi Tante.. khilaf..”
“Khilaf..? Tapi kita sudah melakukannya sampai dua kali Tante?” aku tidak habis mengerti.
Kulekatkan lagi zakarku ke pantatnya. Tante menghindar.“Ii.. ya, Ron. Tante tadi benar-benar tak mampu.. menahan nafsu.. Tante sudah lama tidak melakukan ini sejak Oom-mu meninggal. Dan sekarang kamu merangsang Tante sampai Tante terlena.”
“Masak terlena sampai dua kali?”
“Yang pertama memang. Tante baru terbangun setelah.., Roni mem.. memasuki Tante. Tante mau melawan tapi tenagamu kuat sekali sampai akhirnya Tante diam dan malah jadi terlena.”“Kalau yang kedua, Tante..?” tanyaku ingin tahu sambil mendekap lebih erat. Tante menghindar dan menepisku lagi.
“Kamu mencium bibir Tante. Di situ lah kelemahan Tante, Ron. Tante selalu terangsang kalau berciuman..”
“Oh, kalau begitu Tante kucium saja sekarang ya..? Biar Tante bernafsu lagi.” pintaku bernafsu sambil berupaya memalingkan wajah Tante. Tapi Tante menolak keras.
“Jangan, Ron..! Sudah cukup. Kita jangan berzinah lagi. Tante merasa berdosa pada Oom-mu. Hik.. hik.. hik..” Tante terisak.
Aku jadi mengendurkan serangan, meski tetap memeluknya dari belakang.Kemudian kami terdiam. Dalam dekapanku terasa Tante sedang menangis. Tubuhnya berguncang kecil.
“Ya sudah, Tante. Sekarang kita tidur saja. Tapi bolehkan Roni memeluk Tante seperti ini..?”
Tidak kuduga Tante justru berbalik menghadapku sambil membetulkan selimut kami dan berkata, “Tapi kamu harus janji tak akan menyetubuhi Tante lagi kan, Ron?”
“Iya, Tante. Aku janji.., anggap saja Tante sekarang sedang memeluk anak Tante sendiri.”Sekilas kulihat bibir Tante tersenyum. Di bawah selimut, aku kembali memeluknya dan kurasakan tangan Tante juga memelukku. Buah dada besarnya menekan dadaku, tapi aku mencoba mematikan nafsuku. Zakarku, meski menyentuh pahanya, juga kutahan supaya tidak tegang lagi. Wajah kami berhadap-hadapan sampai napas Tante terasa menerpa hidungku. Matanya terpejam, aku pun mencoba tidur.Mungkin saking lelahnya, dengan cepat Tante terlelap lagi. Namun lain halnya dengan aku. Terus terang, meski sudah berjanji, mana bisa aku mengekang terus nafsu birahiku, terutama si ‘garuda’ kecilku yang sudah mulai mengepakkan sayapnya lagi. Dengan tempelan buah dada sebesar itu di dada dan pelukan hangat tubuh polos menggairahkan begini, mana bisa aku tidur tenang? Mana bisa aku menahan syahwat? Jujur saja, aku sudah benar-benar ingin segera menelentangkan Tante, menusuk dan memompanya lagi!Tapi aku sudah janji tidak akan menyetubuhinya lagi. Mestikah janji ini kuingkari? Apa akal? Bisakah tidak mengingkari janji tapi tetap dapat menyebadani Tante? Benakku segera berputar, dan segera ingat kata-kata Tante tadi bahwa dia paling mudah terangsang kalau dicium. Mengapa aku tidak menciumnya saja? Bukankah mencium tidak sama dengan menyetubuhi?Ya, pelan tapi pasti kusisipkan kaki kiri di bawah kaki kanan Tante, sedang kaki kananku kumasukkan di antara kakinya sehingga keempat kaki kami saling bertumpang tindih. Aku tidak perduli zakarku yang sudah jadi tonggak keras melekat di pahanya. Kurapatkan pelukan dan dekapanku ke tubuh Tante, wajahku kudekatkan ke wajahnya dan perlahan bibirku kutautkan dengan bibirnya.Lidahku kembali berupaya memasuki rongga mulutnya yang agak menganga. Aku terus bertahan dengan posisi erotis ini sambil agak menekan bagian belakang kepala Tante supaya pertautan bibir kami tidak lepas. Dan usahaku ternyata tidak sia-sia. Setelah sekitar 30 menit kemudian, tubuhku mulai pegal-pegal, kurasakan gerakan lidah Tante. Serta merta gerakannya kubalas dengan jilatan lidah juga.
“Emm.. emm.. mm..” desis Tante sambil membelit lidahku.Kepalanya kutekan makin kuat dan aku berusaha menyedot lidahnya hingga masuk ke mulutku. Kukulum lidahnya dan kupermainkan dengan lidahku. Kusedot, kusedot dan kusedot terus sampai Tante agak kesakitan, lalu kubelit-belit lagi dengan lidahku. Ya, silat lidah ini berlangsung cukup lama dan ketika tanpa sengaja pahaku menyenggol vagina tante, terasa agak basah. Pasti Tante terangsang, pikirku. Tapi aku tidak mau memulai, takut melanggar janji. Biar Tante saja yang aktif.Maka aku pun berusaha menambah daya rangsang pada diri Tante. Pelan tangan kirinya kubimbing untuk menggenggam zakarku. Meski mula-mula enggan, tapi lama kelamaan digenggamnya juga ‘garuda perkasa’-ku. Bahkan dipijit-pijit sehingga aku pun menggelinjang keenakan.
“Shh.. shh..!” desisku sambil mengulum lidahnya.Tangan kananku, setelah membimbing tangan kiri Tante menggenggam zakarku lalu meneruskan perjalanannya ke celah paha Tante yang sudah basah. Kusibakkan rambut-rambut tebal itu, mencari celah-celah lalu menyisipkan jari telunjuk dan tengahku di situ. Kugerakkan ke keluar-masuk dan Tante mendesis-desis, genggamannya di zakarku terasa mengeras. Aku tidak tahan lagi.“Masukin ya, Tante?” bisikku, lupa pada janjiku.
“Ja.. jangan, Ron..!”
“Ak.. aku nggak tahan lagi, Tante..!” pintaku.
“Di.. dijepit paha saja ya, Ron..?”
Tanpa kusuruh, Tante lalu telentang dan mengangkangkan pahanya. Pelan aku menaikinya. Tante membimbing zakarku di antara pahanya sekitar sejengkal di bawah vagina, lalu menjepitnya. Ia menggerak-gerakkan pahanya sehingga zakarku terpelintir-pelintir nikmat sekali.Payudara besar Tante menekan dadaku juga. Tangan kiriku mengutil-ngutil puting kanannya. Ciuman ke bibirnya kulanjutkan lagi, jemari tangan kananku juga terus berupaya memasuki vagina Tante dan mengocoknya.
“Heshh.. heshh.. Ron.. mm..,” Tante sulit bicara karena mulutnya masih kukulum.
“Tanganmu.. Ron..!” tangan kanan Tante berusaha menghentikan kegiatan tangan kiriku di putingnya, sedang tangan kanannya berusaha menghentikan kegiatan jemari kananku di vaginanya.Dipegangnya jemariku. Aku hentikan gerakan, tapi tiga jari tetap terendam di vagina basah itu dan kukutil-kutil kecil. Sampai Tante tidak tahan dan mengangkangkan sedikit pahanya hingga jepitan pada zakarku terlepas. Cepat kutarik jemariku dari situ dan kunaikkan sedikit tubuhku sehingga sekarang ganti zakarku berada di pintu gerbang nikmat itu. Kepalanya malah sudah menyeruak masuk.“Hshh.. Ron, jangan dimasukkan..!” Tante buru-buru memegang zakarku, digenggamnya.
“Tapi aku sudah nggak tahan Tante..” desisku.
“Cukup kepalanya saja, Ron.. dan jangan dikocok..!” Tante memperketat genggamannya, sementara aku semakin memperderas tekanan ke vaginanya.
“Ii.. ingat janjimu, Ron..!”
“Ta.. tapi Tante juga ingin kan?” tanyaku polos.
“Ii.. iya sih, Ron. Tante juga sudah nggak tahan. Tapi ini zinah namanya.”
“Apa kalau tidak dimasukkan bukan zinah, Tante?” tanyaku bloon.
“Bu.. bukan, Ron. Asal burungmu tidak masuk ke vagina Tante, bukan zinah..” aku jadi bingung.
Terus terang tidak mengerti definisi zinah menurut Tante ini.“Kalau begitu, apa Tante punya jalan keluar? Kita sudah sama-sama terangsang berat. Tapi kita nggak mau berzinah.”
“Egh.. gini aja Ron. Tante akan.. ugh.. mengulum punyamu. Turunlah sebentar..!”
Dan aku pun menurut, turun dari atas Tante dan telentang. Tante bangkit lalu memutar badannya dan mengangkangiku. Mulutnya ada di atas zakarku dan vaginanya di atas wajahku. Kurasakan ia mulai menggenggam dan mengulum ‘garuda perkasa’-ku. Dikulum dan digerakkan naik turun di mulutnya.Shiit.. hsshh.. nikmat sekali. Jemariku segera menangkap pinggulnya yang bergerak maju mundur dan segera kuselipkan empat jari kanan ke vaginanya. Kugerakkan cepat, malah agak kasar, keluar masuk sampai basah semua.
“Ugh.. uughh.. uagh.. Ron..! Ron, Tante mau keluar, mm.. mm..” Tante terus mengulum sambil meracau.
Sekejap kemudian tubuhnya berhenti bergerak, lalu pinggul yang kupegangi terasa berkejat-kejat. Kemudian cairan hangat membanjiri tanganku dan sebagian menetesi dadaku. Kurasakan cairan itu seperti air maniku hanya lebih encer dan bening.Tante kemudian terkapar kelelahan di atasku dengan posisi mulutnya tetap mengulum zakarku sambil mengocoknya. Tidak berapa lama, aku pun merasa mau keluar.
“Egh.. egh.. Tante. Aku mau keluar..!” Tante malah mempercepat kocokannya dan memperdalam kulumannya.
Aku berkejat dan muncrat memasuki mulut Tante dan ditelannya, semuanya habis ditampung mulut Tante. Akhirnya aku pun lemas dan ikut menggelepar kelelahan.Tangan-kakiku terkapar lemas ke kiri-kanan. Tante juga terkapar kelelahan namun mulutnya masih terus menjilati zakarku sampai bersih, barulah kemudian dia berbalik dan memelukku. Wajah kami berhadapan, mata Tante merem-melek.“Kalau yang barusan ini bukan zinah tante?” tanyaku lagi.
“Bukan, Ron.. karena kamu tidak memasukkan burungmu ke vagina Tante.” jawabnya sambil mata memejam.
Aku tidak tahu apakah jawabnya itu benar atau salah. Namun, setelah kupikir-pikir, aku lalu bertanya lagi, “Jadi kalau begitu, boleh dong kita melakukan lagi seperti yang barusan ini, Tante?”
“He-eh..” jawabnya sambil terkantuk-kantuk kemudian dengkur kecilnya mulai terdengar lagi.Jam enam pagi waktu itu. Aku pun segera menebarkan selimut lagi di atas tubuh polos kami dan memeluknya dengan ketat. Rasanya aku tidak mau melepaskan tubuh Tante walau sekejap pun. Persetan dengan pekerjaan, persetan dengan kuliah. Sengaja aku juga tidak mengingatkan Tante akan pekerjaan kami. Aku malah berharap menginap lagi semalam, biar ada kesempatan bersebadan dengan Tante lebih lama lagi. Sepanjang hari ini aku mau bercumbu terus dengan Tante, sampai spermaku keluar sepuluh kali lagi! Begitu angan-angan jorokku.Ya, akhirnya memang kami hari itu tidak keluar kamar dan memperpanjang menginap sehari lagi. Selama di dalam kamar, di atas ranjang, kami tidak pernah mengenakan pakaian barang selembar pun. Hampir setiap tiga jam sekali aku dan Tante sama-sama mengalami orgasme, meskipun hanya pakai bantuan tangan atau mulut dan lidah.Jam delapan pagi, sebelas, dua siang, lima sore, delapan malam, sebelas malam, dua pagi, lima pagi dan delapan paginya lagi kami selalu terkejat-kejat dan orgasme hampir bersamaan. Selama itu memang Tante masih selalu ingat untuk menolakku yang ingin memasukkan penisku ke vaginanya, dan aku pun menurutinya.Namun, akhirnya Tante terlena dan aku pun bebas memasukkan penisku ke vaginanya. Tentunya setelah kami pulang dari perjalanan bisnis berkesan itu, dan kembali pulang ke rumah. Kesempatan itu terbuka lebar karena memang aku suka tinggal di rumahnya.


Cerita tante bispak

Cerita seru Tante Anne

Cerita ini terjadi saat aku masih berusia 16 tahun, dan masih bersekolah di salah satu SMA di Medan. Namaku Chris, aku peranakan Canada-Chinese. Papaku berasal dari Canada, dan Mamaku Chinese Indonesia. Kata teman-teman wajahku sih lumayan ganteng, ehmm. Tinggiku 180 cm, nggak begitu tinggi dibandingkan dengan Papa yang 185 cm. Aku lahir di Canada, tapi sewaktu umur 10 tahun, Papa ditugaskan ke Medan, Indonesia. Jadi aku juga ikut, dan bersekolah di sana. Mula-mula terasa asing juga kota ini bagiku. Tapi lama kelamaan aku juga dapat terbiasa. Terus terang, pemikiranku lebih condong kepada pemikiran-pemikiran Timur, mungkin karena didikan Mama yang keras. Biarpun di negara-negara Barat sudah biasa terjadi hubungan seks remaja, namun aku belum pernah melakukannya dengan pacarku, well… at least pada saat itu. Hari kedua di Jakarta, aku minta diantar oleh supir ke rumah Tante Anne. Rumahnya terletak di salah satu kompleks perumahan di Jakarta Selatan. Sebelumnya Mama sudah menelepon dan memberitahukan kepadanya bahwa aku akan datang pada hari itu.
“Hai… wahh sudah besar sekali kamu sekarang yah Chris… sudah nggak tanda lagi Tante sama kamu sekarang… hahaha”, seingatku kira-kira begitulah katanya sewaktu pertama kali melihatku setelah sekian tahun nggak jumpa. Wajahnya masih saja sama seperti yang dulu, seakan dia tidak bertambah tua sedikitpun. “Oh yah… tuh supirnya disuruh pulang saja Chris… ntar kamu bawa saja mobil Tante kalau mau pulang”, aku pun mengiyakan, dan menyuruh pulang supirnya.
“Wah… besar sekali rumahnya yah Tante”, kataku sewaktu kami memasuki ruang tamu. Aku dengar dari Mama sih, katanya suaminya Tante Anne ini anak salah seorang konglomerat Jakarta, jadi nggak heran kalau rumahnya semewah ini. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol, dia menanyakan keadaan Mama, Papa dan kakek. Tante Anne juga sudah lama tidak bertemu dengan Mama. Lumayan lama kami ngobrol, setelah itu dia mengajakku untuk makan malam.
“Makan dulu yuk Chris… tuh sudah disiapin makanannya sama si Ning”, katanya menunjuk ke pembantunya yang sedang menghidangkan makanan di meja makan.
“Kita nggak nunggu Om Joe?” aku menanyakan suaminya.
“Oh… nggak usah, Om mu nggak pulang malam ini katanya”,
“Oh… ok deh”, kataku sambil beranjak ke ruang makan. Rumah sebesar ini cuma dihuni sendirian dengan pembantunya. Berani juga Tanteku ini.
“Kamu berani pulang entar Chris? sudah malem loh ini”, katanya sambil melirik ke jam dinding yang sudah menunjukkan jam 7 lewat 30 menit.
“Ah berani kok Tante…”
“Hmm… mending kamu tidur di sini saja deh malem ini… tuh ada kamar kosong di atas.”
“Umm… iyah deh… ntar aku telepon ke Kakek kalau gitu”, dalam hati, aku mengira bahwa Tanteku ini menyuruhku menginap karena dia takut sendirian di rumah, sama sekali tidak ada pikiran negatif dalam otakku sewaktu aku mengiyakan tawarannya. Sehabis makan, aku pun menelepon ke rumah kakek, dan memberitahu bahwa hari ini aku menginap di rumah Tante Anne.
“Oh iyah… kalau kamu mau mandi air panas, pakai saja kamar mandi Tante. Ntar kamu pakai saja bajunya Om Joe. Yuk sini!”
“He… eh”, aku mengangguk sambil mengikutinya. Kamar mandi yang dimaksud terletak di dalam kamarnya. Kamarnya benar-benar mewah dan besar. Dengan tempat tidur ukuran double di tengah-tengah ruangan, mini theatre set, dan sebuah kamar mandi di sudut ruangan.
“Nih… coba… bisa pakai nggak kamu?” dia memberikan T-shirt dan celana pendek kepadaku.
“Bisa kayaknya”, aku pun mengambil pakaian itu dan membawanya ke kamar mandi. Sehabis dari kamar mandi, aku sempat sedikit kaget melihat Tante Anne. Dia mengenakan baju tidur tipis, tidur tengkurap di atas tempat tidur. Kelihatan dengan jelas celana dalamnya, tapi aku tidak melihat tali BH di punggungnya. Terangsang juga aku melihat pemandangan seperti itu. Kelihatannya ia tertidur saat menonton TV. TV-nya masih menyala. Aku berjalan ke arah TV, bermaksud mematikannya. Melihat adegan panas yang sedang berlangsung di TV, mendadak aku terdiam pas di depan TV. Kulihat ke belakang, Tante Anne masih tidur. Aku berdiri menonton dulu, sekedar iseng. 5 menit lagi ah baru kumatikan, begitu pikiranku saat itu.
“Hey…” saat aku sedang asyik menonton, tiba-tiba terdengar teguran halus Tante Anne, diikuti oleh tawa tertahannya. Aku benar-benar malu sekali waktu itu. Aku berbalik ke belakang sambil tersenyum malu-malu. Waktu aku berbalik, kulihat Tante Anne sudah duduk tegak di atas tempat tidur. Samar-samar terlihat puting susunya dari balik baju tidurnya yang tipis.
“Kirain Tante sudah tidur… hehe”, kataku asal-asalan sambil berjalan hendak keluar dari kamar.
“Chris… bisa tolong pijitin badan Tante? Pegel nih semua”, terdengar suara helaan nafas panjang, dan suara kain jatuh ke lantai. Saat aku berbalik hendak menjawab, kulihat Tante Anne sudah kembali tidur tengkurap di tempat tidur, tapi kali ini tanpa baju tidur, satu-satunya yang masih dikenakannya adalah celana dalamnya.
“Ya…” hanya itu saja yang bisa keluar dari mulutku. Aku pun berjalan ke arah Tante Anne. Sedikit canggung, kuletakkan tanganku di atas bahunya. “Engghh…” terdengar dia mengerang perlahan.
“Om Joe kapan pulangnya Tante?” kuatir juga aku ketahuan oleh suaminya.
“Emm… mungkin minggu depan… nggak tau deh… kalau Om mu sih… jarang di rumah. Mungkin seminggu pulang sekali”, dalam hatiku merasa kasihan juga kepada Tante Anne. Pantas saja dia merasa kesepian. “Fhhuuuhh…” kembali terdengar helaan nafas panjang. “Kamu sudah punya pacar Chris?” tanyanya memecah keheningan.
“Yah… di Medan.”
“Hehehe… cantik nggak Chris?” Tante Anne memang dari dulu senang bercanda. Sangat berbeda dengan ibuku yang kadang bersikap agak tertutup, Tante Anne adalah penganut kebebasan Barat. Aku hanya tersenyum saja menjawab pertanyaannya. “Turun dikit Chris!” aku pun menurunkan pijatanku dari bahu ke punggungnya. “Kamu duduk saja di atas pantat Tante… supaya bisa lebih kuat pijitannya.” Aku yang semula mengambil posisi duduk di sampingnya, sekarang duduk di atas pantatnya. “Unghh… berat kamu”, mendengus tertahan dia waktu kududuk di atasnya.
“Hehehe… tapi katanya suruh duduk di sini”, cuek saja aku melanjutkan pijatanku. Penisku sudah terasa menegang sekali, sesekali kutekan kuat-kuat penisku ke pantat Tante Anne. Walaupun aku masih memakai celana lengkap, namun sudah terasa nikmat dan hangat sewaktu penisku kutekan ke pantatnya.
“Iiihh… nakal ya… bilangin Mama kamu lho”, katanya sewaktu merasakan penisku menekan-nekan pantatnya.
“Sudah belom Tante? sudah cape nih”, kataku setelah beberapa menit memijat punggungnya.
“Iyah… kamu berdiri dulu deh… Tante mau balik”, aku berdiri, dan Tante Anne sekarang berbalik posisi. Sekarang aku bisa melihat wajahnya yang cantik dengan jelas, payudaranya yang masih kencang itu berdiri tegak di hadapanku. Puting susunya yang merah kecoklatan terlihat begitu menantang. Aku sampai terbengong beberapa detik dibuatnya.
“Hey… pijit bagian depan dong sekarang”, katanya.
Aku duduk di atas pahanya, kuremas dengan lembut kedua payudaranya. Lalu kupuntir-puntir puting susunya dengan jari-jariku. “Ihh… geli… hihihihi…” dia cekikikan. Aku benar-benar sudah tidak bisa mengendalikan nafsuku lagi. Sekarang ini yang ada dalam otakku hanyalah bagaimana memuaskan Tante Anne, memberinya kepuasan yang selama ini jarang ia dapatkan dari suaminya. Rasa kasihan akan Tante Anne yang telah lama merindukan kehangatan laki-laki bercampur dengan nafsuku sendiri yang sudah menggelora. Aku menarik celana dalamnya dengan agak kasar. Kulihat dia hanya diam saja sambil memejamkan matanya pasrah. Kuakui inilah pertama kalinya aku melihat wanita telanjang secara nyata. Tapi agaknya aku tidak begitu canggung, sepertinya aku melakukan semuanya dengan begitu alamiah. Tante Anne membuka lebar kedua pahanya begitu celana dalamnya kulepas. Kulihat dengan jelas vaginanya dengan bulu-bulu halus yang dicukur dengan rapi membentuk segitiga di sekitarnya. “Sudah sering beginian yah kamu Chris?” tanyanya heran juga melihat aku begitu mantap. “Ehh… nggak kok… baru sekali Tante”, nafasku sudah memburu, kata-kata pun sudah sulit kuucapkan dengan tenang. Kulihat nafas Tante Anne juga sudah mulai memburu, berkali-kali ia menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. “Jilatin dong Chris!” katanya memelas. Mulanya aku ragu-ragu juga, tapi kudekatkan juga kepalaku ke vaginanya. Tidak ada bau tidak enak sama sekali, Tante Anne rajin menjaga kebersihan vaginanya aku kira. Kujulurkan lidahku menjilati dari bawah menuju ke pusar. Beberapa menit aku bermain-main dengan vaginanya. Tante Anne hanya bisa mengerang dan menggelinjang kecil menahan nikmat. Kulihat ia meremas sendiri buah dadanya dan memuntir-muntir sendiri puting susunya. Aku berdiri sebentar, melepaskan semua pakaianku. Bengong dia melihat penisku yang 18 cm itu. Aku cuma tersenyum kepadanya, dan melanjutkan menjilati vaginanya. Beberapa saat kemudian ia meronta dengan kuat.
“aahh… ohh God… aargghh…” bagaikan gila, dia menjepit kepalaku dengan pahanya, lalu menekan kepalaku supaya menempel lebih kuat lagi ke vaginanya dengan dua tangannya. Aku susah bernafas dibuatnya.
“Lagi… arghh… clitorisnya Chriss… ssshh… yah… yah… lagi… oooohh…” semakin menggila lagi dia ketika aku mengulum clitorisnya, dan memainkannya dengan lidahku di dalam mulut. Aku memasukkan lidahku sedalam-dalamnya ke dalam lubang vaginanya. Bau cairan kewanitaan semakin keras tercium. vaginanya benar-benar sudah basah. Tiba-tiba dia menjambak rambutku dengan kuat, dan menggerakkan kepalaku naik turun di vaginanya dengan cepat dan kasar. Lalu ia menegang, dan tenang. Saat itu juga aku merasa cairan hangat semakin banyak mengalir keluar dari vaginanya. Aku jilati semuanya. “Ohh… God… bener-benar hebat kamu Chris… lemas Tante… aahh… nggak kuat lagi deh untuk berdiri… shitt… sudah lama nggak begini”, dia terbujur lemas setelah 1/2 jam yang melelahkan itu. Aku cuma tersenyum. Perlahan kutarik kedua kakinya ke tepi tempat tidur, kubuka pahanya selebar-lebarnya dan kujatuhkan kakinya ke lantai. Vaginanya sekarang terbuka lebar. Nampaknya ia masih terbayang-bayang atas peristiwa tadi dan belum sadar atas apa yang kulakukan sekarang padanya. Begitu ia sadar penisku sudah menempel di bibir vaginanya.
“Ohh…” ia cuma bisa menjerit tertahan. Lalu ia pura-pura meronta tidak mau. Aku juga tidak tahu bagaimana cara memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Aku sering lihat di film-film, dan mereka melakukannya dengan mudah. Tapi ini sungguh berbeda. Lubangnya sangat kecil, mana mungkin bisa masuk pikirku. Tiba-tiba kurasakan tangan Tante Anne memegang penisku dan membimbing penisku ke vaginanya.
“Tekan di sini Chris… pelan-pelan yah… punya kamu gede banget sih”, pelan ia membantuku memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Belum sampai seperempat bagian yang masuk ia sudah menjerit kesakitan.
“Aahh… sakitt… oooh… pelan-pelan Chris… aduuh….” tangan kirinya masih menggenggam penisku, menahan laju masuknya agar tidak terlalu deras. Sementara tangan kanannya meremas-remas kain sprei, kadang memukul-mukul tempat tidur. Aku merasakan penisku diurut-urut di dalam vaginanya. Aku berusaha untuk memasukkan lebih dalam lagi, tapi tangan Tante Anne membuat penisku susah untuk masuk lebih ke dalam lagi. Aku menarik tangannya dari penisku, lalu kupegang erat-erat pinggulnya. Kemudian kudorong penisku masuk sedikit lagi. “Aduhh… sakkkitt… ooohh… ssshh… lagi… lebih dalam Chriss… aahh”, kembali Tante Anne mengerang dan meronta. Aku juga merasakan kenikmatan yang luar biasa, tak sabar lagi kupegang erat pinggulnya supaya ia berhenti meronta, lalu kudorong sekuatnya penisku ke dalam. Kembali Tante Anne menjerit dan meronta dengan buas. Aku diam sejenak, menunggu dia supaya agak tenang. “Goyang dong Chris”, dia sudah bisa tersenyum sekarang. Aku menggoyang penisku keluar masuk di dalam vaginanya. Tante Anne terus membimbingku dengan menggerakkan pinggulnya seirama dengan goyanganku. Lama juga kami bertahan di posisi seperti itu. Kulihat dia hanya mendesis, sambil memejamkan mata. Tiba-tiba kurasakan vaginanya menjepit penisku dengan sangat kuat. Tubuh Tante Anne mulai menggelinjang, nafasnya mulai tak karuan, dan tangannya meremas-remas payudaranya sendiri.
“Ohh… ooohh… Tante sudah mau keluar nih… sshh… aahh”, goyangan pinggulnya sekarang sudah tidak beraturan. “Kamu masih lama nggak Chris? Kita keluar bareng saja yuk…. aahh”, tak menjawab, aku mempercepat goyanganku. “Aahh… shitt… Tante keluar Chrisss… ooohh… gile”, dia menggelinjang dengan hebat, kurasakan cairan hangat keluar membasahi pahaku. Aku semakin bersemangat menggenjot. Aku juga merasa bahwa aku bakal keluar tidak lama lagi.
“Aahh… sshh…” kusemprotkan saja cairanku ke dalam vaginanya. Lalu kucabut penisku, dan terduduk di lantai.
“Kamu hebat… sudah lama Tante nggak pernah klimaks.”
“aah… capek Tante.”
“Mandi lagi yuk… lengket-lengket nih jadinya”, ia berjalan ke kamar mandi dan aku mengikutinya. Kami saling membersihkan tubuh di bawah siraman shower. Setelah mandi, kami tidur-tiduran tanpa busana, berciuman, sambil ngobrol macem-macem. VCD porno yang tadi sudah habis rupanya. Tante Anne menggantinya dengan VCD yang lain.
“Eh… yang ini bagus loh Chris”, lalu ia menghidupkannya. Filmnya tentang seorang gadis yang diperkosa, sedikit sadis menurutku, tapi sangat merangsang sekali. “Tante sudah lama kepengen coba yang seperti itu Chris… kalau Om mu sih… nggak ada seninya… taunya cuman goyang, nembak, tidur… susah juga hahaha… kamu mau coba nggak?” dia tersenyum melihatku.
“Hehehe… terserah…”
“Ok!” lalu ia berjalan ke lemarinya. Sewaktu ia membukanya, aku terkejut juga melihat begitu banyak Sex Stuff seperti vibrator, tali, handcuff, dan banyak lagi.
“Wah… banyak amat peralatannya Tante”, kataku bercanda.
“He eh… yah beginilah… soalnya Om kamu jarang pulang sih. Tante kan butuh seks juga. Yah… terpaksa harus bermain dengan fantasi sendiri.”
“Hehehe”, aku cuma tertawa kecil. Kulihat ia mengambil tali dari lemari.
“Nih… kerjain Tante seperti yang di film itu dong Chris!” ia melemparkan tali itu kepadaku dan berjalan ke arah tempat tidur. Tempat tidur itu bergaya Eropa pertengahan, mempunyai pagar rendah berjeruji di sisi atas dan bawah. Ia memegang pagar berjeruji itu. Aku mengikat tangannya di jeruji itu, ia sekarang membungkuk membelakangiku dengan tangan terikat. Aku berjongkok dan mulai menjilati vaginanya untuk pemanasan.
“Sssh… oouhh…” kembali kudengar erangannya. Setelah beberapa saat vaginanya mulai basah. “Pakai vibrator Chris!” aku berjalan ke lemari dan mengambil vibrator yang berbentuk seperti penis manusia itu. Hati-hati kumasukkan vibrator itu ke dalam vaginanya, lalu kugeser switch ke posisi “low”. Terdengar vibrator itu mulai berdengung halus.
“Ouuh… aahh…” kelihatannya Tante Anne sangat menikmati permainan. Tempo permainan sangat lambat kali ini. Ia menggelinjang sedikit mengiringi dengungan halus vibrator. Sambil sebelah tanganku memegangi vibrator supaya tidak lepas dari vaginanya, aku memberinya tepukan di paha, memberinya tanda agar ia membuka pahanya selebar-lebarnya. “Jilat anus Tante Chris!” kembali ia memberi komando. Aku mulai menjilati pahanya yang putih dan jenjang, perlahan berpindah ke anus. Bosan menjilati anusnya, aku berdiri, memeluknya dari belakang, dan meremas payudaranya dengan sebelah tanganku yang masih bebas. Beberapa saat kemudian ia orgasme. Lalu ia menyuruhku memasukkan penisku ke dalam lubang anusnya. Aku sempat terkejut mendengarnya. Menurutku pasti akan sakit sekali penisku dijepit oleh lubang anusnya. Tetapi Tante Anne terus-terusan meminta dengan suara yang memelas.
“Tante sudah pernah nyoba?” tanyaku ragu-ragu.
“Pernah… pakai vibrator… cobain saja deh… lebih sempit loh di sini… Tante kepingin nyoba dimasukin 2 lubang sekaligus.”
“Ok!” aku kembali membungkuk, kujilat bagian sekitar anusnya untuk melicinkannya. Kulihat Tante Anne merintih-rintih ketika vibrator kugoyang agak cepat, tetapi ia tidak bisa banyak meronta karena tangannya masih terikat kuat ke jeruji tempat tidur. Setelah merasa jalan masuk cukup licin aku pun mengambil ancang-ancang, kugesek-gesekkan dulu kepala penisku di sekitar anusnya.
“Yahh.. langsung saja Chriss”, Tante Anne yang sudah tidak sabar, memundur-mundurkan pantatnya agar penisku bisa segera masuk ke dalam lubang anusnya. Kutarik vibrator yang masih saja berdengung itu dari belakang, supaya pantat Tante Anne makin menempel ke kepala penisku. Akibatnya vibrator itu melesak makin dalam ke vaginanya Tante Anne.
“Aahh… ooohh… sshh…” semakin menggila saja dia. Pelan kudorong kepala penisku ke dalam lubang anusnya.
Kepala penisku terasa sedikit pedih, aku menghentikan dorongannya sejenak. “Oooohh… yahh… terussss… deeper Chriss….”
“Sssshh… oooohh…” aku hanya bisa mendesis menahan pedih yang bercampur nikmat ketika penisku masuk kira-kira setengah bagian ke dalam lubang anusnya. Menurutku masuk melalui lubang anus tidak begitu nikmat, karena tidak ada cairan yang melicinkannya. Tapi kulihat Tante Anne bagaikan sedang terbang sekarang. Nikmat sekali katanya. Kukira itu karena dua lubangnya sedang terisi. Tante Anne terus saja menggoyang-goyang pinggulnya kebelakang supaya penisku dapat masuk lebih dalam ke dalam lubang anusnya. Aku tidak dapat menahan lagi goyangannya, kubenamkan sekuat tanaga penisku ke dalam anusnya. Rasanya seperti penisku sedang di massage dengan kuat di dalam. Tanpa sadar, karena menahan nikmat tanganku menggoyang-goyangkan vibrator itu dengan kencang. Tempo permainan berubah menjadi liar sekarang. Tangan Tante Anne mencengkeram jeruji tampat tidur dan menggoyangnya karena nikmat yang tak terkira. Aku mencoba menggoyang penisku di dalam anusnya. Memang sedikit pedih karena kurangnya cairan pelicin di dalam anusnya, tapi aku tidak peduli lagi. Sesekali kugunakan tangan kiriku untuk meremas payudaranya yang tergantung-gantung itu. Beberapa saat kemudian aku merasa mau orgasme.
“Aahh… oouuhh… Tante sudah mau keluar belum?” tanyaku dengan nafas memburu.
“Engggh… sssssh… iyah…” Kurasakan Tante Anne semakin menggila menggoyang pinggulnya. Kemudian dia tubuhnya menegang, kemudian terkulai lemas. Aku pun merasa maniku sudah di ujung-ujungnya. Kupercepat goyangan, kuremas payudaranya dengan kasar, dan kukocok vibratornya lebih cepat lagi. Kulihat Tante Anne menjerit-jerit, tapi ia tak bisa berbuat banyak karena tangannya terikat dengan kuat.
“Arrrgghh… ooohh…” seiring dengan eranganku, kusemprotkan maniku ke dalam anusnya. Kali ini kurasakan maniku keluar banyak sekali. Lalu kucabut penisku dari dalam anusnya, dan kucabut vibrator dari vaginanya. Sekilas kulihat vagina dan anusnya merah sekali dan sedikit membengkak. Kubuka ikatan tangannya dan dia memeluk serta menciumiku. Lalu kami berdua tertidur di lantai. Pengalaman ini tak akan pernah kulupakan. Sampai sekarang kami kadang-kadang masih melakukannya. Tante Anne benar-benar seorang seks maniak yang tak bisa puas, setiap kali berhubungan selalu ada saja cara-cara baru yang ia ajarkan. Kukira ini juga mempengaruhi tingkah laku seksualku. Sampai sekarang aku senang melakukan hubungan seks dengan fantasi tinggi, seperti menggunakan tali, cambuk, handcuff, dan sebagainya. Aku menjadi senang menyiksa lawan mainku. Sepertinya puncak kenikmatanku sulit tercapai kalau aku tidak melakukannya.


Cerita tante bispak

cerita seks-Den, Tante titip Aryo

Siang itu udara panas sekali. Sepulang kuliah aku langsung masuk ke dalam kamarku, dan tiduran di atas ranjang. Tak berapa lama aku tiduran, terdengar ketukan pada pintu kamarku.
"Deni, kamu ngapain?" terdengar suara Tante Ida, ibu kost-ku, "Tidur ya?"
"Oh, enggak kok Tante", jawabku sambil membuka pintu kamar.
"Ada apa Tante?" tanyaku.
"Begini nih Den, nanti malem Tante harus berangkat ke Palembang."
"Ada acara apaan nih Tante?"
"Sepupu Tante menikah."
"Ooo gitu, trus apa hubungannya dengan saya, Tante? Tante mau ngajak saya ke Palembang ya?" tebakku asal.
"Bukan, ah kamu ini, Den. Ngg.. Tante mau nitip si Aryo ke kamu, soalnya Tante pergi dengan Oom, dan si Aryo nggak Tante ajak, kan dia harus sekolah."

Kemudian tiba-tiba Aryo nyelonong masuk kamar.
"Ada apaan nih Ma? Kok kelihatannya sedang ngobrol serius?"
"Ah, kamu ini!", kata Tante Ida, "Selalu saja pengen tahu urusan orang."
Aku hanya tersenyum sambil memandangi bocah kelas 2 SMU itu.
"Duduk sini, Aryo", kataku sambil menarik tangannya.
"Begitu lho, Den!" kata Tante Ida, "Soalnya dari anak-anak yang kost di sini, kamu yang paling sering di rumah, dan juga kamu yang paling lama di sini, kamu sudah Tante anggap seperti kakaknya Aryo."
"Ah, Tante ada-ada saja", kataku.
"Lho, apa hubungannya dengan saya?" tanya Aryo.
"Gini lho Aryo, 'ntar malam Mama ke Palembang sama Papa kamu. Trus, kamu nggak boleh ikut soalnya kamu nggak libur."
"Ooo soal itu", kata Aryo.
"Gimana Den? Tolong Tante ya?" pinta Tante Ida.
"Beres deh Tante, 'ntar kalo si Aryo nakal biar Deni cubit", kataku sambil menggelitiki pinggang Aryo.
"Makasih Den."

Akhirnya Tante Ida dan Suaminya naik kereta api ke Jakarta malam itu. Aku dan Aryo mengantarnya hingga ke Stasiun Tugu. Dalam perjalanan pulang aku bercakap-cakap dengan Aryo.
"Mas Den, Mama tadi siang ngomong apa aja tentang Aryo?"
Aku tersenyum, "Lho memangnya kenapa?", aku balik bertanya.
"Nggak pa-pa sih, Aryo kira Mama ngomong yang aneh-aneh tentang Aryo ke Mas Deni", kata Aryo.

Kupandangi bocah kelas 2 SMU itu, manis banget nih anak, pikirku. Kulitnya putih bersih, tinggi, dan badannya sedang.
"Lho, kenapa Mas Den? Kok ngeliatin Aryo aneh gitu?"
Aku tersenyum, "Nggak, Mas Deni pikir setelah diliatin lama-lama kamu kok nggak mirip ama mama papa kamu.. tapi mirip sapi!" kataku mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Sialan Mas Deni!", maki Aryo.
"Eh, Mas Den, tadi temen Mas nelpon, namanya Reza."
"Oh ya? jam berapa dia nelpon?"
"Tadi pas Mas Deni kuliah, pesennya gini, VCD-nya udah dateng sekarang di tempat si DJ", kata Aryo.
"Oke, makasih. Tar habis ini saya mau ke tempat DJ", kataku.
"Udah, sekalian aja ini mumpung sedang jalan nih", kata Aryo.
"Nggak pa-pa nih? Kamu nggak keburu ngerjakan PR kan?" tanyaku.
"Ah, nyantai aja Mas Den, Aryo nggak ada PR kok", kata Aryo.

Aku membelokkan motorku menuju rumah DJ. Malam itu rasanya dingin sekali, jalanan basah karena hujan beberapa saat yang lalu. Aryo berpegangan erat di pinggangku, jantungku berdegup, namun aku berusaha biasa aja. Sesaat kemudian kami sudah sampai di rumah DJ. Setelah kutekan bel sekali, kakaknya mucul dengan ditemani Billy, anjingnya.
"Nyari DJ ya?" tanya kakaknya.
Aku mengangguk.
"Masuk aja, dia ada di kamarnya", kata kakaknya sekali lagi.

Kemudian aku segera masuk, menaiki tangga, dan Aryo mengikutiku dari belakang, kuketuk pintu kamar DJ.
"DJ, kamu di dalam?" kataku.
"Masuk Deni, ini ada Reza", katanya dari dalam kamar.
Sepertinya mereka sedang nonton VCD yang diomongin Reza tadi siang di telepon.
"Mendingan kamu beresin semua yang aneh-aneh, soalnya saya nggak sendirian!" kataku sambil tetap di depan pintu kamar DJ yang tertutup.
Aryo menjawil pinggangku, "Kenapa sih Mas Den?"
Aku hanya tersenyum, "Ah anak kecil mau tau urusan orang dewasa aja!"

Tak lama kemudian pintu kamar DJ terbuka, dan terlihat kamarnya yang berantakan. Reza sedang duduk-duduk sambil membaca majalah.
"Aneh banget nih posisinya?" kataku meledek mereka.
Reza mencibir, "Biarin", katanya.
"Eh Den, kamu sama sapa nih?" kata Reza sambil senyum-senyum kepada Aryo.
"Iya nih, kok ada brondong nyasar", timpal DJ.
Aryo keliatan sedikit bingung, tapi kebingungannya hanya sesaat karena ia sibuk mengamati kamar DJ yang aneh itu sambil melihat-lihat koleksi kasetnya.

"Heh denger ya, itu tuh anak Ibu Kost saya! Kalian nggak usah macem-macem deh."
"Mmm.. lumayan juga Den, mau dong semalem", bisik Reza.
"Matamu!" umpatku pelan.
"Lho, kok jadi marah?" tanya DJ.
"Soalnya saya juga mau", kataku tanpa rasa dosa, lalu kami bertiga tertawa keras-keras.
"Eh DJ, aku mo dipinjemin yang mana nih?" tanyaku.
"Enak aja minjem, ini tuh barang dagangan."
"Ayolah Jay..", rayuku.

Akhirnya rayuan gombalku membuahkan hasil. Kata DJ tiga film yang kupinjam bagus-bagus. Dan tak lama kemudian aku dan Aryo sudah berada di atas motor, pulang.
"Mas Den, Aryo boleh ikutan nonton?" tanyanya sambil senyum-senyum.
Aku menggeleng, "Jangan, kamu kan masih kecil!" kataku. Aku tidak mau dia tahu kalau ternyata yang di dalam VCD ini bukan seperti yang ada di benaknya.
"Ayolah Mas", pintanya.
Aku bingung, "Oke deh, tapi kamu pinjam aja satu, nonton sendiri aja di rumah, jangan di kamarku", kataku sambil menyusun rencana untuk minjem VCD porno yang biasa dari temanku.
"Asyik, makasih Mas!" katanya.
"Tapi besok aja, kamu kan malem ini harus belajar."
"Yahh, Mas Deni.."
"Udah besok aja", kataku. Dia agak sedikit kecewa.

Akhirnya kami sampai rumah, dan Aryo langsung masuk kamarnya di rumah induk. Kebetulan, pikirku. Aku segera menghidupkan TV dan menontonnya. Tidak berapa lama, perutku terasa sakit. Sepertinya karena aku makan sambel tadi sore, pikirku. Aku terburu-buru ke kamar mandi. Sekembalinya aku dari kamar mandi, aku terkejut ketika kudapati Aryo ada di dalam kamarku yang tadi lupa kukunci karena aku terburu-buru ke kamar mandi.

"Eh, Mas Deni, kok filmnya begini sih? Isinya kok cowok semua?", tanya Aryo.
Aku terdiam sesaat. "Iya nih, salah ngambil tadi.", jawabku sekenanya.
Mata Aryo terus saja mengikuti film yang sedang diputar tanpa berkedip. Sesekali dia menyentuh kemaluannya. Sepertinya dia menikmati filmnya, pikirku. Adegan di layar TV mulai memanas, satu persatu dari mereka mulai melepas celana dalam mereka. Aku duduk di sebelah Aryo, sambil kuelus punggungnya. Ia diam saja. Kulanjutkan elusanku di bagian dadanya yang bidang, turun ke perutnya, semakin turun. Aku menyentuh kemaluannya yang mengeras. Aku mencium bibirnya yang merah, sekali, ia diam saja.

Ketika kucium bibirnya untuk kedua kalinya, Aryo membalas, kaku. Sejenak aku memberinya kesempatan untuk bernafas. Kutindih Aryo di tempat tidurku, dan tanganku mulai mengusap-usap perutnya, dadanya. Aku mulai membuka kaos yang sedang dipakainya, dan terlihat dadanya yang bidang, kulitnya yang putih bersih. Aryo menggeliat-geliat ketika kuciumi lehernya. Kemudian Aryo membuka satu persatu kancing bajuku. Aku membiarkan ia melakukan hal itu. Kali ini Aryo berada di atasku. Aku membuka kancing celana jeans birunya, dan seketika itu pula kupelorotkan celananya. Terlihat celana dalamnya warna biru, dan sesuatu menonjol. Aryo mengerang keras ketika kupijat perlahan kemaluannya. Kuurut perlahan kemaluannya, dan dia tetap mengerang. Kuelus pantatnya yang padat berisi. Ketika itu dia telah berkutat dengan kancing celana jeans-ku. Segera saja dia memelorotkan celanaku. Kemaluanku sudah tegak berdiri di dalam celana dalamku.

Kemudian aku membuka celana dalamnya. Terlihat kemaluannya tegak seolah menantangku. Kukulum kemaluannya, dan kumainkan lidahku. Aryo menjerit tertahan. Ia memegangi kepalaku dan ingin mengulum kemaluanku yang tak kalah menantang, namun aku tak mau melepaskan kulumanku. Aryo memegang kedua pipiku, dan wajah kami sangat dekat saling berhadapan. Kami berciuman nikmat sekali, kemudian ia mencium leher dan dadaku, sambil mengelus ketiak dan punggungku. Lalu ia mengulum kemaluanku yang berbulu. Aku mengerjap-ngerjapkan mata, aku tidak tahan lagi, kuraih kemaluannya dan sesaat kemudian kami dalam posisi 69. Kukulum dan kuhisap kuat-kuat kemaluannya. Kulepaskan sesaat kulumanku pada kemaluannya.

"Aryo, Mas Deni mau keluar nih!" kataku.
Aryo tidak menghiraukanku. Ia hanya berkata tidak apa-apa. Lalu aku meneruskan menghisap kemaluannya, kumainkan lidahku. Tak berapa lama kurasakan sesuatu yang hangat mengalir di tenggorokanku, dia ejakulasi. Selang tak berapa lama, ketika aku sedang menikmati air maninya, aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, dan keluarlah seluruh spermaku. Kami berdua terengah-engah setelah pertandingan itu. Kemudian dia duduk di pinggir ranjangku sambil melihat adegan-adegan yang masih saja berlangsung di layar TV. Aku duduk di belakangnya sambil menciumi leher belakang dan punggungnya.

"Kenapa, Aryo? Kamu nyesel?" tanyaku.
Ia menggeleng perlahan sambil memandangi wajahku.
"Lalu kenapa?" tanyaku.
"Nggak kok Mas Den, nggak pa-pa", jawabnya sambil menunduk.
"Mas Deni tahu Aryo bohong, sekarang cerita kenapa? Kalo Aryo nyesel, Mas Deni minta maaf, kejadian ini bener-bener sebuah kecelakaan."
"Ngga pa-pa kok.." jawab Aryo.

Lalu ia terdiam sesaat. Aku bener-bener merasa serba salah saat melihat wajah imutnya agak murung kali ini.
"Jujur aja Aryo, ada apa?"
"Oke deh, Aryo akan jujur. gimana kalo kita main sekali lagi Mas Den?", tanya Aryo sambil tersenyum nakal.
Lalu tanpa di komando kamipun mengulangi permainan yang telah kami lakukan tadi, bahkan kali ini jauh lebih dahsyat dari yang pertama hingga kamipun seperti kehabisan tenaga saat permainan di ronde kedua, dan kamipun tidur pulas sambil berpelukan. Sejak kejadian itu, Aryo semakin dekat dengan saya dan kamipun sering mengulangi perbuatan yang pernah kami lakukan itu.

TAMAT

Teman Onani,cerita dewasa,cerita seks tante,cerita seks 2013, kumpulan cerita sex,cerita sex dewasa, cerita seks dewasa,tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis, cerita sex,cerita kenikmatan,cerita bokep,cerita ngentot,cerita hot, bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi,cerita seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita bokep 

gimana sudah hot ? ingin yang lebih hot ...? klik disini
Kumpulan cerita seks

Cerita Memek Tante Lidya Berdenyut


Cerita Memek - Cerita Sex. Di rumahku hanya ada pembantu, yang usianya sekitar 35 tahun, biasa dipanggil tante lidya. Tapi jangan kaget lho! badannya terawat dan masih kencang, walaupun kulitnya agak hitam (hitam manislah menurutku). Agak kaget juga saya, setelah dibukakan pintu, kulihat dia mengenakan baju kaos yang agak ketat dan rok putih yang selutut. Tetapi tonjolan di dadanya itu, membuat darahku berdesir cepat.


hot girl


Perlahan dilepaskannya roknya, dan terlihatlah pahanya yang mulus dengan celana dalam warna pink. Agak lama kupandangi, karena itu benar-benar pemandangan yang indah, dan kejantananku mulai membengkak di celanaku. Perlahan kupegang celana dalamnya, dan kudekatkan wajahku ke arah celana dalamnya. Wow.., baunya wangi sekali, mungkin dia baru mandi tadi.


“Sudah cukup kan..?” katanya sambil menjauhkan wajahku dari pahanya dan mencoba memakai roknya lagi.


Tetapi hal itu dengan cepat kucegah, “Ntar dulu tante, aku pingin lihat di balik celana itu, boleh ya..?” kataku membujuk.


“Yee.., sudah dikasih hati malah minta jantung..!” ucapnya sedikit menyindirku.


“tante tau nggak, jantungku debar-debar nih.., dan aku terangsang..” kataku mencoba menyatakan bahwa saya benar-benar terangsang.


Sambil bercanda dia menjawab, “Masak gitu aja terangsang, tante nggak percaya, kamu pasti cuma iseng, mau mempermainkan tante, ya..?” katanya membalas ucapanku.


“Kalau nggak percaya, coba lihat nih..!” kataku sambil menurunkan celana pendekku.


Dia agak kaget karena celana dalamku seperti penuh dan menonjol besar di bagian penisku.


“Bener juga, kamu nggak boong.., kamu terangsang ya..?” katanya melirikku nakal sambil tersemyum.



Agak lama dia melihatnya, kemudian mengelus dan mengusap-usap, dan mendekatkan wajahnya ke dekat celana dalamku.


“Sekarang kita sama-sama buka, gimana tante..?” kataku memberi tawaran gila.


Mungkin karena sudah terangsang dan sangat ingin melihat penisku, akhirnya dia mengangguk. Perlahan dia menurunkan celanaku, dan tampaklah kejantananku berdiri tegak dan siaga.


“Wow.. punyamu lebih besar dari yang tante bayangkan, tapi tante suka yang besar seperti ini.” katanya sambil mengelus, menyentuh kepala penisku dengan jarinya dan kemudian mengocoknya.


“Aahh.. ” saya mengerang nikmat, sementara dia terus mengocok sampai penisku terlihat memanjang maksimal.



Mungkin dia sudah tidak tahan, dia mulai mengulum dan meghisap penisku.


“ahh.. ah.. nikmat sekali..!” aku mendesis kenikmatan, sementara tanganku sudah membuka celana dalamnya.


Dan wow.., benar-benar pemandangan yang indah, bulu-bulu halus di sekitar memeknya yang kemerahan sangat merangsang birahiku. Jariku menyentuh dan menggesek bibir nonoknya.


“Oh.., ahh.., terus Mas, gesekin terus..! Ahh..!” suaranya mendesah-desah.


Kudekatkan wajahku ke tempiknya, menciuminya dan menjilatnya. Celahnya mulai agak basah, mungkin dia sudah terangsang hebat, sementara kemaluanku terus dikulumnya, bahkan sekarang lebih dahsyat sampai ke pangkalnya. Saya merasakan hangat mulutnya, dan kemaluanku seperti panas sekali dan mau mengeluarkan sesuatu. Tanpa dapat kutahan, spermaku muncrat di mulutnya untuk pertama kali.



“Ohh.. kamu udah keluar Mas.. enakk.., gurih..!” katanya sambil menjilat sperma yang keluar dari mulutnya, sementara lidahku terus bergerilia di celah vaginanya, bahkan lidahku berusaha masuk lebih ke dalam dan terus menyeruak di seluruh dinding memeknya.


“Ouch.. lebih dalam, Mas..!” pintanya sambil mendesis-desis.


Aku mendengar dia mendesis dan menyerocos tidak karuan, dan mulai mengocok kemaluanku lagi sehingga membesar kembali. Hanya dalam hitungan menit, punyaku sudah membesar lagi dan mencapai ukuran yang maksimal.


“Sekarang saya masukin ke meki tante aja, oke..?” kataku sudah tidak sabaran.


“ya Mas, tante juga sudah nggak tahan nich..!” katanya sambil membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga memeknya tampak membelah dan merekah.



Sambil memegang penisnku yang tegang, kuarahkan ke lubang tersebut. Sesaat kepala kontolku kugesekkan ke bibir memeknya, kemudian dengan sedikit ditekan, dan, “Bless..!” masuk seluruhnya ke dalam liang vaginanya.


“ahh.., terus Mas, lebih dalam..!” desisnya mengikuti gerakan masuknya batang kejantananku.


Aku pun semakin bersemangat menggenjotnya dan memaju-mundurkan kontolku di dalam nonoknya. Sementara tanganku tidak lepas memegangi puting toketnya yang mengencang.



Sekitar 10 menit dengan posisi tersebut, aku mengeluarkan kemaluanku yang masih menegang.


“tante, sekarang kita rubah posisi ya..? Pasti lebih nikmat..!” kataku ingin mencoba gaya lain.


“Posisinya gimana Mas..?” dia bertanya balik.


“tante menungging saja, kakinya diangkat sebelah dan letakkan di meja, dan tante membelakangi saya..!” saranku memberi penjelasan, dia menurut saja.



Cerita Sex Dia sudah mengambil posisi seperti itu dan aku dapat melihat celah vaginanya mengintip dari belakang. Dengan memegang kemaluanku yang tegang, kuarahkan ke celah itu. Dengan sedikit tekanan, kepala penisku masuk, dan masuknya terasa lebih sempit dari yang tadi. Sengaja tidak kumasukkan seluruhnya dan kutanya kepadanya, “Gimana..? Lebih enak kan..?” kataku.

“iyya lebih enak dari yang tadi, oh.., enak.., ahh..!” suaranya mendesah lagi.


“Ini belum seluruhnya lo tante, baru sebagian..!” aku mencoba menggodanya lagi.


“Masukin semua dong, Mas..! Biar terasa lebih enak lagi..!” pintanya.



Cerita Memek Dengan menekan lebih kuat, maka kemaluanku masuk seluruhnya. Dan oh.., betapa nikmatnya, serasa berada di awang-awang.

“Ah.., oh.., aah.., nikmat sekali, tekan lebih kuat Mas.., lebih dalam, ahh, ahh..!”


Sesekali dia menggoyang pinggulnya, dan ohh.., benar-benar luar biasa goyangan pinggulnya, punyaku seperti ditarik dan diurut-urut di dalam vaginanya.


“Oh.., ah.., aku tak ingin berhenti cepat-cepat, goyangin terus tante..!” kataku.



Sekitar 10 menit aku memaju-mundurkan kemaluanku ke tempiknya, rasanya saya sudah berada di puncak dan mau memuntahkan lahar.


“tante, aku sudah mau keluar nich..!” kataku.


Dia membalas, “Aku juga mau keluar nich. Kita keluar sama-sama ya..?” pintanya.


Dengan menggenjot lebih kuat agar cepat sampai ke puncak kenikmatan, maka kumulai menekan lagi lebih cepat. Dan akhirnya, “Ouc.., ah.., ah..” dengan erangan panjang, saya memuntahkan spermakau di memeknya.


Bersamaan dengan itu tante juga mengerang panjang, “Ouh.., ouc.., ah.., ah.., nikmat.. ah..”


Sementara di memeknya aku merasakan punyaku disemburi cairan memeknya, terasa begitu hangat.



Perlahan kutarik punyaku keluar, terlihat sudah mulai mengecil. Kami tergolek di tempat tidur dan saling berpandangan.



Cerita Sex

Cerita Tante Santi Doyan Sex


Cerita Tante - Cerita Sex ini terjadi beberapa tahun yg lalu, ini bermula saat aku sedang membantu sahabatku yg sedang melaksanakan persiapan pernikahannya di rumahnya. Lazimnya acara pernikahan pasti banyak orang yg turut membantu keluarga sahabatku itu, dari mulai tetangga sampai teman2 bermain sahabatku itu. Dari sekian banyak orang yg membantu itu ada salah seorang wanita yg menarik perhatianku. 


girl nude


Wanita ini memakai gaun pesta yg sangat anggun dan seksi, dia memakai gaun terusan warna ungu dengan belahan rok memanjang hingga sampai ke pertengahan pahanya. Bila dia berjalan pasti kulit mulus pahanya sekilas mengintip, membangkitkan gairah siapapun yg melihatnya, terutama aku sendiri. Wajahnya biasa saja tapi karena kulitnya putih mulus membuat gairahku bangkit, aku berkhayal seandainya aku bisa menyentuh kulit mulusnya itu aku pasti akan melakukan apapun yg diminta.



Aku berusaha mencari tahu siapa gerangan wanita itu. Rupanya dia adalah adik mamanya, umurnya kutaksir sekitar 30 thn-an dan dia telah mempunyai putra 2 orang. Suaminya tidak bisa hadir karena sedang mengurus bisnisnya di luar kota. Aku sering meliriknya terutama saat dia berjalan, putih pahanya menyilaukan mataku dan membangkitkan gairahku. Rupanya diam2 dia mengetahui kalau aku sering mencuri2 pandang terhadapnya. Suatu saat aku terpergok dirinya saat aku sedang melirik ke belahan dadanya yg sedikit telihat dari luar gaunnya, sontan aku sangat malu dan takut seandainya dia marah lalu mengadukan perbuatanku itu pada keluarga sahabatku itu, duuh malunya aku seandainya dia lakukan itu. 



Tetapi rupanya dia tidak marah, malah justru tersenyum saat dia mengetahui aku sedang mencuri pandang ke arah bagian tubuhnya. Bukan main senangnya hatiku saat mengetahui dia tidak marah karena kenakalan mataku, mudah2an ini pertanda baik bagiku, batinku berkata. Aku mencari cara agar aku bisa berdekatan lalu berkenalan dengannya, tapi karena keadaan yg serba sibuk saat itu membuatku tidak mempunyai kesempatan untuk mendekatinya.



Akhirnya kesempatan itu tiba saat aku diminta tolong oleh mamanya sahabatku untuk mengambilkan pesanan kue di toko langganan mamanya, dan yg membuat hatiku bersorak adalah kala mamanya menyuruh adiknya untuk mengantarku ke toko kue itu. Dengan menggunakan mobilnya kami berangkat hanya berdua, wah kesempatan emas nih, sorak batinku dalam hati.



Dalam mobil aku ingin memulai pembicaraan dan berkenalan dengannya tapi entah mengapa bibirku terasa kelu, aku jadi serba salah karena selama di mobil pahanya yg putih bersih tersingkap sebagian karena bentuk belahan gaun dan posisi duduknya yg seakan2 sengaja membiarkan pahanya terbuka. Sesekali aku melirik ke arah pahanya dan tanpa terasa adikku perlahan mulai bangkit, ini membuatku jadi salah tingkah. Dia rupanya diam2 juga memperhatikan tingkah lakuku dan semakin menggoda diriku dengan gerakan kakinya yg membuat belahan gaunnya semakin lebar terbuka, membuat pahanya semakin kian terlihat olehku.



"Hayo, tadi liatin apa waktu di rumah?" ucapnya memecahkan keheningan. Aku yg mendapat pertanyaan itu sontan memerah, aku tersipu tapi pura2 tidak mengerti apa maksud pertanyaanya itu.


"Kamu nggak usah bohong deh ama mbak, mbak tau kok tadi kamu ngelirik ke arah mbak terus, emang ada yg aneh ya..?" pancingnya kepadaku.


"Emm, nggak kok mbak, eh gimana ya mbak, aduh aku jadi nggak enak kalau mau terus terang ama mbak, takut mbak marah nanti" jawabku kikuk karena aku takut dia marah bila dia tau aku bernafsu oleh tubuhnya yg indah itu.


Dengan tertawa kecil dia mendesakku untuk mengatakannya, akhirnya dengan sedikit malu2 aku berterus terang bahwa aku suka melihat pahanya yg putih mulus itu. Selesai berkata begitu aku menjadi tambah gugup karena aku takut dia akan marah mendengar penjelasanku tadi. Tetapi dia hanya tertawa lalu tanpa kuduga sama sekali dia lalu berkata,Cerita Tante

"Emang kamu belum pernah megang paha cewek, kalau kamu mau megang pahaku pegang aja tapinggak boleh ngelantur megangnya ya.." katanya sambil tersenyum padaku.


"Bener nih mbak, mbak nggak marah.." jawabku memastikan ucapannya.



Dia tidak menjawab tapi tangannya langsung bergerak meraih tanganku lalu meletakkannyadi pahanya. Aku yg mendapat perlakuan seperti itu sontan menjadi lebih berani, kubelai pahanya dan kurasakan kulit mulusnya yg hangat menyentuh telapak tanganku. Kubelai2 pahanya dan sesekali kuremas gemas, lalu perlahan tanganku menelusup ke balik gaunnya merayap naik ke arah selangkangannya. Saat ujung jariku menyentuh kain penutup bagian paling sensitifnya, kudengar lenguhan tertahannya. Aku semakin bersemangat, perlahan kutelusupkan jariku ke pinggiran kain berendanya lalu mulai mulai memasuki celana dalamnya. Aku dapat merasakan bulu2 halus di sekitar vaginanya, tonjolan yg ada di dalam celana dalamnya kurasakan semakin keras mengacung. Aku menjadi semakin lupa diri, tapi saat jariku mulai menyentuh bibir vaginanya yg telah membasah, dia menahan tanganku lalu memberi isyarat keluar. Rupanya kami telah tiba di tujuan. Setelah merapikan gaunnya yg sedikit berantakan karena kenakalan tanganku tadi, kami beranjak keluar dari mobil lalu menuju ke toko kue langganan mama temanku dan mengambil kue pesanannya.



Dalam perjalanan pulang kembali ke rumah temanku aku ingin mengulang kembali usahaku tadi yg sempat terhenti, tetapi dengan halus dia menolakku dan mengatakan nanti saja lain hari dia akan mengajakku ke rumahnya guna menuntaskan hasrat kami yg sempat tertunda hari ini. Aku sangat senang mendengar ucapannya, lalu kucium pipinya dengan penuh gairah. Dia hanya tertawa kecil mendapat perlakuanku itu. Selama perjalanan kami hanya berbicara seadanya tapi tanganku sesekali mengelus paha mulusnya dan tangannya sempat beberapa kali meremas kejantananku seakan tak sabar ingin menikmatinya.


Namanya Santi, dia mengaku sering merasa kesepian karena suaminya jarang berada di rumah, suaminya adalah seorang pebisnis sukses yg mempunyai beberapa anak perusahaan sehingga dia lebih sering berada di luar rumah mengurus bisnisnya ketimbang istrinya yg seksi ini. Lalu kita saling bertukar nomer telepon dan dia berjanji akan menghubungiku nanti bila saatnya tepat.



Setelah kejadian itu aku selalu teringat akan dirinya dan berharap dia akan mengajakku main ke rumahnya lalu bercinta dengannya, aku tidak berani menghubunginya karena aku takut bila ada suaminya di rumahnya aku takut rencanaku bisa berantakan bila ketauan dengannya. Akhirnya Sinta menghubungiku, saat itu aku baru mandi pagi dan sedang bersiap akan keluar mencari pekerjaan karena saat itu aku masih pengangguran. Dia mengundangku untuk ke rumahnya, dia bilang anak2nya sedang sekolah dan pembantunya sedang pulang ke kampungnya kemarin menengok anaknya yg sakit. Saat ini dia sedang sendirian di rumah dan mengajakku memanfaatkan waktu yg ada bersama. Bukan main senangnya hatiku, dengan bergegas aku berpamitan pada orang tuaku, kukatakan aku akan pergi melamar kerja seperti biasanya.



Cerita Sex Singkat cerita sampailah aku di alamat rumah yg diberikannya, dia tinggal di sebuah komplek perumahan elit. Kulirik sesaat jam tanganku, jam 9 kurang, berarti ada waktu beberapa jam sebelum putra2nya pulang dari sekolah, pikirku. Kupencet bel rumahnya, lalu tak lama kemudian dari rumah itu terdengar sebuah suara yg kukenal tapi sosoknya tidak keluar rumah, yg menyuruhku untuk langsung masuk dan mengunci kembali pagar depan rumahnya. Setelah mengunci pagar aku langsung bergegas masuk ke rumahnya. Saat aku telah berdiri di hadapannya barulah kusadari ternyata dia hanya memakai gaun tidur yang sangat merangsang. Warnanya hitam dan ukurannya sangat pendek hingga sebagian pahanya dapat terlihat jelas olehku, dan yg paling membuatku bernafsu adalah ternyata dia tidak mengenakan apa2 lagi di balik gaunnya itu. Itulah sebabnya dia tadi tidak membukakan pagar rumahnya dan hanya berteriak menyuruhku masuk, rupanya dia telah merencanakan semua ini, batinku berkata.


Lalu tanpa dikomando kami bergerak saling rangkul dan bibirnya adalah sasaran pertamaku. Kami berciuman dengan sangat panas, lidah kami saling berbelit di dalam rongga mulut kami. Tangannya erat merangkul pinggangku, tangan kananku mengelus punggungnya dan tangan kiriku meremas bokongnya gemas. Sekitar lima menit-an kami bercumbu dengan posisi itu sampai dia melepaskan pagutannya pada bibirku lalu menyeretku menuju kamarnya yg terletak di tengah. Setelah menutup dan mengunci pintu kamar dengan nafas memburu dia lalu mulai mempreteli bajuku satu persatu sampai tak tersisa, akupun tak mau kalah kulepaskan gaun tidurnya sampai kami sama2 polos tanpa sehelai benangpun menempel di tubuh kami.


"Wow gede banget kontolmu Lingga, mbak pengen banget ngerasain kontolmu ini.." katanya sambil meraih kontolku dan dengan cepat dikulumnya. Aku hanya mendesah lirih saat bibir dan lidahnya bermain di kejantananku, kadang aku meringis nikmat saat lidahnya dengan lincah menggelitik ujung kontolku, membuat kejantananku semakin keras menegang.



Kepalanya bergerak liar maju mundur kadang berputar di kejantananku, menimbulkan sensasi nikmat yg sukar kuungkapkan dengan kata2. Sekitar 15 menit dia mengulum kontolku, lalu dia berdiri dan mengulum bibirku, kemudian dia beranjak ke ranjang, duduk di tepian ranjang sambil membuka kakinya lebar2. Aku mengerti keinginannya lalu aku berjongkok di depannya, kupandangi sejenak vaginanya sambil jariku meraba klitorisnya yg kulihat telah berdiri mengacung.



"Ayo sayang, jangan diliatin aja dong..cepet jilatin punya mbak, aku udah nggak tahan nih.." rintihnya memohon padaku untuk memulai aksiku sambil tangannya meraih kepalaku lalu didekatkan ke arah vaginanya. Dengan gerakan cepat dan tiba2 aku langsung menerkam klitorisnya dengan kedua bibirku lalu menguncinya erat. Lenguhannya keras terdengar saat aku lakukan itu.


"Aah sayang..kamu nakal ya, kamu ja..eugh" ucapannya terputus saat lidahku dengan gerakan cepat menyapu klitorisnya, kadang kutekan kepalaku ke arah vaginanya dan kutempelkan lidahku pada vaginanya rapat, lalu dengan gerakan cepat kugerakkan kepalaku berputar dengan posisi lidahku masih erat menempel di klitorisnya. Lenguhan dan erangannya semakin keras tersengar memenuhi seluruh ruang, nafasku dan nafasnya sudah sama2 memburu. Vaginanya semakin basah, cairan dari dalam vaginanya bercampur dengan air ludahku membuat vaginanya berkilat tertimpa cahaya lampu.



"Udah sayang..masukkan kontolmu, aku udah nggak tahan, aku mau..ughh.." rintihnya sambil tangannya menarik tubuhku naik, berharap aku segera memasuki tubuhnya. Tapi aku sengaja bertahan, aku ingin dia merasakan orgasme pertamanya dari permainan lidah dan bibirku. Kugencarkan seranganku pada vaginanya sampai kurasakan tiba2 tubuhnya menegang kaku, kedua pahanya erat menjepit kepalaku dan tangannya kuat meremas sprei. Diiringi jerit nikmat tubuhnya lalu menyentak liar tak terkendali, pinggulnya terangkat sejenak lalu tubuhnya lunglai, kedua kakinya lemah terbujur ke lantai. Matanya rapat terpejam dan bibirnya setengah terbuka menggumamkan erangan lirih. Aah rupanya dia telah mendapat orgasme pertamanya, pikirku senang.


Aku bergerak berdiri lalu kuangkat seluruh tubuhnya yg telah lunglai ke atas pembaringan, kemudian aku berbaring disisinya. Kupandangi wajahnya yg penuh keringat, kuseka keringat yg menetes di wajahnya lalu kukecup dahinya lembut. Mendapat perlakuanku itu matanya terbuka lalu bibirnya tersenyum, sambil mencubitku gemas dia memelukku erat.



"Kamu nakal ya, kamu bikin mbak keluar bukan pake kontolmu gede itu tapi malah pake bibirmu yg memble itu.." cibirnya seraya mencubit gemas pipiku.



"Tapi rasanya sama enak kan mbak" sahutku sambil meremas lembut dadanya.


Dia mencubit pipiku lagi lalu berkata, "Ternyata kamu pinter juga ya, hayoo ketauan kamu sering begituan ama cewek yaa.." selidiknya sambil memasang muka masam.



"Aah nggak kok mbak, aku cuma sering nonton film BF, jadi aku tau gimana cara muasin cewek" balasku menangkis tudingannya.


"Udah nggak apa2 kok, mbak malah senang kamu udah pinter, kan mbak nggak perlu ngajarin kamu lagi kan, naah sekarang mbak mau ngerasain kontolmu itu sayang.." sahutnya sambil tangannya meremas kontolku yg masih tegang dengan gemas.



Mendengar ucapannya itu aku langsung mencium dadanya, kuciumi kedua payudaranya dengan lembut tapi puting susunya sengaja aku tidak lumat, hanya aku sentuh dan gesek dengan bibirku sambil sesekali kugesekkan ujung hidungku pada puting susunya yg mulai mengeras. Dia hanya merintih geli saat kulakukan itu, lalu dengan gerakan cepat dan tiba2 aku menerkam puting susunya yg sebelah kiri dengan bibirku. Kugigit lembut putingnya dengan bibirku lalu kubuat gerakan memelintir puting susunya, tubuhnya tersentak sedikit saat kulakukan itu. Tangannya meremas rambutku lembut, mulutnya menggumamkan kata2 tidak jelas pertanda birahinya mulai beranjak naik lagi. Tanganku bergerak meremas dadanya yg sebelah kanan, lalu kupelintir puting susunya dengan dua jariku, perlahan kurasakan kedua puting susunya makin mengeras. Tangannya makin kuat meremas kontolku dan kurasakan sedikit sakit saat jarinya meremas kontolku dengan agak kuat, kugeser pantatku sedikit agar remasannya pada kontolku bisa sedikit berkurang.



Puas bermain di dadanya, kugeser tanganku perlahan menuruni tubuhnya, kuraba perutnya yg masih rata tanpa lemak walau sudah pernah melahirkan lalu semakin turun ke bawah ke arah vaginanya. Kakinya semakin dilebarkan saat jemariku sampai di daerah paling sensitif di tubuhnya. Jari telunjukku kuletakkan tepat di atas klitorisnya dan jari tengahku menyentuh permukaan bibir vaginanya yg telah mulai membasah lagi. Kugerakkan kedua jariku berirama dan kuhisap kuat2 puting susunya, perlakuanku itu membuatnya makin tidak mampu menahan diri. Tiba2 dia mendorong tubuhku lalu dengan cepat dia menaiki tubuhku.


"Kamu nakal..awas ya sekarang giliran kamu kubikin lemes.." ucapnya sambil memegang kontolku lalu diarahkannya ke arah vaginanya yg telah merekah basah. Setelah dirasa pas lalu dia menekan pinggulnya perlahan, erangan nikmat keluar dari mulut kami bersamaan saat kulit kelamin kami mulai bersentuhan, nikmat sekali. Karena vaginanya telah sangat basah maka dengan mudah seluruh kontolku dapat masuk ke dalam vaginanya, lalu pinggulnya mulai bergerak naik turun dengan cepat. Kuimbangi gerakan naik turunnya dengan arah berlawanan, jadi penetrasi yg terjadi semakin dalam dirasakannya. Kontolku terasa dijepit oleh vaginanya, aku tidak menyangka walaupun dia pernah melahirkan sampai 2 kali ternyata vaginanya masih sangat nikmat, mampu menjepit dan memberikan gesekan nikmat pada kontolku.



Suara berkecipak akibat kelamin kami yg beradu ditambah suara rintihan dan erangan nikmat dari mulut kami membuat suasana kamar menjadi semakin erotis. Kuremas kedua payudaranya yg bergelantungan di atas tubuhku, kupilin puting susunya kadang kutarik lembut hingga membuatnya makin tak mampu menahan diri. Beberapa menit kami melakukan ini, aku berusaha bertahan untuk tidak keluar terlebih dulu, karena aku ingin memberinya kepuasan ganda hari itu. Akhirnya puncak kenikmatan itu mulai dirasakannya, rintihan nikmatnya makin kuat terdengar.



"Uugh sayang, aku mau keluar lagi..eempf.." rintihnya, tangannya kuat mencengkeram dadaku dan kurasakan kukunya mencakar kulit dadaku. Dibarengi teriakan nikmatnya lalu tubuhnya menegang kaku sesaat, kedua matanya rapat terpejam dan mulutnya terbuka menggumamkan jerit kenikmatan. Mendengar rintihan nikmatnya membuatku tak mampu lagi menahan diri, aku juga mulai merasakan adanya aliran yg semakin kuat membuncah di kontolku seakan ingin meledak.



"Aah mbak..Santii..aku juga..aahh.." ucapku tersendat saat air maniku tak mampu lagi kubendung menyemprot kuat di dalam vaginanya. Mendapat semprotan air maniku yg kuat di dalam vaginanya membuat dirinya orgasme untuk ketigakalinya. Saat orgasmenya yg ketiga dia melumat bibirku dengan buas, teriakan nikmatnya tertahan di dalam mulutku bercampur dengan erangan nikmatku. Kami saling berpelukan erat menikmati sisa orgasme yg kami rasakan, kontolku masih tertancap kuat di dalam vaginanya. Bibirku dan bibirnya saling melumat, dengan mata terpejam kami menikmati sensasi nikmat ini.



Setelah rasa nikmat itu mulai mereda, tubuhnya bergulir lunglai ke sisiku. Kami memandangi langit2



Cerita Sex